Monthly Archives: Desember 2009

DI BAWAH JEMARI HUJAN

Standar

Oleh Sardono Syarief

Hujan masih saja turun dengan deras. Di mana-mana tampak basah. Semua orang gelisah menanti hujan reda. Sejauh itu, beberapa anak lelaki belasan tahun saling lari menyerbu calon penumpang bus yang basah diguyur hujan.
“Ngojek payung, Pak?”tawar Nano kepada seorang Bapak berkumis tipis yang sedang berteduh di sudut terminal.
Bapak yang ditawari mengangguk.
“Berapa, Dik?”tanyanya ramah.
“Murah, Pak. Cuma seribu rupiah,”jawab Nano sopan.
“Oh, ya? Sini, Dik!”
“Ke mana, Pak?”Nano mendekat. Tubuh anak itu tampak menggigil kedinginan.
“Ke jalur bus jurusan Bandung,”Bapak yang berkemeja putih tadi menjawab sembari tersenyum.
“Oh,ya! Mari, Pak!” Nano mengulurkan setangkai payungnya kepada Bapak tadi.
“Terima kasih, Dik,”sahut Bapak setengah baya tadi sambil menerima payung dari tangan Nano.
Selang sesaat, dengan berpayung milik Nano, Bapak yang bertubuh agak gendut tadi melangkah menuju bus jurusan Bandung. Sementara itu Nano jalan mengiringi Bapak tadi dengan berhujan-hujanan.
Siapa sih Nano itu?
Nano adalah salah seorang anak lelaki di antara sekian anak pengojek payung di terminal bus induk Cirebon. Ia bertubuh sedang, berkulit sawo matang, dan berambut lurus. Nano merupakan anak tunggal Mak Darniyah yang kini sudah lama hidup menjanda. Adapun Pak Surip, ayah Nano, sudah meninggal sejak anak itu baru berumur dua tahun.
“Ini payungnya, Dik!” begitu tiba di salah satu bus jurusan Bandung, Bapak yang diantar tadi mengulurkan payungnya kepada Nano. “Ini uang sewanya!” selembar uang lima ribuan berpindah ke tangan Nano.
“Terima kasih, Pak,”Nano menerima uang tersebut dengan senang hati. “Ini kembaliannya,Pak!”anak itu mengulurkan kelebihan uang kepada Bapak yang berpenampilan rapi tadi.
“Tak usah! Untuk kamu saja!”kata Bapak tadi dengan tulus.
“Pak……..!”seru Nano tak habis mengerti. Mulut anak itu sedikit menganga.
“Sudah ambil saja untuk kamu! Bapak ikhlas kok,”kata Bapak tadi seraya tersenyum.
“Tapi, Pak….?”
“Sudah ambil saja!”potong Bapak tadi mantap.
“Kalau begitu, terima kasih sekali, Pak.”ucap Nano dengan hati berbunga-bunga.
Bapak tadi mengangguk. seraya meninggalkan Nano. Lalu masuk ke dalam bus.
Usai itu, Nano pun melangkah menuju tempat temannya berkumpul, di teras depan terminal. Namun sebelum anak itu tiba pada tempat tujuan, tiba-tiba terdengar ada suara yang memanggilnya.
“Hai, Pengojek payung!”
Nano berpaling ke arah sumber suara. Pandangan anak itu menangkap seorang Ibu muda dari sudut terminal melambai-lambaikan tangan kepadanya.
“Sini!”seru Ibu muda tadi kepada Nano.
Melihat itu, Nano segera mendekat.
“Saya,Bu?”
“Iya,”balas Ibu tadi ramah. “Tolong Ibu antarkan, ya!”pinta Ibu tadi penuh harap.
“Ke mana, Bu?”
“Ke bus jurusan Pekalongan, ”sahut Ibu muda tadi sambil tersenyum.
“Mari, Bu!”
“Berapa sewa payungnya, Dik?”tanya Ibu tadi sebelum melangkah.
“Murah, Bu. Cuma seribu rupiah saja, kok,”jawab anak kelas 5 SD tadi seraya tersenyum.
“Wah, kok mahal amat, Dik! Apa tak bisa kurang ?”
Nano menggeleng,“Ini tarif umum, Bu. Semua teman juga sekian.”
“Untuk Ibu apa tidak bisa ditawar?”
“Mau Ibu berapa?”
“Kurangi lima ratus, ya?”

