Tag Archives: Cerbung

CERMIN DI TENGAH BATANG (Bagian IX)

Standar

9. MULAI MENGUKIR PRESTASI

Oleh Sardono Syarief

“Kiranya rintangan apa yang Pak Gito alami selama duduk di bangku PGAM 4 Tahun, Pak?”demikian Teten melanjutkan wawancara.
“Pada awalnya, Pak Gito mengalami kesulitan dalam membagi waktu antara sekolah dan bekerja. Lama kelamaan, tidak.”
“Tidak ada kesulitan bergaul dengan teman-teman 5-6 tahun lebih muda dari usia Pak Gito?”masih tanya Teten.
“Tidak juga,”jawab Pak Gito. “Kesulitan bergaul dengan teman-teman lebih muda 5-6 tahun sebagaimana yang Pak Gito bayangkan, ternyata tidak benar.”
“Ternyata bagaimana, Pak?”kali ini aku ikut menyahut.
“Bergaul dengan mereka ternyata sangat menguntungkan bagi diri Pak Gito.”
“Keuntungan apa yang Pak Gito petik?”
“Di antara kami bisa saling melengkapi kekurangan,”jawab Pak Gito. “Di sekolah yang baru itu, kegelapan dunia persekolahan Pak Gito yang sudah lama tertutup, akhirnya bisa menyala lagi. Pak Gito benar-benar memiliki semangat baru sebagai anak sekolah yang sebenarnya. Pak Gito jadi penuh percaya diri. Ini semua berkat hasil pergaulan Pak Gito dengan mereka yang lebih muda di sekolah.”
“Lantas, kegiatan apa saja yang Pak Gito ikuti selama menjadi murid PGAM 4 Tahun tersebut, Pak?”Melati ingin mengerti. Read the rest of this entry

Iklan

CERMIN DI TENGAH BATANG (Bagian VIII)

Standar

8. MELAWAN BADAI UJIAN
Oleh Sardono Syarief

“Maaf, Pak!”ujar Gadis seraya menggeser letak duduknya.
“Iya?”
“Tahun berapa dulu Pak Gito bisa meneruskan sekolah lagi, Pak?”
Pak Gito menelan ludah pahit.
“Sampai awal tahun 1975, Pak Gito belum bisa masuk sekolah lagi, Nak. Ini berarti tahun ketiga bagi Pak Gito menjadi pengangguran total. Bekerja, tidak. Sekolah pun apalagi?”
“Terus, apa yang diperbuat Pak Gito selanjutnya?”pancing Gadis.
“Demi bisa mewujudkan keinginan untuk bisa bersekolah lagi,”demikian tutur Pak Gito. “Dengan berbekal ijazah STN, Pak Gito mencoba melamar pekerjaan di pabrik textile PT. Primatexo Indonesia.”
“Apakah lamaran Pak Gito bisa diterima?”masih tanya Gadis.
“Setelah melewati masa-masa seleksi yang amat ketat,”jawab Pak Gito. “Setelah melewati penyaringan data dari sekian ratus pelamar,”sambungnya. “Alhamdulillah! Pada tanggal 13 Oktober 1975, dengan Surat Keputusan Direktur PT Primatexo Indonesia, Tamim Basuni, SE, Pak Gito diterima sebagai karyawan baru di PT tersebut. Pak Gito diterima di bagian Weaving Preparations (WP) sebagai Pembantu Operator.”
“Dengan demikian,”kataku. “Karena bisa memperoleh uang sendiri,”sambungku lagi. “Apakah masih ada keinginan bagi Pak Gito untuk bersekolah kembali,Pak?”
“Iya, masih!”sahut Pak Gito mantap. “Lebih-lebih bila melihat banyak anak sedang berangkat atau pulang sekolah. Keinginan Pak Gito untuk kembali ke bangku sekolah,
sungguh tak terbendungkan! Namun, ah….!”Pak Gito tidak melanjutkan kalimatnya.
“Namun, kenapa, Pak?”sahut Gadis cepat.
“Ada dua pilihan berat yang berkecamuk di dalam pikiran Pak Gito.”
“Maksud, Pak Gito?”kening Gadis berkerut.
“Pak Gito dihadapkan pada dua pilihan, yaitu antara tetap bekerja dan bersekolah lagi.”
“Kalau memilih bersekolah lagi, apa yang menjadi batu sandungan bagi Pak Gito?”tanyaku ingin tahu.
“Yang menjadi batu sandungan bagi saya,”demikian Pak Gito berujar.”Mampukah saya mengikuti pelajaran, karena sudah tiga tahun berlalu tidak bersekolah? Adakah sekolahan yang mau menerima seorang buruh pabrik seperti saya ini? Andaikan ada, bagaimana cara saya membagi waktu, antara sekolah dan bekerja?”
“Terus kenyataannya bisa ‘kan, Pak?”
Pak Gito mengangguk. Read the rest of this entry

CERMIN DI TENGAH BATANG (Bagian VII)

