KAWAN BARU (2)

Standar

Oleh Sardono Syarief

Kami semua diam memperhatikan anak lelaki yang berdiri di sisi kiri Bu Linda.
“Tentu kalian tahu,”lanjut Bu Guru Linda kemudian. “Kedatangan kawan baru kalian ini adalah untuk menimba ilmu di sekolah kita. Tepatnya di kelas 3A bersama kalian. Oleh sebab itu,”tambah Bu Guru. “Ibu berharap, semoga kalian bisa menerima anak ini dengan baik.”
“Oh…., jangan khawatir, Bu!”sela Bahtiar, si ketua kelas 3A, dengan tiba-tiba. “Kami semua bakal menerimanya dengan tangan terbuka, Bu. Betul tidak, Teman-teman…?”Bahtiar berdiri sambil berpaling kanan-kiri, ke arah kawan-kawan.
“Betul, Bu! Betul!”sahut teman-teman serempak.
“Lebih-lebih Andini, Bu!”sela Jayanti sambil melirikku. “Ia sudah sangat ingin kenal dengan anak yang berdiri di sisi Bu Guru,”sambung anak berhidung mancung itu bercanda.
“Hush…!”kedua mataku melotot ke arah Jayanti. Kucubit keras-keras lengan kanan anak itu sampai menjerit kesakitan.
“Aduuuuuuh….!”anak itu terlihat nyengir.
“Ada apa Jayanti?”perhatian Bu Linda beralih ke arah Jayanti.
“Tidak ada apa-apa, Bu!”sahut Jayanti gugup. “Siku saya terbentur sudut meja, Bu!”cewek berkulit sawo matang itu mencari alasan sekenanya.
“Rasakan, kau…!”ucapku lirih kepada Jayanti, anak yang duduk tepat di bangku depanku.
“Uuuhhh, kamu!”balas Jayanti seraya seketika mencubit lenganku. Namun karena cubitannya tak sekeras cubitanku, aku pun tidak mengaduh kesakitan.
“Maaf, Bu!,”sela Hendri sambil mengacungkan telunjuk kanan dari tempat duduknya.
“Ya?”pandangan Bu Guru Linda beralih kea rah Hendri, anak lelaki yang duduk sebangku dengan Bahtiar.
“Kalau kami boleh tahu,”demikian ujar Hendri. “Siapa nama kawan baru kami yang berdiri di sisi Bu Guru itu, Bu?”
Sebelum menjawab, Bu Guru tersenyum.
“Tolong, kaukenalkan dirimu, Nak!” perintah Bu Guru yang masih muda tadi kepada murid barunya.
“Terima kasih, Bu,”sahut anak lelaki berambut ikal yang sejak tadi berdiri di sisi kiri Bu Linda sambil tersenyum.
Bu Linda mengangguk, memberikan isyarat agar anak lelaki tadi segera memperkenalkan diri.
“Teman-teman,”ucap kawan baru kami tadi agak malu-malu. “Kenalkan, nama saya, S. Ardhana,”lanjutnya. “Teman-teman boleh memanggil saya ‘Ardhana’. Asal saya dari Pekalongan kota, teman-teman. Bersekolah di sini karena mengikuti Ayah yang
bertugas sebagai Camat di kota kecamatan ini. Untuk itu saya sangat berharap, semoga teman semua bisa menerima saya sebagai kawan baru di kelas 3A ini.”
“Maaf, Sobat!”potong Bahtiar menyela dari tempat duduknya.
Ardhana berpaling ke arah Bahtiar.
“Ya?”sahut Ardhana memberi kesempatan.
“Pada bagian depan namamu,”ujar Bahtiar. “Tertulis huruf S. Kiranya singkatan dari kata apakah huruf S tersebut, Ar?”rupanya Bahtiar ingin tahu lebih jauh.
“Ooooh, itu?”Ardhana tersenyum. Kali ini suaranya terdengar mantap penuh percaya diri. “Huruf S yang terdapat di depan nama saya,”ucap Ardhana. “Adalah kependekan dari kata Syaiful. Jadi, nama lengkap saya, Syaiful Ardhana.”
“Oooohhh…!”semua teman berseru, paham.
“Bagus benar nama anak tersebut. Sebagus anaknya,”pujiku dalam hati. “Senang kurasa bila bisa berkenalan dengan dengan anak ini.”
“Maaf, Ardhana!”tiba-tiba Melati angkat bicara.
Pandangan anak berhidung mancung dan bermata belalak itu lurus-lurus ke arah Melati.
“Ada apa, Kawan?”tanya Ardhana ramah.
“Kiranya apa hobimu, Ar?”tanya Melati singkat.
“Hobiku?”Ardhana tersenyum. “Apa ya….?”anak itu menoleh ke kanan-kiri, Pandangannya merayap ke seisi kelas. “Wah, banyak sekali, Kawan,”demikian ucap Ardhana.
“Apa saja, misalnya, Kawan?”desak Melati ingin tahu.
“Misalnya,”jawab Ardhana. “Baca puisi, menulis cerita maupun berita sekolah, main drama, main gitar dan musik, dan lain-lain seperti yang Kawan-kawan sukai.”
“Wah, kalau begitu sama dong dengan hobi rekan di sebelahku ini! Betul tidak, Kawan-kawan?”pandangan Melati menyapu seisi ruang kelas.
“Betul, betul….!”sahut semua rekan ramai seraya mengeroyokku dengan tatapan
mata mereka.
“Cocok sekali hobimu dengan hobi Andini, Ar!”sela Jayanti berkomentar. “Maka, dengan adanya pasangan sejoli ini,”tambah Jayanti lagi. “Saya yakin,”lanjutnya. “Majalah sekolah kita bakal semakin maju.”
“Apa alasanmu, Jayanti?”tanyaku, Andini, penuh rasa penasaran.
“Karena ditangani oleh dua rekan yang berhobi sama, maka akan maju pesatlah majalah sekolah kita. Ya tidak, Teman-teman?”
“Ya…! Kami sependapat denganmu, Jayanti…..!”sahut kawan lainnya ramai.
“Untuk itulah,”potong Hendri. “Kita bakal bisa mewujudkan impian dalam memajukan majalah sekolah,”ujar anak lelaki itu lebih lanjut. “Setujukah kalian bila kita sambut dan kita dukung pasangan Ardhana dan Andini ini , Kawan-kawan?”
“Setuju……..! Setuju………!”sahut semua rekan ramai, hingga terdengar gaduhlah suasana di dalam kelas.
Sementara, setelah suasana kembali reda, Bu Linda pun meneruskan komentarnya.
“Anak-anak.”
Kami semua pasang mata dan telinga, memperhatikan apa yang akan diutarakan Bu Guru.
“Seperti Andini, Jayanti, Melati, Bahtiar, dan masih banyak yang lainnya lagi,”lanjut Bu Linda. “Di sekolah yang ditinggalkan, peranan Ardhana ini hampir sama seperti kalian. Yaitu, kecuali rutin menulis puisi dan cerita, Ardhana juga menulis berita sekolah untuk majalah dinding maupun majalah sekolahnya, Anak-anak. Betul tidak, Ardhana?”Bu Linda berpaling ke arah Ardhana.
“Ya, betul,Bu!” sambil tersenyum, Ardhana mengangguk.
“Nah, oleh sebab itu, “tambah Bu Guru yang berpenampilan lincah itu. “Kami dari pihak sekolah menyatakan senang atas kedatanganmu ke sekolah ini, Ardhana. Sebab dengan adanya kamu bersekolah di sini,”lanjut Bu Guru. “Berarti jumlah penulis dan wartawan sekolah kita jadi bertambah banyak. Benar tidak, Anak-anak?”
“Ya, benar, Bu…….!”sahut kami serempak.
“Nah, sekarang,”ucap Ibu Wali Kelas 3A tadi. “Silakan kamu duduk di bangku paling belakang bersama, Syarief, Ar!”
“Baik, terima kasih, Bu,”Ardhana menurut. Dia segera mengambil duduk tak jauh dari tempat dudukku.
Usai itu, Bu Linda ke luar kelas, meninggalkan kami.

