Tag Archives: Cernak

BAJU PRAMUKA

Standar

Oleh Sardono Syarief

“Kloneng, kloneng, kloneng….!”lonceng yang tergantung di dekat pintu kantor guru memanggil anak-anak yang sedang istirakhat untuk kembali masuk ke ruang kelas masing-masing.
Sabtu siang itu pelajaran di kelas 6 SDN 02 Lumeneng adalah Seni Budaya dan Keterampilan (SBK). Bu Isti, guru kelasnya mengisi mata pelajaran tersebut dengan berbagai tanya jawab sehubungan dengan akan diberangkatkannya regu pramuka ke bumi perkemahan bulan Agustus mendatang.
“Selamat siang, Anak-anak!”demikian ujar Bu Isti ketika tiba di kelas. “Siapa di antara kalian yang masih ingat, tanggal berapa diperingatinya hari pramuka, Anak-anak?”
“Tanggal 14 Agustus, Bu!”jawab semua anak serempak.
“Bagus! Bagus! Kalian masih ingat betul, rupanya!”kata Bu Guru Isti memuji.
“Memangnya ada apa, Bu?”tanya Rijo sambil berdiri dari tempat duduknya, ingin tahu.
Sembari tersenyum simpul, Bu Is menjawab,“Untuk memperingati hari lahirnya pramuka tersebut, kita akan mengadakan kemah.”
“Kita akan berkemah, Bu?”tanya Mulyo dengan nada gembira.
“Ya, kita akan berkemah selama tiga hari, Anak-anak,”sahut Bu Guru Is dengan mantap.
“Di mana itu, Bu?”sela Reni.
“Di lapangan Siwedus-Desa Paninggaran.”
“Oh, desa di sebelah utara desa kita ini bukan , Bu?”potong Imah dengan kening berkerut-kerut. Ia membayangkan, betapa jauhnya jarak desa tersebut dari desa tempat tinggalnya.
Bu Guru Isti cuma mengangguk, mengiyakan.
“Kapan kiranya kita akan berangkat ke bumi perkemahan, Bu?”Leni ikut bertanya.
“Hari Jumat, bulan Agustus, minggu kedua.”
“Kalau Jumat berangkat, lantas hari apa kita pulang, Bu?”Ifiharti menyela.
“Senin pagi.”
“Jadi berapa hari kita ada di bumi perkemahan, Bu?”masih tanya Ifiharti.
“Sekitar tiga hari.”
Suasana kelas hening sejenak. Anak-anak tampak larut dalam pikirannya masing-masing.
“Kira-kira berapa anak dari sekolah kita yang akan diberangkatkan, Bu?”tanya Aryo memecah keheningan.
“Dari kelas 4, lima anak. Kelas 5, lima anak. Selainnya dari kelas 6, yaitu 20 anak. Jadi, ada berapa anak jumlah semuanya, Anak-anak?”
“Tiga puluh anak, Bu!”seru Sri dengan segera.
“Ya. tiga puluh anak,”ujar Bu Isti mengulang kalimat Sri.
“Lantas, akan dijadikan berapa tenda dan berapa regu, Bu?”masih tanya Sri.
Bu Isti tidak segera menjawab. Sejenak beliau mengolah pikir. Selang dua detik kemudian,”Kita jadikan tiga tenda, dan kita bagi menjadi enam regu.”
“Baik, Bu,”sela Aryo. “Apakah anak kelas 6 dari SD sini harus ikut semua, Bu?”lanjut si ketua kelas tadi meminta kejelasan.
“Ya. Semua harus ikut. Kecuali yang sakit!”jawab Bu Guru Is tegas.
Usai berkata demikian, diamlah Bu Is untuk menunggu pertanyaan teman Aryo yang lain. Suasana tanya jawab tampaknya berlangsung lama hingga siang.
***

