CERMIN DI TENGAH BATANG (Bagian VII)

Standar

7. IMPIAN DI TENGAH GULITA
Oleh Sardono Syarief

Kami masih duduk-duduk di hadapan Pak Sugito. Seraya menikmati kue klepon yang dihidangkan Bu Rindiyani tadi, sekali-sekali kami mengajukan pertanyaan demikian.
“Tahun berapa Pak Gito tamat STN 2 Batang, Pak?”tanyaku.
“Akhir tahun 1972.”
“Setamat dari STN, ke mana lagi Pak Gito meneruskan sekolah, Pak?”masih aku,Virdha, yang bertanya.
Pak Gito menggeleng lemah.
“Kenapa, Pak?”
“Pak Wa’as, Kakek yang mengasuh Pak Gito, tak sanggup lagi membiayai sekolah Bapak.”
“Apa alasan Pak Wa’as, Pak?”kali ini Melati yang bertanya.
“Sebagai petugas jaga malam di pabrik textile PT Primatexo Indonesia,”ujar Pak Gito panjang. “Penghasilan Pak Wa’as tak cukup untuk biaya sekolah Pak Gito.”
“Lalu?”selidik Gadis.
“Pak Gito jadi pengangguran total,”jawab Pak Gito tak semangat seperti teringat masa kecilnya. “Tidak sekolah, juga tidak bekerja.”sambung Bapak dari ketiga anak itu menandaskan. “Kerja Pak Gito cuma membantu Nenek Siti Dasti berjualan beras dan minyak di rumah.”
“Bagaimana dengan Ujang Wahadi, Pak?”potong Bahtiar ingin mengerti.
“Ujang Wahadi melanjutkan ke Sekolah Teknik Menengah (STM) Perkapalan Baita Cipta, Pekalongan,menyusul Rokhmat.”
“Terus, bagaimana dengan Rokhmat, Pak?”sela Ardhana.
“Rokhmat telah naik kelas 2 di STM Perkapalan Baita Cipta, Pekalongan.”
“Lalu, Pak?”selidik Jaka.
“Dengan adanya Rokhmat dan Ujang Wahadi bersekolah di STM tersebut,”Pak Gito menjawab. “Berarti keduanya merupakan warga Dukuh Kebrok, Desa Sambong, Kecamatan Batang, Kabupaten Batang yang pertama kali mengenyam pendidikan di bangku sekolah lanjutan atas.”
“Wah! Hebat sekali keduanya ya, Pak? Luar biasa, mereka!”aku terkagum-kagum.
“Iya. Memang luar biasa, mereka!”puji Pak Gito ikut merasa salut.
“Inginkah saat itu Pak Gito bersekolah seperti Ujang Wahadi dan Rokhmat, Pak?”masih aku yang mengajukan pertanyaan.
“Keinginan untuk bisa sekolah seperti keduanya, tentu saja ada. Namun apa daya, biaya Kakek Wa’as tak mencukupi?”
“Selama tidak sekolah,”sela Melati. “ Selain membantu Nenek berjualan beras dan minyak di rumah,”sambung Melati lagi. “Kegiatan apa saja yang Pak Gito kerjakan?”
“Seperti hari-hari biasa,”sahut Pak Gito. “Setiap lepas maghrib, Pak Gito selalu rajin belajar mengaji mengeja huruf Al-Quran dan pesolatan pada Ustad Masdar,”ujar Pak Gito menjelaskan. “Di rumah Ustad yang satu ini,”demikian lanjut Pak Gito. “Pak Gito bisa bertemu dengan Ujang Wahadi, Rokhmat, maupun teman-teman lain dari Dukuh Kebrok.”
“Terus, selain belajar mengeja huruf Al-Quran dan pesolatan,”timpal Dhestya.”Pelajaran apa lagi yang diperoleh dari Ustad Masdar, Pak?”
“Pelajaran tentang landasan keimanan, Anak-anak.”
“Lantas, bagaimana dengan kegiatan mengarang Pak Gito? Apakah tetap dilakukan sebagaimana ketika duduk di STN 2 Batang, Pak?”sela Teten.
“Meskipun tidak sekolah,”jawab Pak Gito seraya tersenyum. “Selain rajin mengaji
dan membaca buku-buku cerita kelasik,”lanjutnya. “Di rumah, Pak Gito juga masih suka mengarang cerita pendek maupun puisi.”
“Kiranya buku kelasik karya siapa saja yang pernah Pak Gito baca?”tambah Bahtiar.
“Buku-buku karya SH. Mintarja dan RA. Kosasih.”
“Apa saja contoh judulnya, Pak?”masih tanya Bahtiar.
“Naga Sasra, Sabuk Inten, dan Api di Bukit Menoreh, karya SH. Mintarja. Sedangkan karya RA. Kosasih, contohnya; serial wayang Mahabrata, dan Bhratayuda.”
“Terus, mengenai kegiatan mengarang,”aku menyela. “Apakah Pak Gito pernah mencoba mengirimkan hasil tulisan Bapak ke majalah atau surat kabar?”
“Pernah,”sahut Pak Gito. “Namun, tulisan Pak Gito tak pernah ada yang dimuat.”
“Lantas, apa yang kemudian Pak Gito lakukan?”Melati ikut bertanya.
“Pak Gito tak pernah bosan untuk terus mengarang cerita pendek maupun puisi.”
“Lalu?”masih tanya Melati.
“Cerita maupun puisi tadi Pak Gito bukukan. Namun sayang…….”
“Sayang kenapa, Pak?”Melati sedikit kaget.
“Semua cerita maupun puisi karya Bapak hilang bersama bukunya.”
“Hilang ke mana, Pak?”tanya Gadis ingin mengerti lebih jauh.
“Hilang dipinjam teman.”
“Sayang sekali ya, Pak?”Ardhana ikut menyayangkan hilangnya buku kumpulan cerita maupun puisi milik Pak Gito tadi.