Standar

7. IMPIAN DI TENGAH GULITA
Oleh Sardono Syarief

Kami masih duduk-duduk di hadapan Pak Sugito. Seraya menikmati kue klepon yang dihidangkan Bu Rindiyani tadi, sekali-sekali kami mengajukan pertanyaan demikian.
“Tahun berapa Pak Gito tamat STN 2 Batang, Pak?”tanyaku.
“Akhir tahun 1972.”
“Setamat dari STN, ke mana lagi Pak Gito meneruskan sekolah, Pak?”masih aku,Virdha, yang bertanya.
Pak Gito menggeleng lemah.
“Kenapa, Pak?”
“Pak Wa’as, Kakek yang mengasuh Pak Gito, tak sanggup lagi membiayai sekolah Bapak.”
“Apa alasan Pak Wa’as, Pak?”kali ini Melati yang bertanya.
“Sebagai petugas jaga malam di pabrik textile PT Primatexo Indonesia,”ujar Pak Gito panjang. “Penghasilan Pak Wa’as tak cukup untuk biaya sekolah Pak Gito.”
“Lalu?”selidik Gadis.
“Pak Gito jadi pengangguran total,”jawab Pak Gito tak semangat seperti teringat masa kecilnya. “Tidak sekolah, juga tidak bekerja.”sambung Bapak dari ketiga anak itu menandaskan. “Kerja Pak Gito cuma membantu Nenek Siti Dasti berjualan beras dan minyak di rumah.”
“Bagaimana dengan Ujang Wahadi, Pak?”potong Bahtiar ingin mengerti.
“Ujang Wahadi melanjutkan ke Sekolah Teknik Menengah (STM) Perkapalan Baita Cipta, Pekalongan,menyusul Rokhmat.”
“Terus, bagaimana dengan Rokhmat, Pak?”sela Ardhana.
“Rokhmat telah naik kelas 2 di STM Perkapalan Baita Cipta, Pekalongan.”
“Lalu, Pak?”selidik Jaka.
“Dengan adanya Rokhmat dan Ujang Wahadi bersekolah di STM tersebut,”Pak Gito menjawab. “Berarti keduanya merupakan warga Dukuh Kebrok, Desa Sambong, Kecamatan Batang, Kabupaten Batang yang pertama kali mengenyam pendidikan di bangku sekolah lanjutan atas.”
“Wah! Hebat sekali keduanya ya, Pak? Luar biasa, mereka!”aku terkagum-kagum.
“Iya. Memang luar biasa, mereka!”puji Pak Gito ikut merasa salut.
“Inginkah saat itu Pak Gito bersekolah seperti Ujang Wahadi dan Rokhmat, Pak?”masih aku yang mengajukan pertanyaan.
“Keinginan untuk bisa sekolah seperti keduanya, tentu saja ada. Namun apa daya, biaya Kakek Wa’as tak mencukupi?”
“Selama tidak sekolah,”sela Melati. “ Selain membantu Nenek berjualan beras dan minyak di rumah,”sambung Melati lagi. “Kegiatan apa saja yang Pak Gito kerjakan?”
“Seperti hari-hari biasa,”sahut Pak Gito. “Setiap lepas maghrib, Pak Gito selalu rajin belajar mengaji mengeja huruf Al-Quran dan pesolatan pada Ustad Masdar,”ujar Pak Gito menjelaskan. “Di rumah Ustad yang satu ini,”demikian lanjut Pak Gito. “Pak Gito bisa bertemu dengan Ujang Wahadi, Rokhmat, maupun teman-teman lain dari Dukuh Kebrok.”
“Terus, selain belajar mengeja huruf Al-Quran dan pesolatan,”timpal Dhestya.”Pelajaran apa lagi yang diperoleh dari Ustad Masdar, Pak?”
“Pelajaran tentang landasan keimanan, Anak-anak.”
“Lantas, bagaimana dengan kegiatan mengarang Pak Gito? Apakah tetap dilakukan sebagaimana ketika duduk di STN 2 Batang, Pak?”sela Teten.
“Meskipun tidak sekolah,”jawab Pak Gito seraya tersenyum. “Selain rajin mengaji
dan membaca buku-buku cerita kelasik,”lanjutnya. “Di rumah, Pak Gito juga masih suka mengarang cerita pendek maupun puisi.”
“Kiranya buku kelasik karya siapa saja yang pernah Pak Gito baca?”tambah Bahtiar.
“Buku-buku karya SH. Mintarja dan RA. Kosasih.”
“Apa saja contoh judulnya, Pak?”masih tanya Bahtiar.
“Naga Sasra, Sabuk Inten, dan Api di Bukit Menoreh, karya SH. Mintarja. Sedangkan karya RA. Kosasih, contohnya; serial wayang Mahabrata, dan Bhratayuda.”
“Terus, mengenai kegiatan mengarang,”aku menyela. “Apakah Pak Gito pernah mencoba mengirimkan hasil tulisan Bapak ke majalah atau surat kabar?”
“Pernah,”sahut Pak Gito. “Namun, tulisan Pak Gito tak pernah ada yang dimuat.”
“Lantas, apa yang kemudian Pak Gito lakukan?”Melati ikut bertanya.
“Pak Gito tak pernah bosan untuk terus mengarang cerita pendek maupun puisi.”
“Lalu?”masih tanya Melati.
“Cerita maupun puisi tadi Pak Gito bukukan. Namun sayang…….”
“Sayang kenapa, Pak?”Melati sedikit kaget.
“Semua cerita maupun puisi karya Bapak hilang bersama bukunya.”
“Hilang ke mana, Pak?”tanya Gadis ingin mengerti lebih jauh.
“Hilang dipinjam teman.”
“Sayang sekali ya, Pak?”Ardhana ikut menyayangkan hilangnya buku kumpulan cerita maupun puisi milik Pak Gito tadi.
Pak Gito mengangguk, mengiyakan.
“Lalu, apa lagi kegiatan Pak Gito yang lain?”tanya Jaka.
“Hampir setiap sore tiba,”jawab Pak Gito. “Bersama Ujang Wahadi, Amat Danusari,dan Suroso, Pak Gito mencari kayu bakar di pinggir hutan sebelah desa.”
“Untuk apa, Pak?”sela Gadis.
“Untuk bahan bakar memasak dan menanak nasi di tungku.”
“Apakah tak ada kompor gas,Pak?”tambah Teten.
“Jangankan kompor gas,”sahut Pak Gito. “Kompor minyak tanah saja pun saat itu warga Dukuh Kebrok belum ada yang punya, Anak-anak.”
“Mengapa sebabnya, Pak?”dengan sedikit penasaran, Dhestya bertanya.
“Sebab warga Dukuh Kebrok saat itu lebih baik pilih memasak dengan tungku. Memasak yang tak harus mengeluarkan banyak biaya.”
“Terus, untuk membuang kejenuhan,”selaku. “Apakah Pak Gito juga suka menonton hiburan, Pak?”
“Ya, suka juga,”ujar Pak Gito sambil tersenyum.
“Tontonan apa yang Pak Gito sukai?”
“Pemutaran film misbar .”
“Apa maksud film misbar itu, Pak?”potong Dhestya.
“Film yang diputar oleh sponsor di tengah tanah lapang. Film itu akan bubar bila turun hujan atau gerimis. Sehingga sering diistilahkan sebagai film misbar. Bila gerimis, bubar. Karena di tengah lapang tak ada atap yang dipasang.”
“Apa tidak lebih baik nonton TV di rumah saja, Pak?” tanya Melati.
“Saat itu di Dukuh Kebrok belum ada orang yang punya TV.”
“Walau TV hitam putih sekali pun, Pak?”potongkku.
“Iya. TV baru bisa dimiliki oleh orang-orang kota. Itu pun orang-orang yang kaya. Orang kampung seperti di desa Bapak, belum ada yang mampu membeli.”
Mendengar itu, kami mengangguk-angguk, mengerti.
“Berarti, waktu itu di Dukuh Kebrok tidak seramai sekarang, Pak?”ujar Bahtiar ingin keyakinan.
“Betul! Sungguh amat berbeda dari yang sekarang ada, Nak!”sahut Pak Gito mantap.
“Apa misalnya, Pak?”
“Misalnya,”sahut Pak Gito.
“Kalau dulu bila turun hujan di dukuh ini jalanan dan gang-gang amat becek, sekarang tidak. Kalau dulu, di dukuh dan desa ini gelap gulita, sekarang terang-benderang oleh lampu listrik Negara. Kalau dulu di desa ini belum ada yang punya TV, sekarang hampir setiap rumah orang memiliki TV. Kalau dulu anak yang sekolah ke lanjutan masih bisa dihitung dengan jari tangan, sekarang hampir setiap orang tua di dukuh Pak Gito menyekolahkan anaknya. Dan masih banyak perbedaan menonjol yang lainnya lagi.”