Matahari tepat di atas kepala, ketika anak-anak pulang dari sekolah. Siang itu cuaca panas sekali. Udara terasa amat gerah. Gersang! Tenggorokan kering karena haus, sempat memaksa empat anak lelaki mampir ke gubug Ratman untuk meminta air putih. Keempat anak itu antara lain; Aryo, Rijo, Mulyo, dan Rudin.
“Permisi, Mbok! Ratman ada di rumah, Mbok?”salam Aryo dengan sopan.
Nenek tua yang di tangannya sedang menjahit baju pramuka usang itu, segera menjawab.
“Oh, ada, Nak, ada…! Mari silakan masuk!”dengan tergopoh-gopoh nenek tua yang ternyata ibu Ratman menyilakan Aryo dan kawan-kawan masuk.
Aryo dan ketiga temannya menurut. Mereka duduk di lincak bambu di sudut gubug tua warisan almarhum ayah Ratman.
Sementara itu, ibu Ratman segera menuju ke ruang tengah untuk mendapatkan Ratman, anak tunggalnya.
“Man! Itu ada kawan-kawanmu datang. Cepat temui mereka!”kata-kata ibu Ratman.
Ratman menurut. Anak lelaki yang murah senyum itu keluar menemui tamunya.
“Hai, Man! Kenapa empat hari ini engkau tak pernah masuk sekolah? Sakitkah engkau?”demikian Aryo bertanya panjang.
“Ya! Kenapa, Man?”tambah Rudin.
Ratman diam membisu.
“Sebenarnya sakit sih tidak, Nak,”jawab Mbok Ratman menerangkan. “Ratman cuma bingung. Sehari-hari ia hanya menangis saja. Gelisah dan tak mau makan.”
“Lho! Memangnya kenapa, Mbok?”dengan nada cukup kaget Rijo menyahuti.
“Ratman takut dimarahi gurunya, Nak. Sebab lusa ia tidak bakal bisa mengikuti kemah.”
“Kenapa memangnya, Mbok?”Mulyo ikut bertanya.
“Sebab Ratman tidak punya seragam pramuka yang pantas pakai, Nak. Lagipula ia tidak punya uang saku untuk bayar iurannya. Untuk itu Ratman pilih mogok sekolah.”
Mendengar penuturan tersebut, keempat kawan Ratman kaget seketika. Ada rasa haru bercampur iba di hati mereka. Oleh sebab itu untuk sesaat suasana jadi hening.
“Maaf, Mbok,”ujar Aryo memecah keheningan. “Untuk urusan seragam maupun uang saku, tak usah Embok maupun Ratman pikirkan,”sambung si anak orang kaya di desanya itu penuh janji. “Kami semua nanti yang akan mencarikan jalan keluar bagi kesulitan Ratman, Mbok.”
” Betul, Mbok! Kami semua nanti yang akan mencarikan jalan keluar! Yang penting kau bersiap diri, Man. Besok lusa kau akan kami jemput untuk ikut kemah. Bagaimana?”tambah Rudin meyakinkan.
“Tapi….!”sambil tengadah memandang Rudin, Ratman membuka mulut.
“Tapi apa…?”
“Baju seragam dan uang saku, begitu?”sahut Aryo cepat.
Ratman mengangguk.
“Kau tak usah khawatir, Man! Tinggal berangkat! Semua urusan kami. Bagaimana?”
Ratman mengangguk lagi.
“Sudah. Kalau begitu, kami pulang dulu. Lusa kau kami jemput,”demikian Aryo berkata mantap.
***

Angin dingin masih terasa menggigil mengusap kulit. Kabut putih masih terlihat menyelimuti puncak gunung Slamet. Burung prenjak masih terdengar ramai kicaunya di dedahan cengkeh.
Pagi itu anak-anak SDN 02 Lumeneng berbondong-bondong berangkat ke bumi perkemahan dengan berjalan kaki. Mereka berjalan di sepanjang pematang sawah sambil bernyanyi-nyanyi riang. Hingga tak terasa jalan turun-naik mendaki perbukitan telah jauh ditempuhnya.
“Ayo, kita nyanyi terus! Ayo, Man, kita nyanyi terus untuk menghibur kesedihan hati! Kita semua pramuka, harus senantiasa gembira! Pantang sedih, pantang menyerah!”demikian seru Aryo di tengah-tengah anak lainnya.
Mereka terus melangkah ke arah utara sambil terus bertepuk tangan. Lagu ‘Di Sini Senang di Sana Senang’ terus mereka dendangkan. Hingga tak terasa mereka tiba di tempat tujuan. Aryo dan kawan-kawan merasa senang. Demikian pula Ratman.***

