CERMIN DI TENGAH BATANG (Bagian IV)

Standar

4. SOSOK TOKOH IDOLA

Oleh Sardono Syarief

Jam 10.30 kami tiba di rumah Pak Sugito. Rumah nomor 2 di Jalan Bima, Desa Sambong Timur, Kecamatan Batang, Kabupaten Batang, Jawa Tengah itu dapat kami temukan dengan mudah.
Betapa tidak? Jika sebagai patokan, rumah berdinding tembok putih itu, menghadap utara. Halamannya banyak dihiasi berbagai macam bunga. Di sisi kiri halaman, terdapat sebatang pohon mangga harum manis. Sedangkan di seberang jalan depan rumah, berdiri tegak tower telekomunikasi milik perusahaan swasta.
Itulah sebabnya, siapa pun orangnya akan dapat dengan mudah bila harus mencari alamat rumah Bapak Sugito Hadisastro.
“Assalamualaikum…..!”demikian salam Bu Nuning ketika kami tiba di depan pintu rumah Pak Gito.
“Waalaikum salaam….!”sahut seorang ibu dari dalam.
Sesaat kemudian, terdengar langkah orang mendekat pintu.
“Oh, ada tamu?”sambut Ibu Muda itu manakala usai membukakan pintu. “Mari, silakan masuk,Bu! Mari, Anak-anak!”ajaknya ramah.
“Terima kasih, Bu,”sahut Bu Nuning mewakili kami.
“Silakan duduk, Bu! Anak-anak!”Ibu Muda yang berbadan sedikit gempal tadi menyilakan.
“Terima kasih, Bu,”jawab Bu Nuning lagi seraya tersenyum.
Sesaat dari itu, Bu Nuning mengambil duduk berdampingan denganku. Sementara di hadapan dan kanan-kiri kami, duduk pula Gadis,Melati, Teten, Dhestya, Jaka, Bahtiar, dan Ardhana.
“Maaf, Bu,”ujar Bu Nuning tak lama dari itu.
“Iya, Bu?”
“Apakah Pak Gito ada di rumah, Bu?”tanya Bu Nuning kemudian.
“Ada, Bu. Namun maaf. Kalau boleh tahu, Ibu dan Anak-anak ini siapa dan dari mana?”tanya Ibu yang ditanya.
“Oh, ya! Maaf, Bu. Kami lupa mengenalkan diri,”ujar Bu Nuning tersipu. “Saya, adalah Guru dari Anak-anak ini,Bu,”sambung Bu Nuning. “Maksud kedatangan kami ke sini,”lanjut Bu Guru. “Ingin bertemu dengan Pak Sugito, Bu.”
“Oh, ya,Bu?”ucap Ibu Muda tadi. “Karena sekarang saya telah tahu akan maksud kedatangan Ibu dan Anak-anak ke mari,”katanya lembut. “Maka, sebentar saya panggilkan dulu Pak Gito, suami saya, di dalam ya?”
Sambil menganggukkan kepala, Bu Nuning menjawab,”Iya, Bu.”
Lalu, Ibu Muda, yang ternyata istri dari Pak Gito tadi melangkah ke dalam. Selang tak lama, Ibu Muda tadi pun keluar bersama seorang lelaki perlente. Siapa lagi lelaki itu kalau bukan Pak Sugito Hadisastro, suami tercintanya?
Benar. Lelaki ganteng dan berkumis tipis yang selalu berpenampilan rapi itu, bernama Sugito Hadisastro. Banyak orang memanggilnya, Pak Gito.
Kini seraya tersenyum ramah, Pak Gito menyalami kami satu per satu.
“Maaf,Pak Gito!”ucap Bu Nuning sesaat setelah Pak Gito mengambil duduk di tengah-tengah kami.
“Iya, Bu?”sahut Pak Gito sambil mengedarkan pandangannya ke arah kami.
“Kami datang hendak mengganggu Bapak,”lanjut Bu Nuning.
Pak Gito tersenyum.
“Memangnya ada hal yang bisa saya bantu,Bu?”
“Ada, Pak. Bahkan lebih dari bisa.”
“Maksud, Ibu?”
“Begini, Pak Gito,”Bu Nuning mulai mengutarakan maksud kedatangan kami. “Kami serombongan dari SMP Negeri 1 Paninggaran, Kecamatan Paninggaran, Kabupaten Pekalongan, Jawa Tengah. Sengaja datang ke mari, pertama ingin bersilaturahmi dengan keluarga Pak Gito. Sedangkan maksud kami yang kedua adalah ingin minta bantuan kepada Bapak.”
“Katakan! Kiranya apa yang bisa saya bantu, Bu?”
Bu Nuning tersenyum lega. ”Begini, Pak,”kata Bu Guru kami yang cantik lagi lincah itu kembali. “Sehubungan dengan diselenggarakannya sayembara mengarang bagi anak-anak SD, SMP, maupun SMA oleh Dinas Pendidikan bekerja sama dengan Dewan Kesenian Daerah Kabupaten Pekalongan,”Bu Nuning diam sejenak. Entah apa yang terjatuh di lantai, yang jelas Bu Nuning tampak sedang memungut sesuatu dari posisi duduknya. Kini setelah posisi duduknya kembali seperti semula, berkata lagilah ia,”Kami memandang Pak Gito sangat tepat kalau kami jadikan tokoh idola dalam tulisan biografi yang akan kami susun nanti, Pak. Oleh sebab itu, hari ini kami, khususnya anak-anak, datang untuk bisa mewawancarai Pak Gito.”
“Wah,wah,wah…..!”mendengar pengantar Bu Nuning tadi,Pak Gito kaget seketika. Beliau menggeleng-gelengkan kepala beberapa kali. “Apakah kiranya yang pantas pada diri saya,Bu? Sehingga Ibu maupun Anak-anak ini mau menulis tentang riwayat hidup saya? Bukankah saya ini cuma seorang guru biasa? Guru yang tak memiliki prestasi apa-apa?”
“Maaf, Pak Gito!”sahut Bu Nuning penuh harap. “Lama sebelum kami datang ke mari,”sambung Bu Guru. “Kami telah tahu dari TV, koran-koran, maupun majalah pendidikan,”lanjut Bu Nuning. “Bahwa Pak Gito adalah seorang guru yang menyandang banyak prestasi. Oleh sebab itu, tak ada kata lain, kecuali biografi Bapak sangat patut untuk kami tulis.”
“Ha,ha,ha…!”Pak Gito tertawa kecil. “Kiranya prestasi apa yang saya miliki,Bu? Saya ini benar-benar cuma seorang guru yang tak punya kelebihan apa-apa,”sanggah Pak Gito merendah.
“Jangan merendah begitu, Pak!”ujar Bu Guru Nuning. “Bukankah Pak Gito pernah meraih prestasi sebagai Guru Duta Indonesia ke negeri Kanguru, Australia?”lanjut Bu Nuning. “Bukankah Pak Gito hampir tiap tahun selalu menyabet galar juara dari berbagai sayembara mengarang, baik tingkat kabupaten, provinsi, maupun nasional? Bukankah Pak Gito juga sering menyandang gelar sebagai Guru Teladan dan Guru Berprestasi di tingkat kabupaten maupun provinsi?”
“Ah…! Kata siapa itu,Bu?”Pak Gito tetap belum mau membeberkan sejuta kelebihannya. Apa inikah yang dinamakan orang bijak? Semakin dia pandai, semakin dia merendahkan diri? Semakin dia tak mau menunjukkan kelebihannya di hadapan orang banyak?
“Kata surat kabar, TV, maupun majalah, Pak,”jawab Bu Nuning sekali lagi menegaskan. “Untuk itu,”lanjut Bu Guru demi meyakinkan Pak Gito. “Agar masyarakat luas mengenal diri Pak Gito,”sambung Bu Nuning lagi. “Agar mereka tahu sepak terjang yang dilakukan Pak Gito dalam sehari-hari, sehingga dapat meraih sekian banyak prestasi. Maka, izinkanlah murid-murid saya ini bisa mewawancarai Bapak. Izinkanlah mereka membukukan riwayat hidup Pak Gito semenjak kanak-kanak hingga sekarang, Pak.”
“Benar, Pak!”aku yang sedari tadi diam mendengarkan perbincangan Ibu Guru dan Pak Gito, kali ini ikut menyahut. “Kami ini murid-murid Bu Nuning yang punya keinginan untuk mengikuti sayembara mengarang,Pak,”lanjutku. “Kami punya keinginan untuk bisa mengirimkan naskah biografi tentang prestasi seseorang,”sambungku lagi. “Nah, karena menurut hemat kami, Pak Gito merupakan salah seorang tokoh yang punya banyak kelebihan. Seorang tokoh yang punya segudang prestasi. Seorang tokoh idola yang patut diteladani
jejaknya oleh generasi penerus. Maka, apa salahnya kalau jati diri Bapak kami tulis? Apa salahnya kalau hasil wawancara nanti, kami ikutkan sebagai naskah peserta sayembara mengarang, Pak?”
Pak Gito tidak menyahut. Rupanya ada sesuatu yang direnungkan. Namun tak lama dari itu, berkatalah Beliau kepada Ibu Rindiyani, istri tercintanya.
“Bagaimana menurut pendapatmu, Bu?”
Bu Rindiyani yang dimintai pertimbangan menjawab,”Menurut saya,”katanya lembut. “Sejauh untuk tujuan baik seperti yang diutarakan oleh Dik Virdha maupun Bu Nuning tadi,”sambung Bu Rindiyani. “Saya rasa tidak masalah, Pak. Apalagi sayembara ini bersifat melatih dan mendidik anak-anak sekolah.”
“Artinya, Ibu tidak keberatan?”sekali lagi Pak Gito meminta pertimbangan istrinya.
Bu Rindiyani terlihat mengangguk, setuju.
Melihat itu, maka berkatalah Pak Gito demikian,”Baiklah, Bu Nuning dan Anak-anak. Maksud kalian hendak mewawancarai Bapak, Pak Gito penuhi.”
“Betul, Pak?”seruku senang sekali.
Seraya tersenyum, Pak Gito mengangguk mantap.
“Terima kasih, Pak! Terima kasih sekali kami ucapkan atas kesediaan Bapak dalam menerima maksud kami,”masih kataku dengan nada gembira.
Kegembiraan itu tampaknya bukan membara di hatiku saja. Melainkan di hati teman-teman maupun Bu Guru Nuning juga.
“Teman-teman,”kataku selanjutnya.
“Iya…?”sahut teman-teman serempak.
“Mari, segera siapkan peralatan wawancara kita!”ujarku memberi komando.
“Mari, mari……!”sambut teman-teman serempak.
“Tolong, kauambil tape recordermu, Teten! Kauberikan kepada Bahtiar untuk merekam selama wawancara berlangsung!” 30
“Baik, Sobat!”sahut Teten seraya mengeluarkan tape recordernya dari dalam tas.
“Dhestya! Kaukeluarkan juga alat potretmu, untuk mengambil gambar Pak Gito!”
“Siap,Sobat!”Dhestya segera mengeluarkan kodaknya dari dalam tas.
“Untuk yang lain,”ujarku selanjutnya. “Siapkan buku atau lembar pertanyaan sebagai bahan wawancara dengan Pak Sugito, Teman-teman!”
“Baik, Bos!”sahut Melati, Gadis, Jaka, Ardhana, maupun Bahtiar hampir serempak.
Sejauh itu, Bu Nuning,Bu Rindiyani, dan Pak Sugito diam memperhatikan kesibukan kami. Mereka tersenyum-senyum kagum melihat ulah kami. Mereka lebih memilih bersikap diam, kecuali Pak Gito yang hendak memberikan banyak jawaban atas pertanyaan-pertanyaan kami nanti.