Nano diam sejenak untuk mengolah pikir. Tak lebih setengah menit dari itu, dia pun berkata,”Ya sudah, Bu. Ini payungnya!”
“Bagaimana? Bisa?”tanya Ibu muda tadi seraya memperhatikan sikap Nano.
Anak yang ditanya mengangguk Setuju.
“Terima kasih! Mana payungnya?”pinta Ibu muda tadi.
“Ini, Bu!”Nano segera mengulurkan setangkai payungnya kepada Ibu muda tadi.
Tak lama dari itu, melangkahlah Ibu muda tadi dengan diiringi Nano. Seperti biasa, setiap kali mengantar penyewa payung, Nano lebih suka pilih jalan di samping orang yang diantar. Pikir anak itu, lebih baik dirinya yang basah kuyup diguyur hujan daripada orang yang menyewa payungnya ikut basah. Bukankah setangkai payung bila digunakan untuk berdua, bisa berakibat basah pada pundak masing-masing orang yang membawanya?
Sejurus kemudian, Ibu muda tadi telah sampai pada tempat tujuan. Yaitu di jalur bus jurusan Pekalongan, Jawa Tengah.
“Ini.Dik ! Terima kasih, ya…?”selembar uang lima ribuan segera berpindah ke tangan Nano.
“Terima kasih, Bu. Ini kembalinya!”sahut Nano. Anak lelaki itu segera mengulurkan uang kembaliannya.
”Tak usah. Kembaliannya untuk kamu!” seraya tersenyum, wanita berparas cantik tadi berkata.
“Lho, Bu! Sisanya kan masih banyak? ”
“Ya. Ambillah untuk kamu!”
Nano melongo. Heran bercampur senang. Sama sekali dia tak pernah menyangka kalau siang itu akan datang dua kali rezeki nomplok kepadanya.
“Bu…….!”mulut Nano menganga.
Ibu muda tadi tetap tak mau menerima uang kembaliannya. Bahkan segera berlalu dari Nano.
Dari pengalaman tersebut, Nano sangat bersyukur kepada sang Pencipta.
“Tuhan! Terima kasih atas kemurahanMu !”kedua tangan anak itu tengadah tinggi-tinggi ke langit. ***

Iklan

KAWAN BARU (2)