“Berarti banyak kemajuan dan perubahan ya, Pak?”masih tanya Bahtiar.
“Sungguh luar biasa kemajuan dan perubahannya, Nak!”sahut Pak Gito seraya mengangguk. “Dulu dukuh dan desa Pak Gito sepi, sekarang ramai sepanjang malam dan hari,”tambahnya.
“Maaf, Pak!”potong Gadis.
Pak Gito segera berpaling ke arah Gadis.
“Setelah setahun Pak Gito tak sekolah,”ujar Gadis. “Apakah masih ada keinginan di hati Pak Gito untuk bersekolah lagi, Pak?”
“O, jelas masih ada!”sahut Pak Gito cepat. “Bahkan demi bisa mewujudkan impian tersebut,”tambahnya. “Pada awal tahun 1974 Pak Gito mencoba berkirim surat kepada si Ratu Dangdut Indonesia, Elvy Sukaesih, di Jakarta.”
“Apa yang diharapkan Pak Gito dari Elvy Sukaesih tadi, Pak?”potongku.
“Pak Gito berharap,”ujarnya. “si Ratu Dangdut tadi berkenan untuk memberi bantuan dana bagi anak putus sekolah seperti Pak Gito ini.”
“Bagaimana kenyataannya, Pak?”masih tanyaku.
“Semua cuma harapan hampa,”jawab Suami Ibu Rindiyani tadi lemah. “Pak Gito tidak pernah mendapatkan balasan apa pun dari si Artis kesayangan Bapak tadi.”
“Lantas, akhirnya bagaimana, Pak?”Melati menambahi.
“Akhirnya,”sahut Pak Gito. “Pupuslah sudah harapan Pak Gito untuk bisa masuk sekolah lagi di tahun 1974.”
“Ini berarti untuk tahun ke berapa Pak Gito tidak jadi anak sekolah?”tanya Dhestya.
“Tahun yang kedua.”
“Sejauh itu, bagaimana kabar sekolah Rokhmat maupun Ujang Wahadi, Pak?”
“Rokhmat, naik kelas 3, sedangkan Ujang Wahadi, naik kelas 2 STM Perkapalan Baita Cipta Pekalongan.”
“Karena gagal bersekolah lagi,”ujarku, Virdha. “Lantas, kegiatan apa yang kemudian Pak Gito lakukan setiap hari?”
“Oleh Om Amat, Pak Gito diajak magang kerja di bengkel mobil terkenal di kota Batang,”jawab Pak Gito. “Namun, karena di hati Pak Gito senantiasa dihantui keinginan untuk bisa bersekolah lagi,”sambungnya. “Maka, baru bekerja selama 5 bulan, Pak Gito memilih keluar dari bengkel tersebut.”
“Terus, ke mana Pak Gito bekerja?”tanya Ardhana.
“Pak Gito menjadi pengangguran total lagi.”
“Lalu, apa yang dilakukan Pak Gito di rumah?”kembali Ardhana bertanya.
“Untuk mengisi hari-hari menjenuhkan,”ujar Pak Gito. “Pak Gito minta dibelikan seekor kambing pada Kakek Wa’as,”sambungnya “Kakek mengabulkan permintaan Pak Gito. Maka, jadilah Pak Gito sebagai seorang gembala kambing.”
“Kiranya apa saja yang biasa dilakukan oleh seorang gembala kambing, Pak?”komentar Bahtiar seraya menggantikan kaset kosongnya ke dalam tape recorder.
“Yang biasa Pak Gito kerjakan sehari-hari,”jawab Pak Gito. “Pagi, membersihkan kandang. Siang, mencari rumput. Sore, menggembala kambing di tanah lapang.”
“Sampai berapa lama Pak Gito menjadi penggembala kambing, Pak?”Jaka ikut bertanya.
“Sekitar 3 bulan.”
“Mengapa tidak bertahan lama, Pak?”masih tanya Jaka.
“Sebab,”jawab Pak Gito. “Melihat kambing makin kurus,”tambahnya. “Kakek Wa’as
langsung menjualnya ke pasar, tanpa minta pertimbangan dulu kepada Pak Gito.”
“Lalu?”selidik Melati.
“Kembali Pak Gito jadi pengangguran total lagi.”
“Sungguh kasihan sekali nasib Pak Gito saat itu ya, Bu?”ujar Melati yang ditujukan kepada Ibu Rindiyani, istri tercinta Pak Gito.
Bu Rindiyani tersenyum.
“Untung saja, Pak Gito ini orangnya tegar dan tahan uji, Anak-anak,”komentar Bu Rindiyani dengan tulus.
“Mau apa lagi kalau tidak tahan uji, Bu?”sahut Pak Gito sambil tersenyum. “Kata orang, putus asa tidak boleh?”
“Putus asa, dosa ‘kan, Pak?”timbrung Teten dengan genitnya.
“Benar! Putus asa itu dosa,”tandas Pak Gito. “Oleh sebab itu,”katanya. “Untuk mengisi hari-hari menjenuhkan itu,”sambungnya lagi. “Pak Gito mencoba mengajukan lamaran kerja ke PT. Teknik Umum yang buka praktek di Batang.”
“Apakah lamaran Pak Gito langsung bisa diterima, Pak?”sahut Ardhana.
“Alhamdulillah…..Pak Gito langsung diterima untuk bekerja di perusahaan tersebut.”
“Apa yang dikerjakan Pak Gito di perusahaan itu?”
“Memasang kabel-kabel listrik untuk mesin tenun di pabrik textil.”
“Pabrik textil mana, Pak?”sahut Bahtiar.
“PT. Primatexo Indonesia, yang berdiri di pinggir jalan raya Desa Sambong, Batang itu.”
“Sampai berapa lama Pak Gito bekerja di perusahaan itu, Pak?”masih tanya Bahtiar.
“Sekitar 3 sampai 4 bulan.”
“Mengapa sesingkat itu, Pak? Apakah Pak Gito merasa tidak betah?”agak panjang, aku menyela.
“Bukan begitu!”tangkis Pak Gito cepat. “Bekerja di perusahaan ini sebenarnya Pak
Gito betah lagi senag,”ujarnya.”Namun, sayang………”
“Sayang kenapa, Pak?”masih tanyaku.
“Perusahaan tersebut pindah ke lain kota.”
“Apa sebabnya, Pak?”aku masih merasa penasaran.
“Sebab, masa kontrak kerja dengan PT. Primatexo Indonesia, sudah habis.”
“Lalu, bagaimana nasib Pak Gito?”Gadis menyambungi aku.
“Nasib Pak Gito, kembali menjadi pengangguran lagi.”
“Selama menjadi pengangguran kali ini,”ujar Gadis. “Kegiatan apa yang Pak Gito lakukan?”
“Siang hari, Pak Gito membantu Bu Tuminah, ibu kandung Pak Gito, membuat kue bongko di rumah. Sore harinya, Pak Gito pulang ke rumah Kakek Wa’as.”
“Memangnya, di mana Bu Tuminah jualan kue bongko, Pak?”sela Bahtiar.
“Di Pasar Batang.”
“Lantas kegiatan apa lagi yang Pak Gito lakukan selama jadi pengangguran kali ini,Pak?”potongku.
“Pak Gito pergi melawat ke Masjid Agung Demak dengan berkendaraan sepeda genjot.”
“Dengan siapa Pak Gito pergi ke sana?”
“Sendirian.”
“Untuk tujuan apa Pak Gito ke sana?”
“Untuk cari pengalaman. Untuk menyaksikan dari dekat tentang megahnya masjid sejarah warisan Wali Sembilan. Di samping itu, untuk membuang rasa jenuh selama tinggal di rumah.”
“Dengan berkendaraan sepeda genjot, apakah Pak Gito tidak merasa cape?”tanya Dhestya. “Bukankah jarak Batang – Demak cukup jauh?”
“Cape sih, iya…. Cuma, karena Pak Gito ingin mendapatkan banyak pengalaman. Jarak yang jauh dan rasa cape tadi, jadi terasa.”
Mendengar penuturan Pak Gito tadi, kami jadi paham.
Sementara, di luar angin kemarau bertiup semilir. Daun-daun mangga depan rumah, satu dua berjatuhan menghiasi hijau rerumputan di halaman. Siang terus merambat menuju tengah hari.
Melihat itu, ingin kami menikmati suasana teduh di bawah pohon mangga milik Pak Gito, tokoh idola yang saat itu sedang kami wawancara.***