Sardono Syarief
Jl. Raya Domiyang No.116
Paninggaran-Pekalongan 51164

Iklan

GIGI OMPONG KAKEK ODONG

Standar

Oleh Sardono Syarief

Kakek Odong adalah tetangga dekat Vina. Orangnya lucu. Usianya sudah lebih dari separoh baya. Tubuhnya tegar. Gesit gerak-geriknya. Namun giginya telah ompong semua.
Kakek Odong suka main tebak-tebakan. Lelaki tua itu juga suka humor dengan anak-anak. Termasuk dengan Vina dan teman-temannya.
“Kalau memang Kakek orang pandai, coba saya tanya, Kek?”ucap Vina pada suatu sore. Saat itu Vina dan kawan-kawan ramai berkumpul di teras depan rumah Kakek Odong.
“Silakan! Mau tanya apa kamu?”tantang Kek Odong.
“Apa rahasianya agar bisa panjang umur, Kek?”
“Oh, itu? Mudah! Kecil………!”
“Kecil yang bagaimana maksud, Kakek?”
“Agar umur bisa panjang, tentu saja harus ditarik-tarik,”demikian jawab Kakek Odong seenaknya.
“Ah, Kakek ini mengada-ada saja!”kilah Vina geli.
“Sekarang saya yang tanya, Kek!”sela Dhestya. “Kakek pasti tak bisa menjawab.”
“Coba, silakan!”tantang Kakek Odong tegas.
“Apa rahasianya, agar bila berjalan, sepatu tak berbunyi?”
“Oh, itu mudah lagi!”sahut Kakek Odong sambil mencibirkan bibir tuanya.
“Coba, tebak! Apa jawabnya, Kek?”desak Dhestya.
“Kalau berjalan, sepatunya harap dilepas. Tentu tak akan berbunyi. Ya kan?”ucap Kakek Odong sekenanya. Tawa Kakek tua itu terkekeh-kekeh.
Mendengar jawaban Kakek Odong tadi, Dhestya jadi ikut tertawa geli.
“Betul tidak jawaban Kakek, Dhes?”
“Betul sekali, Kek,”sahut Dhestya mengamini pendapat Kakek Odong.
“Sekarang saya yang tanya, Kek!”usul Widi.
“Silakan, Wid!”
“Apa rahasianya,agar orang selalu punya banyak uang , Kek?”tanya anak perempuan kelas 5 SD itu seraya tersenyum.
Pipi peot Kakek Odong pun tampak ikut tersenyum.
“Itu gampang,”katanya.
“Coba tebak, Kek! Apa jawabnya?”desak Widi ingin segera tahu.
“Jawabnya,”sahut Kakek Odong. “Orang tersebut harus bisa bikin uang sendiri. Betul, tidak?”
“Salah, Kek!”masih tukas Widi.
“Terus, betulnya bagaimana?”tanya Kakek Odong ingin tahu.
“Orang tersebut harus terus tidur di kasur uang, Kek.”
“Ha,ha,ha,ha…! Mana ada kasur uang, Wid?”tawa Kakek Odong di sela gigi ompongnya.
“Ada saja, Kek,”sahut Widi tegas.
“Di mana?”Kakek Odong penasaran.
“Di bank-bank, Kek.”
“Wah, kamu ini mengada-ada saja, Wid. Tidak lucu!”tukas Kakek Odong tak mau kalah.
“Sekarang giliran saya yang bertanya, Kek,”sela Lia.
“Silakan, Lia!”jawab Kakek Odong tenang.
“Mengapa burung hantu kalau malam hari tidak pernah tidur, Kek?”
“Kau ini lucu, Lia!”ucap Kakek Odong. “Sudah tahu burung hantu, ya kalau malam tidak tidur. Kalau tidur, bukan burung hantu, namanya.”
“Lantas, apa namanya, Kek?”
“Namanya burung merpati.”
“Kok bisa, Kek?”sela Reni.
“Ya, bisa,”jawab Kakek Odong. “Burung merpati kalau malam tidur. Sebab, mencari makanannya di siang hari. Sebaliknya, burung hantu kalau malam tak pernah tidur. Ia terbang ke sana ke mari untuk mencari makan. Betul tidak, Lia?”
“Betul, Kek!”sahut Lia puas.
“Satu lagi pertanyaan dari saya, Kek!”tambah Reni bersemangat.
“Ya. Silakan, Reni!”ujar Kakek Odong sambil membawa senyum kemenangan.
“Mengapa sebabnya, udara tak kelihatan, Kek?”
“Kalau kelihatan, kamu tentu akan lari ketakutan, Reni.”
“Mengapa sebabnya, Kek?”
“Sebab, kau pasti akan takut terkena terjang udara yang menggumpal-gumpal, Reni,”jawab Kakek Odong. “Betul tidak jawaban Kakek, Reni?”
“Tidak, Kek!”sahut Reni, Lia, Dhestya, Widi, Vina, dan teman-teman lain bersamaan.
“Lalu, betulnya bagaimana, Reni?”
“Kalau udara kelihatan,”sahut Widi mewakili teman-temannya. “Bisa jadi mata kita terganggu untuk melihat gigi ompong Kakek Odong. Betul tidak, Kawan-kawan?”
“Ya, betul………!”sahut teman-teman Widi yang lain serempak. Ramai.
“Hus….! Awas, kamu! Meledek, ya?”seru Kakek Odong seraya mengacungkan kepal ke arah Widi dan teman-teman.
Melihat adegan tersebut, larilah anak-anak meninggalkan Kakek Odong di rumah sendirian.***

Paninggaran-Pekalongan, 2009