—————————-

Iklan

CERMIN DI TENGAH BATANG (Bagian III)

Standar

3. MENYUSURI KOTA TUJUAN

Oleh Sardono Syarief

Minggu pagi tiba. Dengan malu-malu sang surya mengintai Desa Domiyang dari balik Bukit Paninggaran. Seraya menanti cahaya panasnya untuk mengusir dingin udara pagi,aku berangkat ke rumah Bu Guru Nuning.
Dengan menumpang bus umum, aku dibawanya lari ke kota Kecamatan Paninggaran. Sesampai di depan rumah Bu Nuning, aku meminta bus untuk berhenti. Setelah turun dan tiba di rumah Bu Guru, di sana ternyata telah berkumpul Gadis, Melati, Teten, Dhestya, Jaka, Ardhana, dan Bahtiar.
“Hallo, Virdha! Apa kabar? Tumben pagi ini datangmu terlambat?”sapa Melati sambil menyongsongku.
“Hallo juga, Sobat,”kataku. “Kukira, akulah yang datang paling awal, Mel. Tak tahunya, e…..justru sebaliknya, ya?”
“Tak mengapa, Virdha!”komentar Gadis. “Tokh Bu Nuning juga belum siap kok,”katanya kemudian.
“Jam berapa tadi kau tiba di sini, Gadis?”
“Kebetulan kami bertujuh hampir bersamaan. Kurang lebih jam 06.30.”
“Oh…., pantas, aku terlambat!”kataku. “Jam sepagi itu, aku sedang menunggu bus umum,Dis.”
“Belum! Engkau belum terlambat,Virdha,”Dhestya ikut menimpali.
“Apa buktinya, kalau aku belum terlambat, Dhes?”tanyaku pada anak yang bermata sipit, namun cantik itu, menggoda.
“Buktinya,”timpal Dhestya. “Kau lebih awal daripada persiapan Bu Guru. Ya tidak,

Teman-teman?”
“Ya, memang betul!”sahut Bahtiar mewakili teman yang lain.
Untuk sesaat kami diam. Tak lebih satu menit dari itu, Bu Nuning pun muncul dari dalam rumah.
“Selamat pagi, Bu Guru!”sapaku seraya melirik Bu Nuning.
“Selamat pagi kembali,”sahut Bu Nuning sembari berpaling ke arahku. “Oh, Virdha! Kapan kau datang, Nak?”tanya Bu Guru.
“Baru saja berselang, Bu,”jawabku sambil tersenyum.
“Oh, ya?”ujar Bu Nuning. “Seraya menunggu persiapan Ibu selesai,”tambahnya. “Silakan kalian ngobrol dulu di dalam!”
“Terima kasih,Bu. Kami ngobrol di luar saja, di teras ini,”jawabku mewakili teman-teman.
“Ya, sudah,”Bu Guru masuk ke ruang tengah.
Sementara itu, kami sibuk dengan persiapan masing-masing.
“Coba, kauperiksa ulang isi tasmu,Dhestya! Siapa tahu masih ada bekal yang tertinggal di rumah?”pintaku setengah menyarankan.
“Baik, Sobat,”anak yang berhidung mancung dan bermata sipit itu menuruti perintahku.
“Kodak! Ya, kau sudah bawa Kodak belum, Dhes?”kataku mengingatkan.
“Sudah. Ini…!”ucap Dhestya seraya menunjukkan alat potretnya kepadaku dan kawan yang lain.
“Oh,ya! Syukurlah kalau sudah kaubawa,”kataku. “Siapa yang dapat jatah membawa tape recorder?”tanyaku selanjutnya.
“Aku!”seru Teten. “Ini tape recorder bawaanku, Virdha.”
“Oh, ya!”kataku lega. “Sekarang, siapa yang membawa kertas atau buku berisi banyak

pertanyaan untuk bahan wawancara?”
“Aku!”sahut Bahtiar. “Ini, aku bawakan satu buku berisi penuh pertanyaan untuk Pak
Sugito nanti.”
“Oh,ya! Aku percaya,”kataku seraya tersenyum. “Dengan demikian berarti kita telah siap untuk berangkat wawancara.”
“Benar, Virdha!”komentar Ardhana tegas. “Tampaknya pagi ini kita telah siap dengan perbekalan wawancara yang cukup lengkap.”
“Betul,”sahutku cepat. “Oleh sebab itu, dari hasil wawancara dengan Pak Sugito nanti,”lanjutku kemudian. “Kita rangkum bersama.”
“Maksudmu, Virdha?”masih tanya Ardhana.
“Untuk dapat menghasilkan suatu karya yang bagus,”ujarku. “Semua hasil wawancara hendaknya kita rangkum, kita olah, dan kita susun dengan baik secara bersama-sama.”
“Agar karya biografi tentang Pak Sugito nanti, bisa jadi juara. Begitu maksudmu, Virdha?”ucap Bahtiar.
“Betul!”jawabku singkat lagi padat.
“Benar!”Melati menambahkan. “Untuk meraih kejuaraan memang segalanya harus kita perjuangkan bersama-sama.”
“Itu memang harus!”sambung Teten. “Kami harus berjuang bersama. Untuk menang bersama,”tambah anak itu penuh cit-cita.
“Agar nama kami kondang di mana-mana, begitu?”potong Jaka.
“Bukan nama kami saja yang kondang,”sahut Teten. “Tetapi nama sekolah kami pun jadi harum di tingkat kabupaten. Betul tidak, Teman-teman?”
“Betul juga katamu,Teten!”timpalku. “Untuk bisa mewujudkan semua keinginan tadi, kerja sama kami harus kompak. Harus saling mengisi kekurangan. Harus saling mendukung. Setuju?”