(Bersambung)—————

CERMIN DI TENGAH BATANG (Bagian VI)

Standar

6. MENGGALI TALENTA
Oleh Sardono Syarief

Pak Gito masih tersenyum. Rupanya beliau merasa geli juga akan nama aslinya yang telah hilang. Sebuah nama bersejarah pemberian kedua orangtuanya yang kini tak pernah terdengar lagi di telinga. Karena hampir semua orang yang mengenalnya pasti akan memanggilnya dengan sebutan Sugito, bukan Hadikiroto atau Dito. Nama Hadikiroto entah hilang ke mana? Pak Gito sendiri tidak tahu rimbanya.
“Emm………maaf, Pak!”ujarku memecah keheningan.
“Iya?”Pak Gito agak tersentak.
“Kalau kami boleh tahu,”lanjutku. “Tahun berapa dulu Pak Gito masuk Sekolah Dasar?”
“Oh, itu?”Pak Gito mencoba mengingat-ingat. “Kalau tak salah,”katanya lebih lanjut. “Tahun 1963 atau 1964.”
“Di SD mana, Pak?”Gadis ikut menimpali.
“Di SD Negeri Sambong, Kecamatan Batang, Kabupaten Batang.”
“Dari desa mana saja teman-teman Pak Gito dulu,Pak?”Melati ikut bertanya.
“Dari Desa Kecepak, Desa Pakis Aji, Desa Tegalsari, dan Desa Lawang Aji.” Read the rest of this entry