(bersambung)

Iklan

About sastrabocah

Sardono Syarief Lahir di Pekalongan, Jawa Tengah, Indonesia. Pendidikan: SD, SMP, SPG ditempuh di kota kelahiran, Pekalongan. Melanjutkan ke D-II dan S1 PGSD di UPBJJ Semarang dan Purwokerto, Jateng. Hobi menulis sejak di bangku kelas 6 SD lewat majalah dinding. Berlanjut di SMP hingga SPG Negeri Pekalongan (SMA 3) pada majalah dinding dan majalah sekolah "ASASSI" sebagai kontributor tulisan+anggota Redaksi bagian fiksi dan berita sekolah (1980-1982). Tahun 1983 mulai serius menulis puisi dan cerpen anak di media massa lokal maupun nasional hingga sekarang. Lebih dari 10 buku cerita anak-anak yang telah diterbitkan antara lain; Masih Ada Hari Esok, Anak-anak Kreatif, Roda-roda di Atas Jalan, Kerlip Lentera di Sudut Desa, Taman Mungil di Depan Istana, dll. Pernah juara dalam mengikuti sayembara mengarang naskah buku bacaan tingkat nasional yang diselenggarakan oleh Pusat Perbukuan,Departemen Pendidikan Nasional, Jakarta tahun 2003 dan 2004 sebagai juara II dan III. Mulai Juni 2009 ikut bergabung sebagai anggota Asosiasi Guru Penulis Seluruh Indonesia (Agupena) Jawa Tengah yang berpusat di Semarang.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s