“Baik, kami setuju, Sobat,”sahut Teten, Gadis, Melati, dan Dhestya hampir bersamaan.
Sementara itu, Bu Nuning telah selesai dari persiapannya.
“Anak-anak! Ayo, kita berangkat sekarang!”ajaknya sembari menghampiri kami.
“Mari, Bu……! Mari…..!”sambut kami serempak. Ramai.
Kami segera menuju jalan raya di depan rumah Bu Guru. Tentunya untuk menunggu bus umum yang melintas di situ.
“Nah, itu ada bus dari arah timur!”seru Melati memberitahukan kepada teman-teman.
“Kamu stop, Mel!”perintah Bu Nuning.
“Baik, Bu!”sembari melambai-lambaikan tangan sebagai isyarat agar bus berhenti, Melati menjawab.
Sejurus dari itu, bus jurusan Kalibening (Banjarnegara) – Pekalongan pun berhenti tepat di hadapan kami berdiri.
“Ayo, naik,naik,naik,naik……….!”seru Pak Kondektur memerintahkan.
Seperti dikejar anjing, kami segera berebut tangga pintu masuk.
“Ayo, cepat sedikit, Anak-anak!”perintah Pak Kondektur sambil menata tempat duduk bagi kami yang masih berdiri.
Kami berangsur masuk. Menerobos penumpang lain yang telah duduk di kursi masing-masing.
“Ke mana, Bu?”tanya Pak Kondektur kemudian di tengah-tengah bus melaju.
“Terminal Induk Pekalongan,”jawab Bu Guru. “Berapa, Pak?”lanjut Bu Nuning sambil membuka dompet.
“Berapa orang, Bu?”
“Sembilan, Pak. Ini uangnya!”
“Terima kasih. Ini kembalinya, Bu!”

“Terima kasih kembali, Pak,”sahut Bu Nuning sambil menerima uang kembalian dari Pak Kondektur.
Sementara, bus terus meluncur ke arah utara. Menyusuri jalan raya Paninggran-Kajen. Jalan raya yang menghubungkan antara Kabupaten Pekalongan dengan Kabupaten Banjarnegara, Jawa Tengah.
Selama dalam perjalanan, kami tak bosan-bosan menikmati indahnya panorama di kanan-kiri jalan. Ribuan pohon damar, pinus, dan karet yang berdiri tegar di sepanjang jalan, seakan saling berlomba lari menyambut kedatangan kami. Mereka tak bosan-bosan melambaikan reranting dan dedaunannya bermain-main dengan angin.
Melihat itu, kami sangat merasa kagum. Oleh sebab itu, kami benar-benar kaget ketika tiba-tiba bus berhenti di Terminal Bus Kajen.
“ Kajen habis! Kajen habis!”teriak-teriak Pak Kondektur memberitahukan kepada penumpang yang mau turun di Terminal Bus Kajen.
“Pasar Kajen, Pak?”tanya salah seorang penumpang kepada Pak Kondektur.
“Bukan. Ini baru terminal bus,Bu. Pasar sebentar lagi,”jawab Pak Kondektur kepada penumpang yang tampaknya masih asing akan kota Kajen itu.
“Oh,ya! Terima kasih,Pak. Tolong, nanti saya diingatkan, Pak!”pinta seorang ibu tadi penuh harap.
“Baik, Bu. Nanti saya ingatkan,”jawab Pak Kondektur.
Setelah sesaat selesai menurunkan penumpang di Terminal Bus Kajen, maka melaju lagilah bus ke arah utara. Kurang lebih 1 km jaraknya dari terminal, tibalah bus di komplek Pasar Kajen.
“Pasar habis! Pasar habis! Ini Pasar Kajen, Bu! Silakan kalau Ibu mau turun,”ujar Pak Kondektur kepada seorang ibu yang duduk berjajar denganku tadi.
“Oh,ya! Terima kasih, Pak!”sambil beranjak dari tempat duduknya untuk turun, ibu separoh baya tadi menjawab.
“Terima kasih kembali, Bu,”sahut Pak Kondektur.
Di komplek pasar, bus berhenti tak begitu lama. Cuma beberapa menit saja untuk menurunkan penumpang yang hendak pergi ke pasar. Usai itu, bus pun bergerak lagi ke arah utara. Menyusuri kota Bojong, Wiradesa, Tirto, Pekalongan kota, Ponolawen, kemudian Terminal Bus Induk Kota Pekalongan.
Lebih kurang satu jam kemudian.
“Pekalongan habis! Pekalongan habis!”Pak Kondektur memberi aba-aba kepada para penumpang yang hendak turun di Terminal Induk Pekalongan.
Oleh teriakan-teriakan Pak Kondektur tadi, kami pun turun dengan segera.
“Ke mana,Bu?”sebuah mobil angkutan kota menghampiri kami.
“Batang,Om,”jawab Bu Guru Nuning. “Berapa?”
“Ada berapa orang, Bu?”
“Sembilan orang.”
“Mobil kami masih kosong. Disewa sekalian saja ya, Bu? Nanti saya kasih murah.”
“Murah berapa, Om?”
“Enam puluh ribu.”
“Lima puluh, Om. Kalau boleh, tarik!”ujar Bu Guru menawar.
Untuk sejenak Om Kondektur tampak berpikir-pikir.
“Bagaimana, Om?”tanya Bu Guru.
“Ya, mari silakan, Bu!”Om Kondektur setuju.
Kini satu demi satu kami memasuki mobil omprengan kota yang dikemudikan sendiri oleh Om Kondektur tadi.
“Supirnya di mana,Om?’tanya Bu Nuning berbasa-basi.
“Sedang cuti, Bu,”jawab Om Kondektur seraya melajukan mobilnya ke arah timur.“Batangnya, mana, Bu?”sambung Om Kondektur yang merangkap supir tadi.
23
“Jalan Bima, Desa Sambong Timur, Om.”
“ Jalan Bima?”
“Iya. Jalan Bima, Om. Apakah Om tahu jalan tersebut?”
“Saya lebih dari tahu, Bu. Saya orang Sambong.”
“Kalau begitu Om kenal dengan Pak Sugito?”masih tanya Bu Nuning yang duduk berjajar dengan Om Kondektur.
“Pak Sugito, Guru yang pandai mengarang itu bukan, Bu?”
“Iya, benar,Om.”
“Oh,ya kenal sekali, Bu! Nanti Ibu bisa saya antarkan sampai di depan rumahnya, Bu.”
“Wah! Senang sekali kalau begitu, Om,”ujar Bu Guru ceria.
Om Kondektur tak menyahut. Dia tampak tersenyum-senyum saja.
Sementara itu perjalanan telah sampai di Alun-alun Kota Batang.
“Kita putar lewat jalur Pasar Batang dulu, Bu. Setelah bayar karcis masuk sebentar, nanti saya teruskan lagi perjalanan ke Sambong Timur.”
“Iya, silakan, Om!”
Om Kondektur turun menuju Pos Pembayaran Karcis. Tak berapa lama kemudian, muncul lagilah jejaka muda itu untuk mengantarkan kami.
“Sudah, Om?”
“Sudah, Bu. Mari…….!”
Dari pasar, mobil bergerak belok ke kiri. Kemudian menyusuri jalan raya ke arah timur. Kurang lebih 2 km jauhnya dari pasar, mobil belok lagi ke kanan, memasuki jalan lapangan. Tidak lebih dari 700 m jarak yang ditempuh, kami telah menemukan Jalan Bima, rumah nomor 2 di Desa Sambong Timur.
“Nah, itu rumah Pak Gito, Bu!”kata Om Kondektur sembari menghentikan mobilnya tepat di depan rumah Pak Gito.
“Yang mana, Om?”sahut Bu Guru meminta kepastian.
“Rumah yang berpagar besi itu,Bu!”Om Kondektur menuding dengan telunjuknya.
“Oh, ya! Terima kasih, Om,”ucap Bu Nuning, senang.
“Terima kasih kembali,Bu,”jawab Om Kondektur. “Permisi………!”lanjutnya berpamitan diri dari kami.