CERMIN DI TENGAH BATANG (Bagian V)

Standar

5. SEBUAH NAMA YANG HILANG

Oleh Sardono Syarief

Semua peralatan telah terlihat siap. Maka, mulailah aku, Virdha, mengajukan pertanyaan kepada Pak Sugito demikian.
“Maaf, Pak. Kalau kami boleh tahu,”kataku. “Kapan dulu Pak Gito terlahir di dunia ini,Pak?”
Pak Gito menarik nafas panjang. Kemudian katanya,”Pak Gito lahir pada tanggal 21 Desember 1956.”
“Di mana dulu Bapak dilahirkan?”sela Gadis seraya menyiapkan bahan pertanyaan lain yang ada di pangkuan.
“Di Dukuh Kebrok, Desa Sambong, Kecamatan Batang, Kabupaten Batang, Jawa Tengah.”
“Dari Ibu dan Bapak siapa,Pak?”kali ini Melati yang bertanya.
“Dari Ibu Tuminah dan Bapak Sanawi.”
“Keduanya orangtua kandung Pak Sugito?”tambah Teten.
“Benar. Akan tetapi…”
“Tetapi, kenapa, Pak?”dengan kening sedikit berkerut, Dhestya ikut bertanya.
“Sejak kecil hidup Pak Gito telah tidak bersama mereka.”
“Lho! Memangnya kenapa, Pak?”masih tanya Dhestya.
“Kedua orangtua Pak Gito bercerai. Sehingga oleh Nenek Siti Dasti dan Kakek Wa’as, Pak Gito diasuh.”
“Terus dengan sebutan apa Pak Gito memanggil Kakek dan Nenek?”sahut Ardhana.
“Kepada keduanya, Pak Gito biasa memanggil dengan sebutan Bapak dan Ibu.”
“Mengapa bisa begitu,Pak?”masih tanya Ardhana.
“Iya, bisa. Karena setahu Pak Gito, Kakek Wa’as maupun Nenek Siti Dasti itu kedua orangtua kandung Bapak. Tak pernah Pak Gito sangka, kalau ternyata mereka adalah Kakek dan Nenek dari garis Tuminah, Ibu Pak Gito.”
“Lantas kapan Pak Gito tahu, kalau Kakek dan Nenek ternyata bukan Bapak dan Ibu kandung Pak Gito?”sela Bahtiar.
“Setelah agak besar. Kira-kira setelah Pak Gito duduk di kelas 2 SD.”
“Terus, kepada putra-putri Nenek, Pak Gito memanggilnya dengan sebutan apa?”potong Ardhana.
“Kepada mereka Pak Gito memanggilnya Kakak bagi yang lebih tua, dan Adik bagi yang lebih muda.”
“Padahal, seharusnya bagaimana, Pak?”masih tanya Ardhana.
“Seharusnya,”sahut Pak Gito sembari membetulkan letak duduknya. “Kepada yang putra, Pak Gito memanggilnya, Om. Sedangkan Bibi bagi yang putri.”
“Dengan sebutan tadi,”sahut Teten. “Kiranya ada pengalaman lucu tidak,Pak?”
“Ada.”
“Apa contohnya, Pak?”masih tanya Teten.
“Contohnya,”jawab Pak Gito seraya tersenyum. “Kepada orang yang biasa Pak Gito panggil Mbak Anik, ternyata ia Bibi Pak Gito. Begitu pula kepada yang biasa Pak Gito panggil dengan sebutan Dik Alin, ternyata ia Bibi Pak Gito juga.”
“Ha,ha,ha,ha…! Lucu sekali kesannya ya,Pak?”Teten tertawa geli. Demikian pula Gadis, Melati, Dhestya, Bahtiar,Jaka, Ardhana, maupun aku sendiri,Virdha.
Pak Gito tidak menyahut. Sebaliknya ikut tertawa geli pula.
“E, maaf, Pak!”ujar Gadis setelah sesaat tawa kami reda.
“Iya?”sahut Bapak Muda yang berkumis tipis itu sembari memandangi Gadis.
“Setelah Pak Gito tahu, kalau Pak Wa’as dan Bu Siti Dasti itu sebenarnya Kakek dan
Nenek Bapak,”lanjut Gadis. “Lantas, dengan sebutan apa Pak Gito memanggil keduanya?”
“Karena sejak kecil sudah terbiasa memanggil mereka dengan sebutan Ayah dan Ibu,”demikian Pak Gito berkata. “Maka, sampai sekarang pun panggilan itu tetap melekat di hati. Tidak Pak Gito ubah dengan sebutan Kakek maupun Nenek.“
Mendengar penuturan Pak Gito yang cukup menggelikan tadi, kami menjadi paham.
“Lalu, bagaimana nasib Ayah dan Ibu kandung Pak Sugito setelah mereka berpisah?”kali ini aku yang bertanya.
“Tuminah, Ibu Pak Gito, berdagang kue bongko di pasar Batang. Ia banyak dibantu Pak Darsono, ayah tiri Pak Gito.”
“Lalu, bagaimana dengan Ayah kandung Pak Gito?”lagi-lagi aku bertanya.
“Sanawi, Ayah kandung Pak Gito, jadi guru mengaji di madrasah,”jawab Pak Gito. “Pak Sanawi mendapatkan istri baru yang bernama Juwariyah. Keduanya tinggal di Desa Proyonanggan, Kecamatan Batang.”
“Dari pernikahannya dengan Ibu Juwariyah,”potong Melati. “Apakah Pak Sanawi punya keturunan, Pak?”lanjut Melati.
“Punya. Tiga anak.”
“Siapa sajakah mereka itu, Pak?”Melati terus bertanya.
“Mereka antara lain; Abdul Rokhman, Nur Khomariyah, dan Nur Samsiyah.”
“Bagaimana halnya dengan Ibu Tuminah yang berumah tangga dengan Pak Darsono, Pak? Apakah punya keturunan juga?”sahut Bahtiar.
“Punya juga. Banyak, malah!”
“Banyak berapa anak, Pak?”desak Bahtiar ingin tahu lebih jauh.
“Tujuh anak. Dua meninggal semasa kecil”.
“Siapa sajakah mereka itu, Pak?”sela Dhestya.
“Mereka yang masih hidup antara lain; Sugiyono, Mardiyono, Sriningsih, Tri Wiyanti, dan Kusdiyono.”
“Dengan demikian,”sahut Jaka. “Berapa orang semua Adik Pak Gito?”
“Delapan orang. Tiga orang, anak dari Pak Sanawi + Bu Juwariyah. Lima orang, anak dari Ibu Tuminah + Pak Darsono.”
“Kalau begitu, banyak ‘kan adik Pak Sugito?”kataku.
“Ya, lumayanlah….! Cukup banyak saudara.”
“Pak!”lanjutku.
“Iya?”Pak Gito lurus-lurus memperhatikan aku.
“Kalau tak salah, Kakek Wa’as dan Nenek Siti Dasti adalah nama kakek dan nenek Pak Gito dari garis Bu Tuminah, bukan?”
“Iya, betul!”
“Lalu, siapa nama Kakek dan Nenek Pak Gito dari garis Ayah Sanawi, Pak?”
“Oh, itu….?”
“Iya, Pak,”sahutku hampir bersamaan dengan Gadis maupun Dhestya.
“Kakek dan Nenek Pak Gito dari garis Ayah Sanawi, bernama Kakek Dasman dan Nenek Aminah.”
“Apakah keduanya juga turut mengasuh Pak Gito semasa kecil?”masih tanyaku.
“Tidak,”jawab Pak Gito. “Hanya sekali-sekali saja mereka menengok Pak Gito di rumah Kakek Wa’as dan Nenek Siti Dasti.”
“Oh,ya, Pak!”Ardhana menyela begitu saja.
“Iya?”pandangan Pak Gito berpindah ke arah Ardhana.
“Sebenarnya, siapa nama lengkap Pak Gito?”
Sebelum menjawab, Pak Gito tersenyum. Lalu katanya,”Nama Bapak sewaktu kecil, Hadikiroto. Dalam sehari-hari biasa dipanggil Dito. Namun nama resmi pemberian Ayah Sanawi dan Ibu Tuminah itu hilang, pada saat Pak Gito masuk kelas 1 SD dulu.”
“Lho! Kok bisa begitu, Pak?”seruku kaget.
“Iya, bisa!”sahut Pak Gito mantap. Hilangnya nama Hadikiroto atau Dito milik Bapak,”demikian sambung Pak Gito menjelaskan. “Lebih banyak disebabkan oleh sikap Bibi Anik.”
“Memangnya apa yang dilakukan Bibi Anik,Pak?”sahut Jaka ingin tahu.
“Mulanya Bibi Anik tidak tahu, siapa nama lengkap Pak Gito,”jawab Pak Gito. “Beliau cuma menyebutkan Dito, untuk nama Bapak, pada saat Beliau mendaftarkan sekolah Pak Gito di SD dulu.”
“Terus?”kening Jaka makin berkerut ingin tahu lebih jauh.
“Karena baik Bibi Anik maupun Pak Kepala Sekolah merasa ragu dengan nama yang sesingkat itu,”jawab Pak Gito. “Maka oleh keduanya, nama Bapak diberi tambahan Su di depan kata Dito. Sehingga seharusnya menjadi Sudito, bukan Sugito seperti yang dikenal orang sampai sekarang.”
“Wah! Kok berbeda jauh dari nama aslinya ya, Pak?”potong Bahtiar.
Pak Gito mengangguk.
“Justru yang mengherankan,”ujar Pak Gito. “Sebutan Hadikiroto untuk nama Bapak, entah ke mana perginya sampai sekarang?”
“Oh, iya,ya, Pak?”kepala Bahtiar mengangguk-angguk, turut heran juga.
“Maaf, Pak!”aku menyela.
Pak Gito berpaling kepadaku.
“Pada saat pendaftaran di SD dulu,”kataku lebih lanjut. “Apakah Bibi Anik tidak membawa Akte Kalahiran atau Surat Kenal Lahir dari desa, Pak?”
“Maksudmu?”tanya Pak Gito ingin penjelasan.
“Dalam Akte Kelahiran atau Surat Kenal Lahir,”Jawabku. “Biasanya ‘kan tertera nama dan tanggal lahir seseorang bukan, Pak?”
“Iya.”
“Bibi Anik membawa surat tersebut tidak, Pak?”
Pak Gito tersenyum. “Pada saat itu,”katanya lebih lanjut. “Kebanyakan orang tua di kampung Bapak,”sambung Pak Gito. “Belum ada yang berpikir membuatkan Akte Kelahiran atau Surat Kenal Lahir untuk anak-anak mereka.”
“Terus, Pak?”sahut Melati.
“Hal seperti itu dialami pula oleh orangtua Pak Gito. Sehingga, Pak Gito pun tidak memiliki Akte Kelahiran.”
“Apakah Bapak tidak merasa keberatan dipanggil dengan nama Sugito sebagaimana yang dikenal banyak orang sampai sekarang?”
“Sama sekali tidak,”jawab Pak Gito. “Apalagi setahu Bapak, Sugito itu merupakan nama asli pemberian kedua orangtua sejak Pak Gito lahir.”
“Lantas, kapan Pak Gito tahu, kalau nama asli Bapak adalah Hadikiroto?”tanya Dhestya.
“Setelah Pak Gito besar. Kira-kira setelah duduk di kelas 3 SD. Tepatnya setelah anggota keluarga dan famili banyak yang cerita tentang asal-usul nama Bapak.”
“Tapi, kami yakin, Pak!”ujarku mantap. “Justru dengan nama baru tadi,”demikian aku menambahkan. “Banyak hikmah dan keberuntungan yang melimpah bagi Pak Gito,bukan?”
“Apa buktinya?”
“Buktinya, banyak, Pak,”sahutku. “Misalnya,”lanjutku. “Sebagai guru, Pak Gito banyak memiliki prestasi dari tingkat kabupaten, hingga luar negeri. Sebagai penulis, Pak Gito juga sering meraih kemenangan dari berbagai sayembara mengarang. Ini pun Pak Gito alami dari
tingkat kabupaten, hingga nasional. Betul tidak, Teman-teman?”
“Iya, betul……..!”sahut teman-teman serempak.
“Saya sependapat dengan Virdha, Pak!”tambah Bahtiar. “Dengan hilangnya sebuah nama Hadikiroto menjadi Sugito, justru banyak mendatangkan keberhasilan dan rezeki yang
melimpah dari Tuhan bagi Bapak. Ya tidak, Teman-teman?”
“Iya, benar!”sahut Gadis ikut menimpali. “Saya yakin, andaikata nama Bapak masih utuh Hadikiroto, mungkin lain lagi ceritanya, Pak. Setuju tidak, Teman-teman?”
“Iya, kami setuju……!”sangat serempak teman-teman menjawab.
Melihat itu, Pak Gito, Bu Rindiyani, maupun Bu Nuning, tersenyum simpul. Demikian pula aku.