Standar

Oleh Sardono Syarief

Kami semua diam memperhatikan anak lelaki yang berdiri di sisi kiri Bu Linda.
“Tentu kalian tahu,”lanjut Bu Guru Linda kemudian. “Kedatangan kawan baru kalian ini adalah untuk menimba ilmu di sekolah kita. Tepatnya di kelas 3A bersama kalian. Oleh sebab itu,”tambah Bu Guru. “Ibu berharap, semoga kalian bisa menerima anak ini dengan baik.”
“Oh…., jangan khawatir, Bu!”sela Bahtiar, si ketua kelas 3A, dengan tiba-tiba. “Kami semua bakal menerimanya dengan tangan terbuka, Bu. Betul tidak, Teman-teman…?”Bahtiar berdiri sambil berpaling kanan-kiri, ke arah kawan-kawan.
“Betul, Bu! Betul!”sahut teman-teman serempak.
“Lebih-lebih Andini, Bu!”sela Jayanti sambil melirikku. “Ia sudah sangat ingin kenal dengan anak yang berdiri di sisi Bu Guru,”sambung anak berhidung mancung itu bercanda.
“Hush…!”kedua mataku melotot ke arah Jayanti. Kucubit keras-keras lengan kanan anak itu sampai menjerit kesakitan.
“Aduuuuuuh….!”anak itu terlihat nyengir.
“Ada apa Jayanti?”perhatian Bu Linda beralih ke arah Jayanti.
“Tidak ada apa-apa, Bu!”sahut Jayanti gugup. “Siku saya terbentur sudut meja, Bu!”cewek berkulit sawo matang itu mencari alasan sekenanya.
“Rasakan, kau…!”ucapku lirih kepada Jayanti, anak yang duduk tepat di bangku depanku.
“Uuuhhh, kamu!”balas Jayanti seraya seketika mencubit lenganku. Namun karena cubitannya tak sekeras cubitanku, aku pun tidak mengaduh kesakitan.
“Maaf, Bu!,”sela Hendri sambil mengacungkan telunjuk kanan dari tempat duduknya.
“Ya?”pandangan Bu Guru Linda beralih kea rah Hendri, anak lelaki yang duduk sebangku dengan Bahtiar.
“Kalau kami boleh tahu,”demikian ujar Hendri. “Siapa nama kawan baru kami yang berdiri di sisi Bu Guru itu, Bu?”
Sebelum menjawab, Bu Guru tersenyum.
“Tolong, kaukenalkan dirimu, Nak!” perintah Bu Guru yang masih muda tadi kepada murid barunya.
“Terima kasih, Bu,”sahut anak lelaki berambut ikal yang sejak tadi berdiri di sisi kiri Bu Linda sambil tersenyum.
Bu Linda mengangguk, memberikan isyarat agar anak lelaki tadi segera memperkenalkan diri.
“Teman-teman,”ucap kawan baru kami tadi agak malu-malu. “Kenalkan, nama saya, S. Ardhana,”lanjutnya. “Teman-teman boleh memanggil saya ‘Ardhana’. Asal saya dari Pekalongan kota, teman-teman. Bersekolah di sini karena mengikuti Ayah yang
bertugas sebagai Camat di kota kecamatan ini. Untuk itu saya sangat berharap, semoga teman semua bisa menerima saya sebagai kawan baru di kelas 3A ini.”
“Maaf, Sobat!”potong Bahtiar menyela dari tempat duduknya.
Ardhana berpaling ke arah Bahtiar.
“Ya?”sahut Ardhana memberi kesempatan.
“Pada bagian depan namamu,”ujar Bahtiar. “Tertulis huruf S. Kiranya singkatan dari kata apakah huruf S tersebut, Ar?”rupanya Bahtiar ingin tahu lebih jauh.
“Ooooh, itu?”Ardhana tersenyum. Kali ini suaranya terdengar mantap penuh percaya diri. “Huruf S yang terdapat di depan nama saya,”ucap Ardhana. “Adalah kependekan dari kata Syaiful. Jadi, nama lengkap saya, Syaiful Ardhana.”
“Oooohhh…!”semua teman berseru, paham.
“Bagus benar nama anak tersebut. Sebagus anaknya,”pujiku dalam hati. “Senang kurasa bila bisa berkenalan dengan dengan anak ini.”
“Maaf, Ardhana!”tiba-tiba Melati angkat bicara.
Pandangan anak berhidung mancung dan bermata belalak itu lurus-lurus ke arah Melati.
“Ada apa, Kawan?”tanya Ardhana ramah.
“Kiranya apa hobimu, Ar?”tanya Melati singkat.
“Hobiku?”Ardhana tersenyum. “Apa ya….?”anak itu menoleh ke kanan-kiri, Pandangannya merayap ke seisi kelas. “Wah, banyak sekali, Kawan,”demikian ucap Ardhana.
“Apa saja, misalnya, Kawan?”desak Melati ingin tahu.
“Misalnya,”jawab Ardhana. “Baca puisi, menulis cerita maupun berita sekolah, main drama, main gitar dan musik, dan lain-lain seperti yang Kawan-kawan sukai.”
“Wah, kalau begitu sama dong dengan hobi rekan di sebelahku ini! Betul tidak, Kawan-kawan?”pandangan Melati menyapu seisi ruang kelas.
“Betul, betul….!”sahut semua rekan ramai seraya mengeroyokku dengan tatapan
mata mereka.
“Cocok sekali hobimu dengan hobi Andini, Ar!”sela Jayanti berkomentar. “Maka, dengan adanya pasangan sejoli ini,”tambah Jayanti lagi. “Saya yakin,”lanjutnya. “Majalah sekolah kita bakal semakin maju.”
“Apa alasanmu, Jayanti?”tanyaku, Andini, penuh rasa penasaran.
“Karena ditangani oleh dua rekan yang berhobi sama, maka akan maju pesatlah majalah sekolah kita. Ya tidak, Teman-teman?”
“Ya…! Kami sependapat denganmu, Jayanti…..!”sahut kawan lainnya ramai.
“Untuk itulah,”potong Hendri. “Kita bakal bisa mewujudkan impian dalam memajukan majalah sekolah,”ujar anak lelaki itu lebih lanjut. “Setujukah kalian bila kita sambut dan kita dukung pasangan Ardhana dan Andini ini , Kawan-kawan?”
“Setuju……..! Setuju………!”sahut semua rekan ramai, hingga terdengar gaduhlah suasana di dalam kelas.
Sementara, setelah suasana kembali reda, Bu Linda pun meneruskan komentarnya.
“Anak-anak.”
Kami semua pasang mata dan telinga, memperhatikan apa yang akan diutarakan Bu Guru.
“Seperti Andini, Jayanti, Melati, Bahtiar, dan masih banyak yang lainnya lagi,”lanjut Bu Linda. “Di sekolah yang ditinggalkan, peranan Ardhana ini hampir sama seperti kalian. Yaitu, kecuali rutin menulis puisi dan cerita, Ardhana juga menulis berita sekolah untuk majalah dinding maupun majalah sekolahnya, Anak-anak. Betul tidak, Ardhana?”Bu Linda berpaling ke arah Ardhana.
“Ya, betul,Bu!” sambil tersenyum, Ardhana mengangguk.
“Nah, oleh sebab itu, “tambah Bu Guru yang berpenampilan lincah itu. “Kami dari pihak sekolah menyatakan senang atas kedatanganmu ke sekolah ini, Ardhana. Sebab dengan adanya kamu bersekolah di sini,”lanjut Bu Guru. “Berarti jumlah penulis dan wartawan sekolah kita jadi bertambah banyak. Benar tidak, Anak-anak?”
“Ya, benar, Bu…….!”sahut kami serempak.
“Nah, sekarang,”ucap Ibu Wali Kelas 3A tadi. “Silakan kamu duduk di bangku paling belakang bersama, Syarief, Ar!”
“Baik, terima kasih, Bu,”Ardhana menurut. Dia segera mengambil duduk tak jauh dari tempat dudukku.
Usai itu, Bu Linda ke luar kelas, meninggalkan kami.

(bersambung)