—————————-

CERMIN DI TENGAH BATANG (Bagian II)

Standar

2. DALAM BUKU HARIAN

Oleh Sardono Syarief

Sore harinya.
Dengan ditemani Melati,Gadis, Teten, Dhestya, Jaka, Ardhana, dan Bahtiar, aku pergi ke rumah Bu Nuning.
Rumah Bu Guru Nuning terletak di tepi jalan raya Paninggaran. Tak jauh dari SMP tempat kami sekolah. Itu sebabnya, untuk bisa sampai di rumah Beliau, kami dapat naik bus umum. Tidak harus naik ojek atau angkutan pedesaan.
“Assalamualaikum….! Selamat sore,Bu Guru!”salam Bahtiar begitu kami tiba di rumah Bu Guru.
“Waalaikum salaam….!”serta-merta Bu Nuning segera menoleh ke arah kami. “Oh…! Bahtiar dan kawan-kawan!”tambahnya kaget. “Mari, masuk, Tiar! Ayo, yang lain!”agak gugup Ibu Guru muda tadi menyilakan.
“Terima kasih,Bu,”sahut Bahtiar seraya tersenyum.
Kami menurut. Dengan langkah hati-hati kami memasuki ruang tamu Bu Guru.
“Ayo, silakan duduk, Anak-anak!”
“Iya, Bu,”sahutku sopan sembari tersenyum.
Setelah tak lama kami mengambil duduk, Bu Nuning berkata,”Maaf. Ibu mau cuci tangan dulu ya, Anak-anak?”
“Ya, Bu. Silakan, Bu,”sahut kami hampir bersamaan.
Sore itu, saat kami tiba di rumah Bu Guru. Beliau tampak sedang sibuk menyiram bunga di teras depan. Rupanya Bu Guru yang cantik itu banyak menanam aneka warna bunga hias di dalam pot. Karena sangat sibuknya, sampai-sampai Bu Nuning tak sempat melihat kedatangan kami. Karena itu wajar, apabila Beliau cukup kaget lagi gugup menyambut kami datang.
“Apakah kamu jadi mau menulis biografi seseorang, Virdha?”tanya Bu Nuning begitu tiba di tengah-tengah kami kembali.
“Iya. Jadi, Bu,”sahutku seraya tersenyum. ”Bahkan bukan cuma saya saja, Bu. Melainkan teman-teman saya ini juga akan ikut mencobanya,”sambungku sambil menunjuk ke arah Melati, dan kawan-kawan.
“Bagus!”sahut Bu Nuning mantap. “Memang anak-anak seperti kalianlah yang Ibu harapkan. Anak-anak yang penuh kreatif, semangat, dan punya kemauan keras untuk selangkah lebih maju dari anak-anak yang lain.”
Mendengar komentar serta pujian Bu Nuning tadi, menjadikan hati kami bertambah besar. Menjadikan hati kami makin percaya diri untuk bisa berkarya dengan baik
“Jadi, kalian butuh alamat seseorang yang hendak ditulis riwayat hidupnya, Anak-anak?”
“Benar,Bu!”sahutku mantap sambil mengangguk-angguk. “Itu sebabnya, sore ini kamidatang ke mari, Bu.”
“Kalau begitu, baiklah. Tunggu sebentar! Akan Ibu ambilkan Buku Harian Ibu.”
“Iya, Bu…..!”sahut kami serempak
Bu Nuning bangkit dari tempat duduknya. Lalu masuk ke ruang tengah.Selang sesaat keluar lagilah Beliau dengan di tangannya membawa sebuah buku kwarto menemui kami.
“Ini, alamat dan nama tokoh masyarakat yang bisa kalian angkat riwayat hidupnya ke dalam bentuk tulisan, Anak-anak,”Bu Nuning mengulurkan sebuah buku kepadaku.
“Coba, lihat, Bu!”pintaku sopan.
Melihat itu, Gadis, Melati, Teten,Dhestya, segera merubungku. Mereka mengerumuni
ku untuk ikut membaca isi buku harian Bu Nuning yang ada di tanganku.
“Coba, kaubacakan saja isinya keras-keras, Virdha!”pinta Bahtiar penuh harap dari tempat duduknya.
“Oke! Dengarkan baik-baik, Sobat!”ujarku menuruti permintaan Bahtiar.
Di dalam buku harian tersebut, ternyata Bu Guru banyak mencatat nama dan alamat orang-orang terkenal. Baik terkenal di tingkat kabupaten, provinsi, maupun nasional. Bahkan ada pula yang terkenal di tingkat dunia.
“Cepat kaubacakan,Virdha!”pinta Bahtiar tak sabar.
“Baik,”sahutku. “Pertama,”sambungku mulai memenuhi permintaan Bahtiar. “ Eriyah. Dengan prestasinya sebagai penyelamat lingkungan hidup dari bahaya tanah longsor dan hutan gundul di desa yang dipimpinnya, tahun 1984 oleh pemerintah pusat Ibu Eriyah dijuluki sebagai Pahlawan Penyelamat Lingkungan Hidup.
Pada tahun yang sama, 1984, Bu Eriyah juga mendapat gelar sebagai Wanita Pertama Penerima Kalpataru dari Pemerintah Republik Indonesia berkat prestasinya di bidang program penghijauan desa. Bahkan pada tahun 1987, Bu Eriyah juga dikenal oleh banyak orang di seluruh dunia.”
“Atas prestasinya di bidang apa, Virdha?”potong Teten penuh rasa ingin tahu.
“Menurut buku harian Bu Nuning ini,”ujarku. “Pada tahun tersebut Bu Eriyah mengukir prestasinya di bidang pemberantasan buta huruf tingkat internasional. Dari prestasinya itu Bu Eriyah mendapat gelar sebagai Turor Teladan Tingkat Dunia.”
“Siapa yang memberi gelar tersebut, Virdha?”Jaka ikut bertanya.
“UNESCO,”jawabku. “Yaitu suatu lembaga Persatuan Bangsa-Bangsa (PBB) yang mengurusi tentang ilmu pengetahuan, pendidikan, dan kebudayaan tingkat dunia. Atas prestasinya itu pula, Bu Eriyah mendapatkan piagam penghargaan The Nadezdha K.Krupskaya Prize dari UNESCO di Paris, Perancis.”
“Cek,cek,cek….!”sembari menggeleng-gelengkan kepala, Bahtiar berdecak kagum.
“Sungguh hebat sekali prestasi Bu Eriyah ini, ya, Kawan-kawan?”
“Iya. Hebat sekali, ya!”sahut Ardhana maupun Jaka sependapat dengan Bahtiar.
“Memangnya, di mana alamat tempat tinggal Bu Eriyah, Virdha?”sela Dhestya ingin tahu lebih jauh.
“Alamat Bu Eriyah,”sahutku. “Di Desa Kaliboja, Kecamatan Paninggaran, Kabupaten
Pekalongan, Provinsi Jawa Tengah.”
“Lho! Kalau begitu, tidak jauh dari desa kita ‘kan?”seru Gadis. “Dengan demikian berarti kita punya seorang tokoh terkenal di tingkat dunia?”ujarnya kagum.
Teman-teman yang diajak bicara serempak mengangguk-angguk, mengiyakan.
“Lantas, urutan yang kedua, siapa, Virdha?”tanya Gadis kemudian..
“Urutan yang kedua, Ari Yustisia Akbar,”jawabku. “Mantan siswa SMA Negeri 1 Kajen yang sekarang sedang menempuh kuliah di Universitas Gajah Mada Yogyakarta ini, terkenal di tingkat dunia berkat prestasinya di bidang Kimia. Ari berhasil menyabet juara dalam kompetisi Olimpiade Kimia Tingkat Dunia di Athena, Yunani, tahun 2003. Ari mendapat piagam dan medali perak sebagai penghargaan atas prestasinya dari President Scientific Committee 35 th IChO, Prof. Aristides Mavridis dan President 35 th IChO, Dr. Andreas Tsatsas.”
“Lantas, di mana alamat tempat tinggal Ari Yustisia Akbar, Virdha?”rupanya Melati juga ingin tahu.
“Ari Yustisia Akbar bertempat tinggal di belakang Kantor Camat Kajen. Tepatnya di Jl. Bima I, rumah urut nomor 2, menghadap timur.”
“Kajen itu di mana letaknya, Virdha?”
“Kajen terletak kurang lebih 25 km di sebelah utara Paninggaran,”sahut Bu Nuning menjelaskan. “Kajen merupakan nama ibukota dan pusat pemerintahan Kabupaten kita, Pekalongan.”
“Ooo….!”gumam kami sembari mengangguk-angguk. Dari penjelasan Bu Guru tadi, membuat kami jadi mengerti tentang kota Kajen.
“Terus, siapa lagi tokoh terkenal yang terdapat di dalam buku harian Bu Guru Nuning itu,Virdha?”tanya Bahtiar sesaat dari itu.
“Drs. Sugito Hadisastro,”jawabku setelah sepintas membaca tulisan Bu Guru.
“Memangnya siapa Pak Sugito itu, Virdha?”Teten ikut menyela.
“Menurut catatan di buku ini,”kataku menjawab. “Pak Sugito adalah salah seorang guru SMK yang memiliki segudang prestasi.”
“Apa saja prestasi Pak Gito, Virdha?”sela Dhestya.
“Masih menurut buku harian ini,”ujarku. “Selain sebagai guru teladan yang pernah mengukir prestasinya di Australia, ternyata Pak Sugito juga merupakan sosok pengarang tingkat nasional. Banyak buku karyanya yang beredar di sekolah-sekolah maupun toko-toko buku.Beliau juga mahir dalam berbahasa Inggris baik lisan maupun tulisan. ”
