KAWAN BARU

Standar

Oleh Sardono Syarief

Jam 06.30, aku, Jayanti, Melati, Bahtiar, dan Romi tiba di kelas 3A. Kelas tempat kami menuntut ilmu dari bapak-ibu guru. Kelas tempat berkumpulnya para penulis dan wartawan majalah sekolah “AKSI”. Majalah bulanan yang diterbitkan oleh SMPN 1 Paninggaran, tempat sekolah kami.
Meski hari masih pagi, ternyata banyak sudah rekanku yang datang lebih awal. Entah apa yang diperbincangkan, mereka ada yang terlihat asyik ngobrol di bangku dekat taman. Ada pula yang ramai bercanda di teras depan kelas. Pemandangan seperti itu terlihat pula pada rekan-rekan di kelas lain.
“Hai, Andini!” sapa Melati, teman sebangkuku menyambutku datang.
“Haaaaiiii…!”balasku seraya menaruh tas di bangku. “Apa kabar, Kawan?”sembari tersenyum kuulurkan tangan kepada Melati.
“Kabar baik, Sobat.”
“Baik untuk semua, apa hanya untukku?”
“Untuk semua baik. Untukmu, bahkan sangat baik!”
“Maksudmu?”tanyaku penasaran.
“Kita bakal punya kawan baru. Dia pindahan dari Pekalongan kota,”ujar Melati penuh semangat.
“Siapa dia, Mel?”sambil mengambil duduk di sisi kiri gadis hitam manis itu, aku bertanya.
“Entahlah,”jawabnya. “Yang jelas, dia seorang cowok ganteng,” sambungnya. “Kata Bu Guru Linda, anak itu sangat cocok buat pasangan kamu, An!”
“Hush! Jangan ngawur begitu!”ujarku kaget. “Kapan Bu Guru bilang seperti itu?”
“Kemarin siang, saat kau meliput kunjungan Pak Bupati di SMAN 1 Paninggaran.”
“Apa saja yang dibicarakan Bu Linda di depan kelas kemarin siang, Mel?”
“Bu Guru bilang,”jawab Melati seraya melirikku. “Anak itu penuh simpati seperti kamu. Warsek, lagi!”
“Maksud Bu Linda?”
“Kata Bu Linda,”ujar teman sebangkuku dengan sabar. “Cowok itu sangat pandai membawa diri,”sambungnya. “Dia pandai bergaul, ramah, supel, lagi penuh sopan santun seperti kamu, An.”
Aku mengangguk-angguk senang, karena pujian Bu Linda sebagaimana yang dikatakan Melati tadi.
“Lantas, apa itu Warsek, Mel?”tanyaku penasaran.
“Warsek?”kedua bola mata Melati melebar. “Kau tak tahu arti kata itu, An?”
Aku mengangguk lugu.
“Idiiiihhh, telmi banget sih kamu, An!”cewek genit tadi tak yakin akan pengakuanku yang polos.
“Iya,ya…? Kebangetan banget aku ya, Mel?”kataku sembari mengangguk-angguk. “Memang aku
telat mikir untuk istilah yang satu ini, Mel,”layaknya anak kecil, aku mengangguk kalah. Memang saat itu sama sekali aku belum tahu akan arti kata warsek tersebut.
“Oh, begitu?”Melati tersenyum heran.
Aku diam memasang telinga.
“Warsek, ya wartawan sekolah dong…,”kata Melati menjelaskan. “Kamu wartawan sekolah bukan, An?”
“Oh…! Bodoh amat aku!”kupukul-pukulkan jari telunjuk kanan pada dahiku dua tiga kali.
Melihat sikapku yang lucu, Melati jadi tertawa geli sendiri.
“Bagaimana? Sudah tahu?”tanya Melati begitu reda dari tawanya.
“Sudah, sudah…!”jawabku datar. “Lalu, kapan kawan baru kita bakal datang, Mel?”
“Kata Bu Guru Linda,”jawab Melati sambil membetulkan ujung rambutnya yang tergerai menutup mata. “Hari ini anak tersebut bakal tiba, An. Dia bakal mulai masuk menjadi murid kelas 3A bersama kita.”
“Ya, sudah. Kalau begitu, kita tunggu sampai dia datang,”kataku sambil menyimpan rasa ingin segera tahu sosok cowok yang disebut-sebut Melati tadi.
Sementara itu, dari atas tiap-tiap pintu kelas terdengar bel listrik berdering,”Tuuuuut………Tuuuuuuuuuuutttt……! Tuuuuuuuuuutttttttttt……!”
Kami semua segera berhamburan. Saling berlari memasuki kelas masing-masing. Satu dua rekan yang sedari tadi asyik berbincang di dalam kelas, secepatnya mereka menempatkan diri di bangkunya masing-masing.
Tak lama dari itu, masuklah Bu Guru Linda, wali kelasku dengan diiringi oleh seorang anak laki-laki berseragam putih biru ke dalam kelas.
“Selamat pagi, Anak-anak…!”salam Bu Linda penuh wibawa.
“Selamat pagi, Bu…….!”jawab kami serempak.
“Anak-anak,”kata Bu Guru yang berambut pendek itu sembari berdiri di depan kelas. “Seperti yang telah Bu Guru katakan kemarin,”lanjutnya. “Hari ini kalian akan kedatangan kawan baru pindahan dari salah satu SMPN di Pekalongan. Pada pagi ini kawan baru kalian tadi Ibu ajak kemari. Inilah anaknya!”Bu Linda memperkenalkan anak itu seraya tersenyum ramah.
(Bersambung……………..)

Iklan

About sastrabocah

Sardono Syarief Lahir di Pekalongan, Jawa Tengah, Indonesia. Pendidikan: SD, SMP, SPG ditempuh di kota kelahiran, Pekalongan. Melanjutkan ke D-II dan S1 PGSD di UPBJJ Semarang dan Purwokerto, Jateng. Hobi menulis sejak di bangku kelas 6 SD lewat majalah dinding. Berlanjut di SMP hingga SPG Negeri Pekalongan (SMA 3) pada majalah dinding dan majalah sekolah "ASASSI" sebagai kontributor tulisan+anggota Redaksi bagian fiksi dan berita sekolah (1980-1982). Tahun 1983 mulai serius menulis puisi dan cerpen anak di media massa lokal maupun nasional hingga sekarang. Lebih dari 10 buku cerita anak-anak yang telah diterbitkan antara lain; Masih Ada Hari Esok, Anak-anak Kreatif, Roda-roda di Atas Jalan, Kerlip Lentera di Sudut Desa, Taman Mungil di Depan Istana, dll. Pernah juara dalam mengikuti sayembara mengarang naskah buku bacaan tingkat nasional yang diselenggarakan oleh Pusat Perbukuan,Departemen Pendidikan Nasional, Jakarta tahun 2003 dan 2004 sebagai juara II dan III. Mulai Juni 2009 ikut bergabung sebagai anggota Asosiasi Guru Penulis Seluruh Indonesia (Agupena) Jawa Tengah yang berpusat di Semarang.

2 responses »

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s