Pak Gito mengangguk, mengiyakan.
“Lalu, apa lagi kegiatan Pak Gito yang lain?”tanya Jaka.
“Hampir setiap sore tiba,”jawab Pak Gito. “Bersama Ujang Wahadi, Amat Danusari,dan Suroso, Pak Gito mencari kayu bakar di pinggir hutan sebelah desa.”
“Untuk apa, Pak?”sela Gadis.
“Untuk bahan bakar memasak dan menanak nasi di tungku.”
“Apakah tak ada kompor gas,Pak?”tambah Teten.
“Jangankan kompor gas,”sahut Pak Gito. “Kompor minyak tanah saja pun saat itu warga Dukuh Kebrok belum ada yang punya, Anak-anak.”
“Mengapa sebabnya, Pak?”dengan sedikit penasaran, Dhestya bertanya.
“Sebab warga Dukuh Kebrok saat itu lebih baik pilih memasak dengan tungku. Memasak yang tak harus mengeluarkan banyak biaya.”
“Terus, untuk membuang kejenuhan,”selaku. “Apakah Pak Gito juga suka menonton hiburan, Pak?”
“Ya, suka juga,”ujar Pak Gito sambil tersenyum.
“Tontonan apa yang Pak Gito sukai?”
“Pemutaran film misbar .”
“Apa maksud film misbar itu, Pak?”potong Dhestya.
“Film yang diputar oleh sponsor di tengah tanah lapang. Film itu akan bubar bila turun hujan atau gerimis. Sehingga sering diistilahkan sebagai film misbar. Bila gerimis, bubar. Karena di tengah lapang tak ada atap yang dipasang.”
“Apa tidak lebih baik nonton TV di rumah saja, Pak?” tanya Melati.
“Saat itu di Dukuh Kebrok belum ada orang yang punya TV.”
“Walau TV hitam putih sekali pun, Pak?”potongkku.
“Iya. TV baru bisa dimiliki oleh orang-orang kota. Itu pun orang-orang yang kaya. Orang kampung seperti di desa Bapak, belum ada yang mampu membeli.”
Mendengar itu, kami mengangguk-angguk, mengerti.
“Berarti, waktu itu di Dukuh Kebrok tidak seramai sekarang, Pak?”ujar Bahtiar ingin keyakinan.
“Betul! Sungguh amat berbeda dari yang sekarang ada, Nak!”sahut Pak Gito mantap.
“Apa misalnya, Pak?”
“Misalnya,”sahut Pak Gito.
“Kalau dulu bila turun hujan di dukuh ini jalanan dan gang-gang amat becek, sekarang tidak. Kalau dulu, di dukuh dan desa ini gelap gulita, sekarang terang-benderang oleh lampu listrik Negara. Kalau dulu di desa ini belum ada yang punya TV, sekarang hampir setiap rumah orang memiliki TV. Kalau dulu anak yang sekolah ke lanjutan masih bisa dihitung dengan jari tangan, sekarang hampir setiap orang tua di dukuh Pak Gito menyekolahkan anaknya. Dan masih banyak perbedaan menonjol yang lainnya lagi.”
“Berarti banyak kemajuan dan perubahan ya, Pak?”masih tanya Bahtiar.
“Sungguh luar biasa kemajuan dan perubahannya, Nak!”sahut Pak Gito seraya mengangguk. “Dulu dukuh dan desa Pak Gito sepi, sekarang ramai sepanjang malam dan hari,”tambahnya.
“Maaf, Pak!”potong Gadis.
Pak Gito segera berpaling ke arah Gadis.
“Setelah setahun Pak Gito tak sekolah,”ujar Gadis. “Apakah masih ada keinginan di hati Pak Gito untuk bersekolah lagi, Pak?”
“O, jelas masih ada!”sahut Pak Gito cepat. “Bahkan demi bisa mewujudkan impian tersebut,”tambahnya. “Pada awal tahun 1974 Pak Gito mencoba berkirim surat kepada si Ratu Dangdut Indonesia, Elvy Sukaesih, di Jakarta.”
“Apa yang diharapkan Pak Gito dari Elvy Sukaesih tadi, Pak?”potongku.
“Pak Gito berharap,”ujarnya. “si Ratu Dangdut tadi berkenan untuk memberi bantuan dana bagi anak putus sekolah seperti Pak Gito ini.”
“Bagaimana kenyataannya, Pak?”masih tanyaku.
“Semua cuma harapan hampa,”jawab Suami Ibu Rindiyani tadi lemah. “Pak Gito tidak pernah mendapatkan balasan apa pun dari si Artis kesayangan Bapak tadi.”
“Lantas, akhirnya bagaimana, Pak?”Melati menambahi.
“Akhirnya,”sahut Pak Gito. “Pupuslah sudah harapan Pak Gito untuk bisa masuk sekolah lagi di tahun 1974.”
“Ini berarti untuk tahun ke berapa Pak Gito tidak jadi anak sekolah?”tanya Dhestya.
“Tahun yang kedua.”
“Sejauh itu, bagaimana kabar sekolah Rokhmat maupun Ujang Wahadi, Pak?”
“Rokhmat, naik kelas 3, sedangkan Ujang Wahadi, naik kelas 2 STM Perkapalan Baita Cipta Pekalongan.”
“Karena gagal bersekolah lagi,”ujarku, Virdha. “Lantas, kegiatan apa yang kemudian Pak Gito lakukan setiap hari?”
“Oleh Om Amat, Pak Gito diajak magang kerja di bengkel mobil terkenal di kota Batang,”jawab Pak Gito. “Namun, karena di hati Pak Gito senantiasa dihantui keinginan untuk bisa bersekolah lagi,”sambungnya. “Maka, baru bekerja selama 5 bulan, Pak Gito memilih keluar dari bengkel tersebut.”