——————————–

CERMIN DI TENGAH BATANG (Bagian IV)

Standar

4. SOSOK TOKOH IDOLA

Oleh Sardono Syarief

Jam 10.30 kami tiba di rumah Pak Sugito. Rumah nomor 2 di Jalan Bima, Desa Sambong Timur, Kecamatan Batang, Kabupaten Batang, Jawa Tengah itu dapat kami temukan dengan mudah.
Betapa tidak? Jika sebagai patokan, rumah berdinding tembok putih itu, menghadap utara. Halamannya banyak dihiasi berbagai macam bunga. Di sisi kiri halaman, terdapat sebatang pohon mangga harum manis. Sedangkan di seberang jalan depan rumah, berdiri tegak tower telekomunikasi milik perusahaan swasta.
Itulah sebabnya, siapa pun orangnya akan dapat dengan mudah bila harus mencari alamat rumah Bapak Sugito Hadisastro.
“Assalamualaikum…..!”demikian salam Bu Nuning ketika kami tiba di depan pintu rumah Pak Gito.
“Waalaikum salaam….!”sahut seorang ibu dari dalam.
Sesaat kemudian, terdengar langkah orang mendekat pintu.
“Oh, ada tamu?”sambut Ibu Muda itu manakala usai membukakan pintu. “Mari, silakan masuk,Bu! Mari, Anak-anak!”ajaknya ramah.
“Terima kasih, Bu,”sahut Bu Nuning mewakili kami.
“Silakan duduk, Bu! Anak-anak!”Ibu Muda yang berbadan sedikit gempal tadi menyilakan.
“Terima kasih, Bu,”jawab Bu Nuning lagi seraya tersenyum.
Sesaat dari itu, Bu Nuning mengambil duduk berdampingan denganku. Sementara di hadapan dan kanan-kiri kami, duduk pula Gadis,Melati, Teten, Dhestya, Jaka, Bahtiar, dan Ardhana.
“Maaf, Bu,”ujar Bu Nuning tak lama dari itu.
“Iya, Bu?”
“Apakah Pak Gito ada di rumah, Bu?”tanya Bu Nuning kemudian.
“Ada, Bu. Namun maaf. Kalau boleh tahu, Ibu dan Anak-anak ini siapa dan dari mana?”tanya Ibu yang ditanya.
“Oh, ya! Maaf, Bu. Kami lupa mengenalkan diri,”ujar Bu Nuning tersipu. “Saya, adalah Guru dari Anak-anak ini,Bu,”sambung Bu Nuning. “Maksud kedatangan kami ke sini,”lanjut Bu Guru. “Ingin bertemu dengan Pak Sugito, Bu.”
“Oh, ya,Bu?”ucap Ibu Muda tadi. “Karena sekarang saya telah tahu akan maksud kedatangan Ibu dan Anak-anak ke mari,”katanya lembut. “Maka, sebentar saya panggilkan dulu Pak Gito, suami saya, di dalam ya?”
Sambil menganggukkan kepala, Bu Nuning menjawab,”Iya, Bu.”
Lalu, Ibu Muda, yang ternyata istri dari Pak Gito tadi melangkah ke dalam. Selang tak lama, Ibu Muda tadi pun keluar bersama seorang lelaki perlente. Siapa lagi lelaki itu kalau bukan Pak Sugito Hadisastro, suami tercintanya?
Benar. Lelaki ganteng dan berkumis tipis yang selalu berpenampilan rapi itu, bernama Sugito Hadisastro. Banyak orang memanggilnya, Pak Gito.
Kini seraya tersenyum ramah, Pak Gito menyalami kami satu per satu.
“Maaf,Pak Gito!”ucap Bu Nuning sesaat setelah Pak Gito mengambil duduk di tengah-tengah kami.
“Iya, Bu?”sahut Pak Gito sambil mengedarkan pandangannya ke arah kami.
“Kami datang hendak mengganggu Bapak,”lanjut Bu Nuning.
Pak Gito tersenyum.
“Memangnya ada hal yang bisa saya bantu,Bu?”
“Ada, Pak. Bahkan lebih dari bisa.”
“Maksud, Ibu?”
“Begini, Pak Gito,”Bu Nuning mulai mengutarakan maksud kedatangan kami. “Kami serombongan dari SMP Negeri 1 Paninggaran, Kecamatan Paninggaran, Kabupaten Pekalongan, Jawa Tengah. Sengaja datang ke mari, pertama ingin bersilaturahmi dengan keluarga Pak Gito. Sedangkan maksud kami yang kedua adalah ingin minta bantuan kepada Bapak.”
“Katakan! Kiranya apa yang bisa saya bantu, Bu?”
Bu Nuning tersenyum lega. ”Begini, Pak,”kata Bu Guru kami yang cantik lagi lincah itu kembali. “Sehubungan dengan diselenggarakannya sayembara mengarang bagi anak-anak SD, SMP, maupun SMA oleh Dinas Pendidikan bekerja sama dengan Dewan Kesenian Daerah Kabupaten Pekalongan,”Bu Nuning diam sejenak. Entah apa yang terjatuh di lantai, yang jelas Bu Nuning tampak sedang memungut sesuatu dari posisi duduknya. Kini setelah posisi duduknya kembali seperti semula, berkata lagilah ia,”Kami memandang Pak Gito sangat tepat kalau kami jadikan tokoh idola dalam tulisan biografi yang akan kami susun nanti, Pak. Oleh sebab itu, hari ini kami, khususnya anak-anak, datang untuk bisa mewawancarai Pak Gito.”
“Wah,wah,wah…..!”mendengar pengantar Bu Nuning tadi,Pak Gito kaget seketika. Beliau menggeleng-gelengkan kepala beberapa kali. “Apakah kiranya yang pantas pada diri saya,Bu? Sehingga Ibu maupun Anak-anak ini mau menulis tentang riwayat hidup saya? Bukankah saya ini cuma seorang guru biasa? Guru yang tak memiliki prestasi apa-apa?”
“Maaf, Pak Gito!”sahut Bu Nuning penuh harap. “Lama sebelum kami datang ke mari,”sambung Bu Guru. “Kami telah tahu dari TV, koran-koran, maupun majalah pendidikan,”lanjut Bu Nuning. “Bahwa Pak Gito adalah seorang guru yang menyandang banyak prestasi. Oleh sebab itu, tak ada kata lain, kecuali biografi Bapak sangat patut untuk kami tulis.”
“Ha,ha,ha…!”Pak Gito tertawa kecil. “Kiranya prestasi apa yang saya miliki,Bu? Saya ini benar-benar cuma seorang guru yang tak punya kelebihan apa-apa,”sanggah Pak Gito merendah.
“Jangan merendah begitu, Pak!”ujar Bu Guru Nuning. “Bukankah Pak Gito pernah meraih prestasi sebagai Guru Duta Indonesia ke negeri Kanguru, Australia?”lanjut Bu Nuning. “Bukankah Pak Gito hampir tiap tahun selalu menyabet galar juara dari berbagai sayembara mengarang, baik tingkat kabupaten, provinsi, maupun nasional? Bukankah Pak Gito juga sering menyandang gelar sebagai Guru Teladan dan Guru Berprestasi di tingkat kabupaten maupun provinsi?”
“Ah…! Kata siapa itu,Bu?”Pak Gito tetap belum mau membeberkan sejuta kelebihannya. Apa inikah yang dinamakan orang bijak? Semakin dia pandai, semakin dia merendahkan diri? Semakin dia tak mau menunjukkan kelebihannya di hadapan orang banyak?
“Kata surat kabar, TV, maupun majalah, Pak,”jawab Bu Nuning sekali lagi menegaskan. “Untuk itu,”lanjut Bu Guru demi meyakinkan Pak Gito. “Agar masyarakat luas mengenal diri Pak Gito,”sambung Bu Nuning lagi. “Agar mereka tahu sepak terjang yang dilakukan Pak Gito dalam sehari-hari, sehingga dapat meraih sekian banyak prestasi. Maka, izinkanlah murid-murid saya ini bisa mewawancarai Bapak. Izinkanlah mereka membukukan riwayat hidup Pak Gito semenjak kanak-kanak hingga sekarang, Pak.”
“Benar, Pak!”aku yang sedari tadi diam mendengarkan perbincangan Ibu Guru dan Pak Gito, kali ini ikut menyahut. “Kami ini murid-murid Bu Nuning yang punya keinginan untuk mengikuti sayembara mengarang,Pak,”lanjutku. “Kami punya keinginan untuk bisa mengirimkan naskah biografi tentang prestasi seseorang,”sambungku lagi. “Nah, karena menurut hemat kami, Pak Gito merupakan salah seorang tokoh yang punya banyak kelebihan. Seorang tokoh yang punya segudang prestasi. Seorang tokoh idola yang patut diteladani
jejaknya oleh generasi penerus. Maka, apa salahnya kalau jati diri Bapak kami tulis? Apa salahnya kalau hasil wawancara nanti, kami ikutkan sebagai naskah peserta sayembara mengarang, Pak?”
Pak Gito tidak menyahut. Rupanya ada sesuatu yang direnungkan. Namun tak lama dari itu, berkatalah Beliau kepada Ibu Rindiyani, istri tercintanya.
“Bagaimana menurut pendapatmu, Bu?”
Bu Rindiyani yang dimintai pertimbangan menjawab,”Menurut saya,”katanya lembut. “Sejauh untuk tujuan baik seperti yang diutarakan oleh Dik Virdha maupun Bu Nuning tadi,”sambung Bu Rindiyani. “Saya rasa tidak masalah, Pak. Apalagi sayembara ini bersifat melatih dan mendidik anak-anak sekolah.”
“Artinya, Ibu tidak keberatan?”sekali lagi Pak Gito meminta pertimbangan istrinya.
Bu Rindiyani terlihat mengangguk, setuju.
Melihat itu, maka berkatalah Pak Gito demikian,”Baiklah, Bu Nuning dan Anak-anak. Maksud kalian hendak mewawancarai Bapak, Pak Gito penuhi.”
“Betul, Pak?”seruku senang sekali.
Seraya tersenyum, Pak Gito mengangguk mantap.
“Terima kasih, Pak! Terima kasih sekali kami ucapkan atas kesediaan Bapak dalam menerima maksud kami,”masih kataku dengan nada gembira.
Kegembiraan itu tampaknya bukan membara di hatiku saja. Melainkan di hati teman-teman maupun Bu Guru Nuning juga.
“Teman-teman,”kataku selanjutnya.
“Iya…?”sahut teman-teman serempak.
“Mari, segera siapkan peralatan wawancara kita!”ujarku memberi komando.
“Mari, mari……!”sambut teman-teman serempak.
“Tolong, kauambil tape recordermu, Teten! Kauberikan kepada Bahtiar untuk merekam selama wawancara berlangsung!” 30
“Baik, Sobat!”sahut Teten seraya mengeluarkan tape recordernya dari dalam tas.
“Dhestya! Kaukeluarkan juga alat potretmu, untuk mengambil gambar Pak Gito!”
“Siap,Sobat!”Dhestya segera mengeluarkan kodaknya dari dalam tas.
“Untuk yang lain,”ujarku selanjutnya. “Siapkan buku atau lembar pertanyaan sebagai bahan wawancara dengan Pak Sugito, Teman-teman!”
“Baik, Bos!”sahut Melati, Gadis, Jaka, Ardhana, maupun Bahtiar hampir serempak.
Sejauh itu, Bu Nuning,Bu Rindiyani, dan Pak Sugito diam memperhatikan kesibukan kami. Mereka tersenyum-senyum kagum melihat ulah kami. Mereka lebih memilih bersikap diam, kecuali Pak Gito yang hendak memberikan banyak jawaban atas pertanyaan-pertanyaan kami nanti.