“Di dalam buku harian itu, tertulis apa saja bukti prestasi Pak Sugito, Virdha?”
“Di buku ini tak Ibu tulis macam-macam prestasi Pak Gito,”potong Bu Nuning cepat. “Oleh sebab itu,”sambung Bu Guru yang cantik itu. “Apabila kalian ingin tahu lebih banyak tentang prestasi Pak Gito,”tambahnya. “Silakan kalian datang ke rumahnya! Wawancarai Beliau sebanyak-banyaknya!”
“Memangnya di mana Pak Sugito tinggal, Bu?”tanya Melati.
“Pak Sugito tinggal di Jl. Bima No.2, Desa Sambong Timur, Kecamatan Batang, Kabupaten Batang, Provinsi Jawa Tengah.”
“Kalau begitu, kita harus segera ke sana, Virdha!”ujar Melati seperti mengajukan usul.
“Tidak harus!”sahut Jaka tak setuju.
“Kenapa?”tangkis Melati.
“Mengapa kita harus pilih tokoh yang tinggal jauh di luar kota? Bila sementara yang tinggal di kota sendiri saja ada?,”sahut Jaka.
“Bu Eriyah,maksudmu?”tanya Melati.
“Ya,iyalah….!”sahut Jaka. “Bu Eriyah ‘kan tinggal di dalam wilayah kecamatan kita sendiri? Mengapa kita harus pergi ke rumah Pak Gito yang jauh di Batang?”
“Tapi menurut sepengetahuan Ibu,”dengan lembut Bu Nuning menengahi keduanya. “Buku yang memuat tentang biografi Bu Eriyah sudah ada, Jaka. Apakah kau belum pernah membacanya di perpustakaan?”
Jaka menggelengkan kepala.
“Coba, kaucari di perpustakaan sekolah! Pasti di situ ada,”kata Bu Guru Nuning menyarankan.
“Baik, Bu. Maaf saya tidak tahu,”ucap Jaka polos.
“Tidak apa-apa,”jawab Bu Nuning sembari tersenyum.
“Bagaimana dengan Ari Yustisia Akbar, Bu? Apakah sudah ada bukunya juga?”tanya Ardhana.
“Buku yang memuat tentang biografi Ari, juga sudah ada di perpustakaan-perpustakaan sekolah, Ardhana,”jawab Bu Guru. “Silakan kaucari di sana!”
“Oh! Apakah benar, Bu?”ucap Ardhana meminta keyakinan.
Bu Nuning mengangguk mantap.
“Oleh sebab itu,”kata Bu Nuning kemudian. “Kalian perlu datang ke rumah Pak Gito. Jadikan Beliau sebagai nara sumber untuk tulisan kalian nanti!”
“Apakah buku tentang biografi Pak Sugito belum pernah ada, Bu?”timpal Bahtiar ingin tahu.
“Menurut pengamatan Ibu,”sahut Bu Guru Nuning. “ Buku biografi Pak Sugito, belum pernah ada, Tiar.”
“Kalau begitu, bisalah kita ke Batang untuk menemui Pak Sugito,”ujar Bahtiar menyetujui pendapat Melati. “Bagaimana menurut pendapat teman yang lain?”
“Iya, kami setuju…..!”sahut Gadis, Teten, Dhestya, Ardhana, dan aku sendiri,Virdha, hampir bersamaan.
“Kapan kiranya kami ke sana, Tiar?”tanyaku.
“Kapan, Bu?”Bahtiar melemparkan pertanyaanku ke Bu Guru Nuning.
“Makin cepat, makin baik,”sahut Bu Guru.
“Bagaimana kalau hari Minggu besok, Bu?”usul Gadis.
“Terserah kalian sajalah,”jawab Bu Guru.
“Menurut pendapatmu, bagaimana, Virdha?”masih tanya Gadis.
“Menurutku,”aku menyahut. “Karena hari Minggu sekolah kita libur. Sekolah Pak Gito juga libur. Maka, aku setuju sekali pada usulan Gadis.”
“Ya, aku pun setuju!”sela Ardhana.
“Aku setuju juga!”tambah Teten.
“Kalau begitu,”kataku. “Berarti hari Minggu besok kita sepakat jadi pergi ke Batang, ke rumah Pak Gito. Begitu?”
“Iya….!”sahut teman-teman serempak.
“Maaf, aku usul!”ujar Dhestya menyela.
“Usul apa?”aku menanggapi.
“Siapa yang hendak mendampingi kami ke sana?”
“Tak usah khawatir!”tangkisku. “Kami ‘kan punya Bu Guru Nuning.”
“Maksudmu?”kening Dhestya sedikit berkerut.
“Kami semua ‘kan punya Ibu Guru yang bijaksana?”ujarku seraya melirik Bu Nuning. “Ibu Guru yang penuh perhatian?”sambungku. “Masa iya, seorang Ibu yang baik hati tak mau mengantarkan usaha keras anak-anaknya ke Batang? Iya ‘kan, Bu?”
Sambil tersenyum manis, Bu Guru muda yang berparas cantik itu mengangguk.
“Mengapa harus Ibu yang mengantar?”tanyanya lembut.
“Ya, iyalah….! Ibu ‘kan Guru kami yang baik hati?”ujar Melati. “Setuju tidak, Teman-teman?”
“Setuju….! Setuju sekali……!”sahut kami saling bersahutan.
“Baiklah,”ucap Bu Nuning menyanggupi. “Asalkan kalian mau menyiapkan segala sesuatunya.”
“Apa saja yang mesti kami siapkan, Bu?”tanya Teten.
“Daftar pertanyaan sebagai bahan wawancara dengan Pak Sugito.”
“Berapa banyak, Bu?”masih Teten yang bertanya.
“Sebanyak-banyaknya.”
“Baik, Bu. Kami akan menyusunnya dengan segera,”sahutku mewakili Teten dan teman-teman.
“Terus apalagi,Bu?”tanya Teten lagi.
“ Tape recorder.”
“Untuk apa tape recorder,Bu?”sela Dhestya.
“Untuk merekam nara sumber selama wawancara berlangsung.”
“Oh…?”dari jawaban Bu Guru tadi, Dhestya jadi mengerti.
“Lantas, apa lagi yang perlu kami siapkan, Bu?”Gadis ikut nimbrung.
“Kodak.”
“Untuk apa Kodak, Bu?”masih tanya Gadis.
“Untuk memotret gambar nara sumber yang kalian wawancarai.”
“Pak Sugito, maksud Ibu?”aku menyela.
“Benar,”jawab Ibu Guru muda yang lincah lagi cantik itu seraya tersenyum.
“Terus, apalagi, Bu?”Ardhana ikut bertanya.
“Bolpoint sebagai alat tulis.”
“Maaf, Bu!”potong Bahtiar.
“Ya?”sahut Bu Nuning seraya menoleh ke arah Bahtiar.
“Tempat tinggal Pak Sugito di Batang bukan, Bu?”
Bu Nuning mengangguk.
“Kiranya di mana letak kota Batang itu, Bu?”
“Oh, itu…?”
Bahtiar mengangguk.
“Kota Batang terletak lebih kurang 90 km sebelah barat Semarang,”kata Bu Guru Nuning menjelaskan. “Atau sekitar 10 km sebelah timur kota Pekalongan,”sambungnya.
“Kalau ditempuh dari Paninggaran sini,”sahut Bahtiar. “Ke arah mana kami harus menuju, Bu?”
“Kalian bisa naik bus umum ke arah utara,”jawab Bu Guru. ”Sekitar sejauh 24 km,
kalian akan tiba di kota Kajen, ibukota Kabupaten Pekalongan.”
“Setelah sampai di Kajen, ke mana lagi kami menuju, Bu?”sela Jaka.
“Dari Kajen, ada dua jalur yang bisa menghubungkan kota Batang,”sahut Bu Nuning. “Pertama,”katanya lebih lanjut. “Lewat jalur timur. Yaitu, dari Kajen, Karanganyar, Kedungwuni, Pekajangan, Buwaran,Ponolawen, Terminal Bus Induk Kota Pekalongan.”
“Jalur yang kedua, Bu?”potong Melati, ingin segera tahu.
“Jalur kedua,”jawab Bu Guru. “Lewat jalur utara,”sambungnya. “Yaitu, dari Kajen, Bojong, Wiradesa, Tirto, Pekalongan kota, Ponolawen, Terminal Bus Induk Kota Pekalongan.”
“Setelah tiba di Terminal Bus Induk Kota Pekalongan, ke mana lagi arah kita, Bu?”masih tanya Melati.
“Ke arah timur, sejauh kurang lebih 10 km, kalian akan tiba di kota Batang.”
“Kami mesti naik apa, Bu?”tambah Teten.
“Bisa naik bus, bisa pula angkutan kota jurusan Batang.”
“Lantas, kami harus turun di mana, Bu?”aku, Virdha, ikut bertanya.
“Bisa turun di Alun-alun kota Batang. Bisa pula di Pasar Batang.”
“Selanjutnya, Bu?”masih aku yang bertanya.
“Selanjutnya, kalian bisa naik becak ke arah timur, ke Desa Sambong Timur. Sebelum tiba di Pabrik Textil Primatexco, di sebelah kanan jalan, ada jalan menuju lapangan. Beloklah kalian ke jalan itu! Melalui jalan lapangan sejauh 500 meter, nanti akan kalian temukan Jl. Bima, rumah nomor 2. Berarti, sampailah kalian di rumah Pak Sugito.”
“Nah, kalau begitu,”potongku. “Jam berapa besok kita mesti berangkat ke Batang, Bu?”
“Jam 07.00 kalian harus sudah tiba di rumah Bu Guru. Siap?”
“Siap, Bu……! Kami akan siap jam 07.00 tepat!”sahut kami serempak mengakhiri perbincangan dengan Bu Guru Nuning.
Sementara itu, di langit barat, matahari sore hampir tersangkut pucuk hutan pinus. Hari di ambang petang. Maka dengan segera kami mohon diri untuk meninggalkan rumah Bu Guru.
————————–