“Terus, ke mana Pak Gito bekerja?”tanya Ardhana.
“Pak Gito menjadi pengangguran total lagi.”
“Lalu, apa yang dilakukan Pak Gito di rumah?”kembali Ardhana bertanya.
“Untuk mengisi hari-hari menjenuhkan,”ujar Pak Gito. “Pak Gito minta dibelikan seekor kambing pada Kakek Wa’as,”sambungnya “Kakek mengabulkan permintaan Pak Gito. Maka, jadilah Pak Gito sebagai seorang gembala kambing.”
“Kiranya apa saja yang biasa dilakukan oleh seorang gembala kambing, Pak?”komentar Bahtiar seraya menggantikan kaset kosongnya ke dalam tape recorder.
“Yang biasa Pak Gito kerjakan sehari-hari,”jawab Pak Gito. “Pagi, membersihkan kandang. Siang, mencari rumput. Sore, menggembala kambing di tanah lapang.”
“Sampai berapa lama Pak Gito menjadi penggembala kambing, Pak?”Jaka ikut bertanya.
“Sekitar 3 bulan.”
“Mengapa tidak bertahan lama, Pak?”masih tanya Jaka.
“Sebab,”jawab Pak Gito. “Melihat kambing makin kurus,”tambahnya. “Kakek Wa’as
langsung menjualnya ke pasar, tanpa minta pertimbangan dulu kepada Pak Gito.”
“Lalu?”selidik Melati.
“Kembali Pak Gito jadi pengangguran total lagi.”
“Sungguh kasihan sekali nasib Pak Gito saat itu ya, Bu?”ujar Melati yang ditujukan kepada Ibu Rindiyani, istri tercinta Pak Gito.
Bu Rindiyani tersenyum.
“Untung saja, Pak Gito ini orangnya tegar dan tahan uji, Anak-anak,”komentar Bu Rindiyani dengan tulus.
“Mau apa lagi kalau tidak tahan uji, Bu?”sahut Pak Gito sambil tersenyum. “Kata orang, putus asa tidak boleh?”
“Putus asa, dosa ‘kan, Pak?”timbrung Teten dengan genitnya.
“Benar! Putus asa itu dosa,”tandas Pak Gito. “Oleh sebab itu,”katanya. “Untuk mengisi hari-hari menjenuhkan itu,”sambungnya lagi. “Pak Gito mencoba mengajukan lamaran kerja ke PT. Teknik Umum yang buka praktek di Batang.”
“Apakah lamaran Pak Gito langsung bisa diterima, Pak?”sahut Ardhana.
“Alhamdulillah…..Pak Gito langsung diterima untuk bekerja di perusahaan tersebut.”
“Apa yang dikerjakan Pak Gito di perusahaan itu?”
“Memasang kabel-kabel listrik untuk mesin tenun di pabrik textil.”
“Pabrik textil mana, Pak?”sahut Bahtiar.
“PT. Primatexo Indonesia, yang berdiri di pinggir jalan raya Desa Sambong, Batang itu.”
“Sampai berapa lama Pak Gito bekerja di perusahaan itu, Pak?”masih tanya Bahtiar.
“Sekitar 3 sampai 4 bulan.”
“Mengapa sesingkat itu, Pak? Apakah Pak Gito merasa tidak betah?”agak panjang, aku menyela.
“Bukan begitu!”tangkis Pak Gito cepat. “Bekerja di perusahaan ini sebenarnya Pak
Gito betah lagi senag,”ujarnya.”Namun, sayang………”
“Sayang kenapa, Pak?”masih tanyaku.
“Perusahaan tersebut pindah ke lain kota.”
“Apa sebabnya, Pak?”aku masih merasa penasaran.
“Sebab, masa kontrak kerja dengan PT. Primatexo Indonesia, sudah habis.”
“Lalu, bagaimana nasib Pak Gito?”Gadis menyambungi aku.
“Nasib Pak Gito, kembali menjadi pengangguran lagi.”
“Selama menjadi pengangguran kali ini,”ujar Gadis. “Kegiatan apa yang Pak Gito lakukan?”
“Siang hari, Pak Gito membantu Bu Tuminah, ibu kandung Pak Gito, membuat kue bongko di rumah. Sore harinya, Pak Gito pulang ke rumah Kakek Wa’as.”
“Memangnya, di mana Bu Tuminah jualan kue bongko, Pak?”sela Bahtiar.
“Di Pasar Batang.”
“Lantas kegiatan apa lagi yang Pak Gito lakukan selama jadi pengangguran kali ini,Pak?”potongku.
“Pak Gito pergi melawat ke Masjid Agung Demak dengan berkendaraan sepeda genjot.”
“Dengan siapa Pak Gito pergi ke sana?”
“Sendirian.”
“Untuk tujuan apa Pak Gito ke sana?”
“Untuk cari pengalaman. Untuk menyaksikan dari dekat tentang megahnya masjid sejarah warisan Wali Sembilan. Di samping itu, untuk membuang rasa jenuh selama tinggal di rumah.”
“Dengan berkendaraan sepeda genjot, apakah Pak Gito tidak merasa cape?”tanya Dhestya. “Bukankah jarak Batang – Demak cukup jauh?”
“Cape sih, iya…. Cuma, karena Pak Gito ingin mendapatkan banyak pengalaman. Jarak yang jauh dan rasa cape tadi, jadi terasa.”
Mendengar penuturan Pak Gito tadi, kami jadi paham.
Sementara, di luar angin kemarau bertiup semilir. Daun-daun mangga depan rumah, satu dua berjatuhan menghiasi hijau rerumputan di halaman. Siang terus merambat menuju tengah hari.
Melihat itu, ingin kami menikmati suasana teduh di bawah pohon mangga milik Pak Gito, tokoh idola yang saat itu sedang kami wawancara.***