—————————-

CERMIN DI TENGAH BATANG (Bagian III)

Standar

3. MENYUSURI KOTA TUJUAN

Oleh Sardono Syarief

Minggu pagi tiba. Dengan malu-malu sang surya mengintai Desa Domiyang dari balik Bukit Paninggaran. Seraya menanti cahaya panasnya untuk mengusir dingin udara pagi,aku berangkat ke rumah Bu Guru Nuning.
Dengan menumpang bus umum, aku dibawanya lari ke kota Kecamatan Paninggaran. Sesampai di depan rumah Bu Nuning, aku meminta bus untuk berhenti. Setelah turun dan tiba di rumah Bu Guru, di sana ternyata telah berkumpul Gadis, Melati, Teten, Dhestya, Jaka, Ardhana, dan Bahtiar.
“Hallo, Virdha! Apa kabar? Tumben pagi ini datangmu terlambat?”sapa Melati sambil menyongsongku.
“Hallo juga, Sobat,”kataku. “Kukira, akulah yang datang paling awal, Mel. Tak tahunya, e…..justru sebaliknya, ya?”
“Tak mengapa, Virdha!”komentar Gadis. “Tokh Bu Nuning juga belum siap kok,”katanya kemudian.
“Jam berapa tadi kau tiba di sini, Gadis?”
“Kebetulan kami bertujuh hampir bersamaan. Kurang lebih jam 06.30.”
“Oh…., pantas, aku terlambat!”kataku. “Jam sepagi itu, aku sedang menunggu bus umum,Dis.”
“Belum! Engkau belum terlambat,Virdha,”Dhestya ikut menimpali.
“Apa buktinya, kalau aku belum terlambat, Dhes?”tanyaku pada anak yang bermata sipit, namun cantik itu, menggoda.
“Buktinya,”timpal Dhestya. “Kau lebih awal daripada persiapan Bu Guru. Ya tidak,

Teman-teman?”
“Ya, memang betul!”sahut Bahtiar mewakili teman yang lain.
Untuk sesaat kami diam. Tak lebih satu menit dari itu, Bu Nuning pun muncul dari dalam rumah.
“Selamat pagi, Bu Guru!”sapaku seraya melirik Bu Nuning.
“Selamat pagi kembali,”sahut Bu Nuning sembari berpaling ke arahku. “Oh, Virdha! Kapan kau datang, Nak?”tanya Bu Guru.
“Baru saja berselang, Bu,”jawabku sambil tersenyum.
“Oh, ya?”ujar Bu Nuning. “Seraya menunggu persiapan Ibu selesai,”tambahnya. “Silakan kalian ngobrol dulu di dalam!”
“Terima kasih,Bu. Kami ngobrol di luar saja, di teras ini,”jawabku mewakili teman-teman.
“Ya, sudah,”Bu Guru masuk ke ruang tengah.
Sementara itu, kami sibuk dengan persiapan masing-masing.
“Coba, kauperiksa ulang isi tasmu,Dhestya! Siapa tahu masih ada bekal yang tertinggal di rumah?”pintaku setengah menyarankan.
“Baik, Sobat,”anak yang berhidung mancung dan bermata sipit itu menuruti perintahku.
“Kodak! Ya, kau sudah bawa Kodak belum, Dhes?”kataku mengingatkan.
“Sudah. Ini…!”ucap Dhestya seraya menunjukkan alat potretnya kepadaku dan kawan yang lain.
“Oh,ya! Syukurlah kalau sudah kaubawa,”kataku. “Siapa yang dapat jatah membawa tape recorder?”tanyaku selanjutnya.
“Aku!”seru Teten. “Ini tape recorder bawaanku, Virdha.”
“Oh, ya!”kataku lega. “Sekarang, siapa yang membawa kertas atau buku berisi banyak

pertanyaan untuk bahan wawancara?”
“Aku!”sahut Bahtiar. “Ini, aku bawakan satu buku berisi penuh pertanyaan untuk Pak
Sugito nanti.”
“Oh,ya! Aku percaya,”kataku seraya tersenyum. “Dengan demikian berarti kita telah siap untuk berangkat wawancara.”
“Benar, Virdha!”komentar Ardhana tegas. “Tampaknya pagi ini kita telah siap dengan perbekalan wawancara yang cukup lengkap.”
“Betul,”sahutku cepat. “Oleh sebab itu, dari hasil wawancara dengan Pak Sugito nanti,”lanjutku kemudian. “Kita rangkum bersama.”
“Maksudmu, Virdha?”masih tanya Ardhana.
“Untuk dapat menghasilkan suatu karya yang bagus,”ujarku. “Semua hasil wawancara hendaknya kita rangkum, kita olah, dan kita susun dengan baik secara bersama-sama.”
“Agar karya biografi tentang Pak Sugito nanti, bisa jadi juara. Begitu maksudmu, Virdha?”ucap Bahtiar.
“Betul!”jawabku singkat lagi padat.
“Benar!”Melati menambahkan. “Untuk meraih kejuaraan memang segalanya harus kita perjuangkan bersama-sama.”
“Itu memang harus!”sambung Teten. “Kami harus berjuang bersama. Untuk menang bersama,”tambah anak itu penuh cit-cita.
“Agar nama kami kondang di mana-mana, begitu?”potong Jaka.
“Bukan nama kami saja yang kondang,”sahut Teten. “Tetapi nama sekolah kami pun jadi harum di tingkat kabupaten. Betul tidak, Teman-teman?”
“Betul juga katamu,Teten!”timpalku. “Untuk bisa mewujudkan semua keinginan tadi, kerja sama kami harus kompak. Harus saling mengisi kekurangan. Harus saling mendukung. Setuju?”