CERMIN DI TENGAH BATANG (Bagian I)

Standar

1. KABAR GEMBIRA

Sabtu, jam 06. 00 pagi. Suasana desaku masih tampak sepi. Belum banyak orang pergi ke pasar, apalagi ke kantor tempat mereka bekerja. Belum, belum banyak. Kebanyakan orang di desaku masih lebih suka bermalas-malasan. Mereka suka pilih berselimut sarung daripada harus berdandan rapi. Lebih-lebih jam baru sepagi itu.
Maklum. Desaku, Domiyang, terletak di kaki Gunung Slamet. Karena di pegunungan, bila musim kemarau tiba seperti sekarang ini, bukan main dinginnya udara pagi bertiup. Dingin! Dingin sekali! Jadi, wajar bila jam sepagi itu baru sedikit orang di desaku yang mau meninggalkan rumah untuk bekerja.
Berbeda denganku. Karena dituntut untuk tidak sampai terlambat tiba di sekolah. Walau udara masih terasa dingin. Walau hari masih sangat pagi. Walau badan masih menggigil. Mau tak mau aku harus sudah bersiap diri untuk berangkat sekolah. Apalagi sekolahku cukup jauh jaraknya dari rumah.
Di SMP Negeri 1 Paninggaran, itu tempat sekolahku. Untuk bisa sampai di sekolah, hampir setiap pagi aku selalu menumpang bus umum. Bus yang selalu melintas di jalan raya depan rumahku.
Benar. Pagi itu aku tiba di sekolah jam 06.45. Di halaman belum tampak banyak anak yang datang. Rupanya baru beberapa temanku saja yang ada. Mereka antara lain; Gadis, Melati, Teten, Dhestya, dan Jaka. Semua terlihat asyik berbincang di bangku taman.
“Hallo! Selamat pagi, Virdha! Apa kabar?”demikian sapa Melati begitu melihatku turun dari bus.
“Hallo! Selamat pagi juga! Kabarku baik-baik saja,Sobat,”jawabku seraya menghampiri Melati dan teman-teman.
“Syukurlah kalau begitu,”ujar anak berkulit hitam manis tadi sambil tersenyum.
“Virdha!”ujar Melati kemudian.
“Ya! Ada apa lagi, Sobat?”sahutku menyimpan tanda tanya.
“Cepat kautaruh tasmu ke dalam kelas! Kemudian segera ke sini lagi!”
“Lho! Memangnya ada apa, Kawan?”tanyaku dengan kening sedikit berkerut.
“Mau ikut kami, tidak?”balas Melati.
“Ke mana?”dengan rasa penasaran, aku bertanya lagi.
“Ke kantor guru untuk menemui Bu Nuning.”
“Ada apa dengan Bu Nuning?”tanyaku masih dengan rasa penasaran
“Kata Beliau,”jawab Melati menerangkan. “Di kantor ada Pengumuman Sayembara Mengarang.”
“Sayembara mengarang untuk kita?”
Melati mengangguk.
“Kalau begitu, aku ikut, ah!”kataku mantap.
“Kalau mau ikut, lekas kautaruh dulu tasmu , Virdha!”sela Gadis seperti tak sabar.
“Oke. Tunggu sebentar!”jawabku seraya mengambil langkah setengah berlari menuju ke ruang kelas 3A. Kelas tempatku biasa menuntut ilmu sehari-hari di sana.
Tak lebih dua menit dari itu, kutemui lagi Melati, Gadis, dan kawan-kawan lain di bangku taman.
“Bagaimana, Sobat? Rencana untuk menemui Bu Nuning, jadi tidak?”tanyaku kepada Melati.
“Tak jadi,”jawab Melati singkat.
“Kenapa?”sahutku tak mengerti.
“Baru saja Bahtiar membawa kabar dari Bu Nuning,”kata Melati. “Bahwa pengumuman yang kami maksudkan tadi akan disampaikan Bu Guru nanti di depan kelas.”
“Betul, Virdha! Aku baru saja bertemu Bu Nuning di depan kantor. Beliau mengatakan seperti apa yang diutarakan Melati tadi,”ujar Bahtiar meyakinkan.
“Oh…! Begitu?”sahutku seraya mengangguk-angguk kecewa.“Iya sudah, kita tunggu saja saatnya nanti,”lanjutku tak semangat.
“Tak usah kecewa,Sobat! Kita sama-sama menunggu. Oke?”ujar Melati sembari tersenyum membangkitkan semangatku.
Aku mengangguk, mengiyakan.
Usai itu, kami duduk-duduk di bangku taman kembali. Banyak gurauan segar yang kami perbincangkan di sana. Karena sangat asyiknya, hampir saja kami tak mendengar bel pertanda sekolah masuk berdering dari arah kantor guru.
“Tiriririring…….! Tiriririring……….! Tiriririiiiiiiiiing…………….!”
Mendengar itu, Melati , Gadis , Teten, Dhestya, Jaka, Bahtiar, dan aku sendiri segera lari menuju kelas.
“Hore…….!”seru kami ramai berebut pintu kelas dengan anak yang lain.
Dalam sekejap keramaian itu pun berpindah ke dalam kelas. Banyak percakapan dan cerita teman-teman yang tercurah di situ. Banyak ragam cerita mereka. Ada yang bercerita tentang PR Bahasa Indonesia yang belum selesai dikerjakan. Ada yang memperbincangkan pengalaman sepanjang perjalanan ketika berangkat sekolah tadi pagi. Bahkan ada pula yang membicarakan bagusnya acara sinetron remaja yang mereka saksikan kemarin petang di layar televisi. Percakapan kami baru bisa diam oleh kehadiran Bu Guru Nuning ke dalam kelas.
“Selamat pagi, Anak-anak!”sapa Bu Guru kami yang amat lincah itu dengan ramah.
“Selamat pagi, Bu……….!”balas kami serempak.
“Pelajaran apa sekarang, Anak-anak?”lanjut Bu Guru yang masih muda belia tadi seraya tersenyum manis.
“Bahasa Indonesia, Bu…….!”sahut Bahtiar lantang dari bangku belakang.
“Oh, ya?”sahut Bu Guru yang berlesung pipit di kedua pipinya tadi sambil mengambil duduk di kursi kerjanya.
“Iya, Bu!”kembali Bahtiar berseru untuk meyakinkan Bu Nuning.
“Baiklah,”sahut Bu Guru yang cantik itu dengan ramah.“Sebelum Ibu berikan pelajaran Bahasa Indonesia,”demikian lanjutnya. “Terlebih dulu akan Ibu bacakan sebuah pengumuman penting untuk kalian.”