(Bersambung)—————

Iklan

About sastrabocah

Sardono Syarief Lahir di Pekalongan, Jawa Tengah, Indonesia. Pendidikan: SD, SMP, SPG ditempuh di kota kelahiran, Pekalongan. Melanjutkan ke D-II dan S1 PGSD di UPBJJ Semarang dan Purwokerto, Jateng. Hobi menulis sejak di bangku kelas 6 SD lewat majalah dinding. Berlanjut di SMP hingga SPG Negeri Pekalongan (SMA 3) pada majalah dinding dan majalah sekolah "ASASSI" sebagai kontributor tulisan+anggota Redaksi bagian fiksi dan berita sekolah (1980-1982). Tahun 1983 mulai serius menulis puisi dan cerpen anak di media massa lokal maupun nasional hingga sekarang. Lebih dari 10 buku cerita anak-anak yang telah diterbitkan antara lain; Masih Ada Hari Esok, Anak-anak Kreatif, Roda-roda di Atas Jalan, Kerlip Lentera di Sudut Desa, Taman Mungil di Depan Istana, dll. Pernah juara dalam mengikuti sayembara mengarang naskah buku bacaan tingkat nasional yang diselenggarakan oleh Pusat Perbukuan,Departemen Pendidikan Nasional, Jakarta tahun 2003 dan 2004 sebagai juara II dan III. Mulai Juni 2009 ikut bergabung sebagai anggota Asosiasi Guru Penulis Seluruh Indonesia (Agupena) Jawa Tengah yang berpusat di Semarang.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s