“Baik, kami setuju, Sobat,”sahut Teten, Gadis, Melati, dan Dhestya hampir bersamaan.
Sementara itu, Bu Nuning telah selesai dari persiapannya.
“Anak-anak! Ayo, kita berangkat sekarang!”ajaknya sembari menghampiri kami.
“Mari, Bu……! Mari…..!”sambut kami serempak. Ramai.
Kami segera menuju jalan raya di depan rumah Bu Guru. Tentunya untuk menunggu bus umum yang melintas di situ.
“Nah, itu ada bus dari arah timur!”seru Melati memberitahukan kepada teman-teman.
“Kamu stop, Mel!”perintah Bu Nuning.
“Baik, Bu!”sembari melambai-lambaikan tangan sebagai isyarat agar bus berhenti, Melati menjawab.
Sejurus dari itu, bus jurusan Kalibening (Banjarnegara) – Pekalongan pun berhenti tepat di hadapan kami berdiri.
“Ayo, naik,naik,naik,naik……….!”seru Pak Kondektur memerintahkan.
Seperti dikejar anjing, kami segera berebut tangga pintu masuk.
“Ayo, cepat sedikit, Anak-anak!”perintah Pak Kondektur sambil menata tempat duduk bagi kami yang masih berdiri.
Kami berangsur masuk. Menerobos penumpang lain yang telah duduk di kursi masing-masing.
“Ke mana, Bu?”tanya Pak Kondektur kemudian di tengah-tengah bus melaju.
“Terminal Induk Pekalongan,”jawab Bu Guru. “Berapa, Pak?”lanjut Bu Nuning sambil membuka dompet.
“Berapa orang, Bu?”
“Sembilan, Pak. Ini uangnya!”
“Terima kasih. Ini kembalinya, Bu!”

“Terima kasih kembali, Pak,”sahut Bu Nuning sambil menerima uang kembalian dari Pak Kondektur.
Sementara, bus terus meluncur ke arah utara. Menyusuri jalan raya Paninggran-Kajen. Jalan raya yang menghubungkan antara Kabupaten Pekalongan dengan Kabupaten Banjarnegara, Jawa Tengah.
Selama dalam perjalanan, kami tak bosan-bosan menikmati indahnya panorama di kanan-kiri jalan. Ribuan pohon damar, pinus, dan karet yang berdiri tegar di sepanjang jalan, seakan saling berlomba lari menyambut kedatangan kami. Mereka tak bosan-bosan melambaikan reranting dan dedaunannya bermain-main dengan angin.
Melihat itu, kami sangat merasa kagum. Oleh sebab itu, kami benar-benar kaget ketika tiba-tiba bus berhenti di Terminal Bus Kajen.
“ Kajen habis! Kajen habis!”teriak-teriak Pak Kondektur memberitahukan kepada penumpang yang mau turun di Terminal Bus Kajen.
“Pasar Kajen, Pak?”tanya salah seorang penumpang kepada Pak Kondektur.
“Bukan. Ini baru terminal bus,Bu. Pasar sebentar lagi,”jawab Pak Kondektur kepada penumpang yang tampaknya masih asing akan kota Kajen itu.
“Oh,ya! Terima kasih,Pak. Tolong, nanti saya diingatkan, Pak!”pinta seorang ibu tadi penuh harap.
“Baik, Bu. Nanti saya ingatkan,”jawab Pak Kondektur.
Setelah sesaat selesai menurunkan penumpang di Terminal Bus Kajen, maka melaju lagilah bus ke arah utara. Kurang lebih 1 km jaraknya dari terminal, tibalah bus di komplek Pasar Kajen.
“Pasar habis! Pasar habis! Ini Pasar Kajen, Bu! Silakan kalau Ibu mau turun,”ujar Pak Kondektur kepada seorang ibu yang duduk berjajar denganku tadi.
“Oh,ya! Terima kasih, Pak!”sambil beranjak dari tempat duduknya untuk turun, ibu separoh baya tadi menjawab.
“Terima kasih kembali, Bu,”sahut Pak Kondektur.
Di komplek pasar, bus berhenti tak begitu lama. Cuma beberapa menit saja untuk menurunkan penumpang yang hendak pergi ke pasar. Usai itu, bus pun bergerak lagi ke arah utara. Menyusuri kota Bojong, Wiradesa, Tirto, Pekalongan kota, Ponolawen, kemudian Terminal Bus Induk Kota Pekalongan.
Lebih kurang satu jam kemudian.
“Pekalongan habis! Pekalongan habis!”Pak Kondektur memberi aba-aba kepada para penumpang yang hendak turun di Terminal Induk Pekalongan.
Oleh teriakan-teriakan Pak Kondektur tadi, kami pun turun dengan segera.
“Ke mana,Bu?”sebuah mobil angkutan kota menghampiri kami.
“Batang,Om,”jawab Bu Guru Nuning. “Berapa?”
“Ada berapa orang, Bu?”
“Sembilan orang.”
“Mobil kami masih kosong. Disewa sekalian saja ya, Bu? Nanti saya kasih murah.”
“Murah berapa, Om?”
“Enam puluh ribu.”
“Lima puluh, Om. Kalau boleh, tarik!”ujar Bu Guru menawar.
Untuk sejenak Om Kondektur tampak berpikir-pikir.
“Bagaimana, Om?”tanya Bu Guru.
“Ya, mari silakan, Bu!”Om Kondektur setuju.
Kini satu demi satu kami memasuki mobil omprengan kota yang dikemudikan sendiri oleh Om Kondektur tadi.
“Supirnya di mana,Om?’tanya Bu Nuning berbasa-basi.
“Sedang cuti, Bu,”jawab Om Kondektur seraya melajukan mobilnya ke arah timur.“Batangnya, mana, Bu?”sambung Om Kondektur yang merangkap supir tadi.
23
“Jalan Bima, Desa Sambong Timur, Om.”
“ Jalan Bima?”
“Iya. Jalan Bima, Om. Apakah Om tahu jalan tersebut?”
“Saya lebih dari tahu, Bu. Saya orang Sambong.”
“Kalau begitu Om kenal dengan Pak Sugito?”masih tanya Bu Nuning yang duduk berjajar dengan Om Kondektur.
“Pak Sugito, Guru yang pandai mengarang itu bukan, Bu?”
“Iya, benar,Om.”
“Oh,ya kenal sekali, Bu! Nanti Ibu bisa saya antarkan sampai di depan rumahnya, Bu.”
“Wah! Senang sekali kalau begitu, Om,”ujar Bu Guru ceria.
Om Kondektur tak menyahut. Dia tampak tersenyum-senyum saja.
Sementara itu perjalanan telah sampai di Alun-alun Kota Batang.
“Kita putar lewat jalur Pasar Batang dulu, Bu. Setelah bayar karcis masuk sebentar, nanti saya teruskan lagi perjalanan ke Sambong Timur.”
“Iya, silakan, Om!”
Om Kondektur turun menuju Pos Pembayaran Karcis. Tak berapa lama kemudian, muncul lagilah jejaka muda itu untuk mengantarkan kami.
“Sudah, Om?”
“Sudah, Bu. Mari…….!”
Dari pasar, mobil bergerak belok ke kiri. Kemudian menyusuri jalan raya ke arah timur. Kurang lebih 2 km jauhnya dari pasar, mobil belok lagi ke kanan, memasuki jalan lapangan. Tidak lebih dari 700 m jarak yang ditempuh, kami telah menemukan Jalan Bima, rumah nomor 2 di Desa Sambong Timur.
“Nah, itu rumah Pak Gito, Bu!”kata Om Kondektur sembari menghentikan mobilnya tepat di depan rumah Pak Gito.
“Yang mana, Om?”sahut Bu Guru meminta kepastian.
“Rumah yang berpagar besi itu,Bu!”Om Kondektur menuding dengan telunjuknya.
“Oh, ya! Terima kasih, Om,”ucap Bu Nuning, senang.
“Terima kasih kembali,Bu,”jawab Om Kondektur. “Permisi………!”lanjutnya berpamitan diri dari kami.

—————————-