“Kiranya pengumuman apa, Bu?”tanya Ardhana dari bangku tengah, ingin tahu.
“Pengumuman tentang sayembara mengarang, Anak-anak.”
“Prosa atau puisi, Bu?”aku segera bertanya.
“Prosa.”
“Fiksi atau nonfiksi, Bu?”tanyaku lagi.
“Fiksi dan nonfiksi.”
“Siapa penyelenggaranya, Bu?”Gadis ikut bertanya, ingin mengerti.
“Penyelenggaranya,”jawab Bu Nuning sambil tersenyum manis. “Kerja sama antara Dinas Pendidikan, Dewan Kesenian Daerah, dan Pemerintah Kabupaten Pekalongan,Anak-anak.”
“Dalam rangka apa sayembara tersebut diselenggarakan, Bu?”sela Teten ingin mengerti juga.
“Dalam rangka menyambut Bulan Bahasa, Oktober mendatang, Anak-anak.”
“Siapa saja yang boleh mengikuti sayembara tersebut, Bu?”Dhestya juga ikut bertanya.
“Sayembara ini diperuntukkan bagi siswa-siswi tingkat SD/MI, SMP/MTs, SMA/SMK negeri maupun swasta, Anak-anak. Terutama bagi siswa-siswi yang bertempat tinggal di wilayah Kabupaten Pekalongan,”jawab Bu Guru Nuning panjang.
“Pesertanya perorangan apa kelompok,Bu?”tanya Jaka.
“Sesuai dengan apa yang tertera di lembar pengumuman ini,”demikian Bu Guru yang masih lajang tadi menjawab. “Pesertanya boleh perorangan, boleh pula kelompok.”
“Lantas, berapa rupiah hadiahnya, Bu?”sela Melati.
“Hadiah yang disediakan,”sahut Bu Nuning. “Untuk pemenenang I, sebesar Rp3.000.000,00. Pemenenang II, Rp 2.500.000,00. Pemenang III, Rp 2.000.000,00. Harapan I, Rp 1.500.000,00. Harapan II, Rp 1.000.000,00. Harapan III, Rp 500.000,00.”
“Wah! Menarik sekali hadiahnya ya, Bu?”seru Jaka dengan wajah ceria.
“Memang menarik sekali, Jaka! Kau akan mengikutinya, bukan?”
“Saya akan mencobanya, Bu,”jawab Jaka penuh angan-angan.
“Cobalah! Siapa tahu, kau pemenangnya, Jaka?”
“Amin,Bu! Amin….!”
Tak lama dari itu, kami memasang telinga baik-baik untuk mendengarkan pengumuman yang akan dibacakan Bu Guru Nuning selanjutnya.
“Sayembara ini bertema “Dengan Sayembara Mengarang, Kita Ciptakan Generasi Muda yang Berbudi Pekerti Luhur, Cerdas, Terampil, dan Kreatif untuk Menyongsong Indonesia di Masa Mendatang.”
”Terus apa lagi, Bu?”tanya Bahtiar menyela.
“ Panjang karangan yang beragam prosa ini,”ujar Bu Guru kemudian,” Sedikitnya 10 halaman kertas folio, atau 20 halaman kertas kwarto.”
“Terus, Bu?”potong Dhestya.
“Hasil karangan diketahui oleh Kepala Sekolah. Karangan dimasukkan ke dalam amplop tertutup. Masing-masing dibubuhi kode A, untuk kelompok SD. Kode B, untuk kelompok SMP, dan kode C, untuk kelompok SMA.”
“Seterusnya, Bu?”sela Ardhana.
“Karangan bisa dikirim langsung atau lewat jasa pos ke alamat panitia, Jl. Sumbing
Nomor 3 Kajen. Karangan ditunggu paling lambat tanggal 31 Agustus (cap pos).”
“Selanjutnya,Bu?”Melati ikut menimpali.
“Para pemenang akan diundang oleh panitia untuk ikut upacara bersama Bupati.
Tepatnya pada Hari Sumpah Pemuda, tanggal 28 Oktober mendatang di alun-alun Kota Kajen.”
“Wah,wah,wah…..! Sungguh membanggakan sekali bagi yang menang, ya,Bu! Bisa upacara bersama Bupati,”seru Ardhana kagum.
“Iya. Memang membanggakan sekali, Dhan. Apakah kau tidak ingin mengikutinya?”
Ardhana tersenyum. “Seperti Jaka. Saya akan mencobanya, Bu,”kata anak yang berambut sedikit ikal itu penuh semangat.
“Cobalah! Siapa tahu engkau termasuk pemenangnya, Dhan?”
“Terima kasih, Bu! Doa Bu Guru senantiasa saya dambakan,”sahut Ardhana mantap.
Selang sesaat.
“Dari apa yang Ibu utarakan tadi, adakah yang ingin kalian tanyakan, Anak-anak?”tanya Bu Guru Nuning.
“Ada, Bu!”sahutku dari bangku depan.
“Iya, silakan! Apa yang akan kautanyakan, Virdha?”sahut Bu Guru seraya berpaling ke arahku.
“Untuk karangan nonfiksi, kiranya boleh menulis biografi seseorang tidak, Bu?”
“Maksudmu, kisah tetang sukses seseorang,Virdha?”
“Iya, Bu,”jawabku sambil mengangguk.
“Oh….. ! Itu, boleh saja, Virdha,”ujar Bu Guru. “Apakah kau suka menulis biografi seseorang, Virdha?”
“Iya. Saya suka, Bu.”
“Kalau suka, cobalah! Ibu punya nara sumbernya.”
“Maksud, Ibu?”dengan penuh rasa ingin tahu, aku bertanya.
“Bu Guru punya alamat seseorang yang cukup layak untuk ditulis riwayat hidupnya, Virdha.”
“Siapakah orang itu, Bu?”
“Orang itu, seorang guru teladan. Mulai dari tingkat kabupaten, hingga luar negeri,”demikian jawab Bu Guru.
“Betulkah itu., Bu?”tanyaku ingin keyakinan.
Bu Nuning mengangguk. Meyakinkan.
“Maka, bila kau ingin tahu dan membutuhkan alamatnya,”ujar Bu Nuning. “Silakan nanti sore datang saja ke rumah Bu Guru!”
“Bolehkah saya datang bersama teman yang lain, Bu?”usulku penuh harap.
“Mengapa tidak boleh, Virdha?”Bu Nuning balik bertanya.
Aku tersenyum.
“Terima kasih. Kalau begitu, nanti sore saya akan datang ke rumah Ibu,”janjiku.
“Saya ikut,”potong Melati.
“Saya juga ikut,”tambah Gadis.
“Saya ikut juga,”pinta Teten.
“Saya jangan kalian tinggal!”Dhestya tidak mau ketinggalan.
“Baik. Silakan kalian datang. Akan Ibu Guru tunggu.”
“Terima kasih, Bu,”ucapku mewakili teman-teman.
Sekejap dari itu, bel tanda istirakhat terdengar berdering nyaring dari kantor guru. Maka, Bu Nuning pun segera keluar meninggalkan kelas. Demikian pula kami.

