Monthly Archives: November 2012

CERMIN DI TENGAH BATANG (Bagian VIII)

Standar

8. MELAWAN BADAI UJIAN
Oleh Sardono Syarief

“Maaf, Pak!”ujar Gadis seraya menggeser letak duduknya.
“Iya?”
“Tahun berapa dulu Pak Gito bisa meneruskan sekolah lagi, Pak?”
Pak Gito menelan ludah pahit.
“Sampai awal tahun 1975, Pak Gito belum bisa masuk sekolah lagi, Nak. Ini berarti tahun ketiga bagi Pak Gito menjadi pengangguran total. Bekerja, tidak. Sekolah pun apalagi?”
“Terus, apa yang diperbuat Pak Gito selanjutnya?”pancing Gadis.
“Demi bisa mewujudkan keinginan untuk bisa bersekolah lagi,”demikian tutur Pak Gito. “Dengan berbekal ijazah STN, Pak Gito mencoba melamar pekerjaan di pabrik textile PT. Primatexo Indonesia.”
“Apakah lamaran Pak Gito bisa diterima?”masih tanya Gadis.
“Setelah melewati masa-masa seleksi yang amat ketat,”jawab Pak Gito. “Setelah melewati penyaringan data dari sekian ratus pelamar,”sambungnya. “Alhamdulillah! Pada tanggal 13 Oktober 1975, dengan Surat Keputusan Direktur PT Primatexo Indonesia, Tamim Basuni, SE, Pak Gito diterima sebagai karyawan baru di PT tersebut. Pak Gito diterima di bagian Weaving Preparations (WP) sebagai Pembantu Operator.”
“Dengan demikian,”kataku. “Karena bisa memperoleh uang sendiri,”sambungku lagi. “Apakah masih ada keinginan bagi Pak Gito untuk bersekolah kembali,Pak?”
“Iya, masih!”sahut Pak Gito mantap. “Lebih-lebih bila melihat banyak anak sedang berangkat atau pulang sekolah. Keinginan Pak Gito untuk kembali ke bangku sekolah,
sungguh tak terbendungkan! Namun, ah….!”Pak Gito tidak melanjutkan kalimatnya.
“Namun, kenapa, Pak?”sahut Gadis cepat.
“Ada dua pilihan berat yang berkecamuk di dalam pikiran Pak Gito.”
“Maksud, Pak Gito?”kening Gadis berkerut.
“Pak Gito dihadapkan pada dua pilihan, yaitu antara tetap bekerja dan bersekolah lagi.”
“Kalau memilih bersekolah lagi, apa yang menjadi batu sandungan bagi Pak Gito?”tanyaku ingin tahu.
“Yang menjadi batu sandungan bagi saya,”demikian Pak Gito berujar.”Mampukah saya mengikuti pelajaran, karena sudah tiga tahun berlalu tidak bersekolah? Adakah sekolahan yang mau menerima seorang buruh pabrik seperti saya ini? Andaikan ada, bagaimana cara saya membagi waktu, antara sekolah dan bekerja?”
“Terus kenyataannya bisa ‘kan, Pak?”
Pak Gito mengangguk. Read the rest of this entry

Iklan