___________________

Info: Buku Baru

Standar

Telah terbit buku kumpulan cerita anak terbaru “Seuntai Kalung Emas” karya Sardono Syarief, Ketua Umum Agupena Kabupaten Pekalongan yang sehari-hari aktif sebagai pengajar, pendidik, serta menulis cerita anak-anak untuk anak didiknya di sekolah.
Buku setebal 100 halaman yang berisi kisah teladan mengenai sikap, budi pekerti positip, serta berkarakter terpuji oleh para tokoh ceritanya ini sangat cocok dimiliki dan dibaca oleh setiap siswa SD/MI atau orang-orang tua dan guru sebagai pelengkap cerita pengantar tidur atau berkisah di depan kelas.
Buku terbitan akhir tahun 2011 yang dihiasi dengan 14 illustrasi menarik ini dibandrol dengan harga Rp 25.000,-. Bagi peminat bisa pesan langsung ke penerbitnya, CV. Cipta Prima Nusantara Semarang, dengan alamat Sukorejo RT 03/RW 01 Gunungpati, Semarang, atau via e-mail: ciptaprimanusantara@gmail.com, Hp 081326393554. Berminat? Silakan kontak alamat tersebut di atas!

BAJU PRAMUKA

Standar

Oleh Sardono Syarief

“Kloneng, kloneng, kloneng….!”lonceng yang tergantung di dekat pintu kantor guru memanggil anak-anak yang sedang istirakhat untuk kembali masuk ke ruang kelas masing-masing.
Sabtu siang itu pelajaran di kelas 6 SDN 02 Lumeneng adalah Seni Budaya dan Keterampilan (SBK). Bu Isti, guru kelasnya mengisi mata pelajaran tersebut dengan berbagai tanya jawab sehubungan dengan akan diberangkatkannya regu pramuka ke bumi perkemahan bulan Agustus mendatang.
“Selamat siang, Anak-anak!”demikian ujar Bu Isti ketika tiba di kelas. “Siapa di antara kalian yang masih ingat, tanggal berapa diperingatinya hari pramuka, Anak-anak?”
“Tanggal 14 Agustus, Bu!”jawab semua anak serempak.
“Bagus! Bagus! Kalian masih ingat betul, rupanya!”kata Bu Guru Isti memuji.
“Memangnya ada apa, Bu?”tanya Rijo sambil berdiri dari tempat duduknya, ingin tahu.
Sembari tersenyum simpul, Bu Is menjawab,“Untuk memperingati hari lahirnya pramuka tersebut, kita akan mengadakan kemah.”
“Kita akan berkemah, Bu?”tanya Mulyo dengan nada gembira.
“Ya, kita akan berkemah selama tiga hari, Anak-anak,”sahut Bu Guru Is dengan mantap.
“Di mana itu, Bu?”sela Reni.
“Di lapangan Siwedus-Desa Paninggaran.”
“Oh, desa di sebelah utara desa kita ini bukan , Bu?”potong Imah dengan kening berkerut-kerut. Ia membayangkan, betapa jauhnya jarak desa tersebut dari desa tempat tinggalnya.
Bu Guru Isti cuma mengangguk, mengiyakan.
“Kapan kiranya kita akan berangkat ke bumi perkemahan, Bu?”Leni ikut bertanya.
“Hari Jumat, bulan Agustus, minggu kedua.”
“Kalau Jumat berangkat, lantas hari apa kita pulang, Bu?”Ifiharti menyela.
“Senin pagi.”
“Jadi berapa hari kita ada di bumi perkemahan, Bu?”masih tanya Ifiharti.
“Sekitar tiga hari.”
Suasana kelas hening sejenak. Anak-anak tampak larut dalam pikirannya masing-masing.
“Kira-kira berapa anak dari sekolah kita yang akan diberangkatkan, Bu?”tanya Aryo memecah keheningan.
“Dari kelas 4, lima anak. Kelas 5, lima anak. Selainnya dari kelas 6, yaitu 20 anak. Jadi, ada berapa anak jumlah semuanya, Anak-anak?”
“Tiga puluh anak, Bu!”seru Sri dengan segera.
“Ya. tiga puluh anak,”ujar Bu Isti mengulang kalimat Sri.
“Lantas, akan dijadikan berapa tenda dan berapa regu, Bu?”masih tanya Sri.
Bu Isti tidak segera menjawab. Sejenak beliau mengolah pikir. Selang dua detik kemudian,”Kita jadikan tiga tenda, dan kita bagi menjadi enam regu.”
“Baik, Bu,”sela Aryo. “Apakah anak kelas 6 dari SD sini harus ikut semua, Bu?”lanjut si ketua kelas tadi meminta kejelasan.
“Ya. Semua harus ikut. Kecuali yang sakit!”jawab Bu Guru Is tegas.
Usai berkata demikian, diamlah Bu Is untuk menunggu pertanyaan teman Aryo yang lain. Suasana tanya jawab tampaknya berlangsung lama hingga siang.
***

Matahari tepat di atas kepala, ketika anak-anak pulang dari sekolah. Siang itu cuaca panas sekali. Udara terasa amat gerah. Gersang! Tenggorokan kering karena haus, sempat memaksa empat anak lelaki mampir ke gubug Ratman untuk meminta air putih. Keempat anak itu antara lain; Aryo, Rijo, Mulyo, dan Rudin.
“Permisi, Mbok! Ratman ada di rumah, Mbok?”salam Aryo dengan sopan.
Nenek tua yang di tangannya sedang menjahit baju pramuka usang itu, segera menjawab.
“Oh, ada, Nak, ada…! Mari silakan masuk!”dengan tergopoh-gopoh nenek tua yang ternyata ibu Ratman menyilakan Aryo dan kawan-kawan masuk.
Aryo dan ketiga temannya menurut. Mereka duduk di lincak bambu di sudut gubug tua warisan almarhum ayah Ratman.
Sementara itu, ibu Ratman segera menuju ke ruang tengah untuk mendapatkan Ratman, anak tunggalnya.
“Man! Itu ada kawan-kawanmu datang. Cepat temui mereka!”kata-kata ibu Ratman.
Ratman menurut. Anak lelaki yang murah senyum itu keluar menemui tamunya.
“Hai, Man! Kenapa empat hari ini engkau tak pernah masuk sekolah? Sakitkah engkau?”demikian Aryo bertanya panjang.
“Ya! Kenapa, Man?”tambah Rudin.
Ratman diam membisu.
“Sebenarnya sakit sih tidak, Nak,”jawab Mbok Ratman menerangkan. “Ratman cuma bingung. Sehari-hari ia hanya menangis saja. Gelisah dan tak mau makan.”
“Lho! Memangnya kenapa, Mbok?”dengan nada cukup kaget Rijo menyahuti.
“Ratman takut dimarahi gurunya, Nak. Sebab lusa ia tidak bakal bisa mengikuti kemah.”
“Kenapa memangnya, Mbok?”Mulyo ikut bertanya.
“Sebab Ratman tidak punya seragam pramuka yang pantas pakai, Nak. Lagipula ia tidak punya uang saku untuk bayar iurannya. Untuk itu Ratman pilih mogok sekolah.”
Mendengar penuturan tersebut, keempat kawan Ratman kaget seketika. Ada rasa haru bercampur iba di hati mereka. Oleh sebab itu untuk sesaat suasana jadi hening.
“Maaf, Mbok,”ujar Aryo memecah keheningan. “Untuk urusan seragam maupun uang saku, tak usah Embok maupun Ratman pikirkan,”sambung si anak orang kaya di desanya itu penuh janji. “Kami semua nanti yang akan mencarikan jalan keluar bagi kesulitan Ratman, Mbok.”
” Betul, Mbok! Kami semua nanti yang akan mencarikan jalan keluar! Yang penting kau bersiap diri, Man. Besok lusa kau akan kami jemput untuk ikut kemah. Bagaimana?”tambah Rudin meyakinkan.
“Tapi….!”sambil tengadah memandang Rudin, Ratman membuka mulut.
“Tapi apa…?”
“Baju seragam dan uang saku, begitu?”sahut Aryo cepat.
Ratman mengangguk.
“Kau tak usah khawatir, Man! Tinggal berangkat! Semua urusan kami. Bagaimana?”
Ratman mengangguk lagi.
“Sudah. Kalau begitu, kami pulang dulu. Lusa kau kami jemput,”demikian Aryo berkata mantap.
***

Angin dingin masih terasa menggigil mengusap kulit. Kabut putih masih terlihat menyelimuti puncak gunung Slamet. Burung prenjak masih terdengar ramai kicaunya di dedahan cengkeh.
Pagi itu anak-anak SDN 02 Lumeneng berbondong-bondong berangkat ke bumi perkemahan dengan berjalan kaki. Mereka berjalan di sepanjang pematang sawah sambil bernyanyi-nyanyi riang. Hingga tak terasa jalan turun-naik mendaki perbukitan telah jauh ditempuhnya.
“Ayo, kita nyanyi terus! Ayo, Man, kita nyanyi terus untuk menghibur kesedihan hati! Kita semua pramuka, harus senantiasa gembira! Pantang sedih, pantang menyerah!”demikian seru Aryo di tengah-tengah anak lainnya.
Mereka terus melangkah ke arah utara sambil terus bertepuk tangan. Lagu ‘Di Sini Senang di Sana Senang’ terus mereka dendangkan. Hingga tak terasa mereka tiba di tempat tujuan. Aryo dan kawan-kawan merasa senang. Demikian pula Ratman.***

Sardono Syarief
Jl. Raya Domiyang No.116
Paninggaran-Pekalongan 51164

Puisi “PEKALONGAN, KOTA SANTRIKU”

Standar

Nek, dulu kau berkata
Pekalongan bakal menggema ke mana-mana lewat kota santrinya,
Pekalongan bakal terkenal di jagad internasional
Eriyah, sang primadona desa kaliboja,
Ari Yustisia Akbar, sang jawara olimpiade kimia tingkat dunia,
Siapa yang tak kenal?

Nek, kini terbukti sudah
Pekalongan telah banyak berubah
Sinar kotanya menerangi kegelapan berjuta jiwa rakyat yang ada
Cahyanya menghangatkan suasana kehidupan umat beragama

Apalagi kini, Pekalongan di bawah pimpinan ibu Bupati
Kemajuan pembangunan muncul di sana-sini
Pekalongan makin maju oleh banyak dosen dan guru
Yang siap mengatasi ketertinggalan pengetahuan dan ilmu

Nek,aku yakin, bila besok kau telah pulang dari Jedah
Tentu Nenek akan betah tinggal bersama Ibu Qomariyah
Bupati Pekalongan yang telah banyak membawa berkah

Nek, sungguh aku sangat senang
Tinggal di pekalongan, kota santriku yang amat tenang…..

Paninggaran, 20 Agustus 2008

Oleh : VIRDHA ANGGYTA

Kelas VI SDN 01 Paninggaran
Pekalongan 51164