Monthly Archives: Oktober 2009

KAWAN BARU

Standar

Oleh Sardono Syarief

Jam 06.30, aku, Jayanti, Melati, Bahtiar, dan Romi tiba di kelas 3A. Kelas tempat kami menuntut ilmu dari bapak-ibu guru. Kelas tempat berkumpulnya para penulis dan wartawan majalah sekolah “AKSI”. Majalah bulanan yang diterbitkan oleh SMPN 1 Paninggaran, tempat sekolah kami.
Meski hari masih pagi, ternyata banyak sudah rekanku yang datang lebih awal. Entah apa yang diperbincangkan, mereka ada yang terlihat asyik ngobrol di bangku dekat taman. Ada pula yang ramai bercanda di teras depan kelas. Pemandangan seperti itu terlihat pula pada rekan-rekan di kelas lain.
“Hai, Andini!” sapa Melati, teman sebangkuku menyambutku datang.
“Haaaaiiii…!”balasku seraya menaruh tas di bangku. “Apa kabar, Kawan?”sembari tersenyum kuulurkan tangan kepada Melati.
“Kabar baik, Sobat.”
“Baik untuk semua, apa hanya untukku?”
“Untuk semua baik. Untukmu, bahkan sangat baik!”
“Maksudmu?”tanyaku penasaran.
“Kita bakal punya kawan baru. Dia pindahan dari Pekalongan kota,”ujar Melati penuh semangat.
“Siapa dia, Mel?”sambil mengambil duduk di sisi kiri gadis hitam manis itu, aku bertanya.
“Entahlah,”jawabnya. “Yang jelas, dia seorang cowok ganteng,” sambungnya. “Kata Bu Guru Linda, anak itu sangat cocok buat pasangan kamu, An!”
“Hush! Jangan ngawur begitu!”ujarku kaget. “Kapan Bu Guru bilang seperti itu?”
“Kemarin siang, saat kau meliput kunjungan Pak Bupati di SMAN 1 Paninggaran.”
“Apa saja yang dibicarakan Bu Linda di depan kelas kemarin siang, Mel?”
“Bu Guru bilang,”jawab Melati seraya melirikku. “Anak itu penuh simpati seperti kamu. Warsek, lagi!”
“Maksud Bu Linda?”
“Kata Bu Linda,”ujar teman sebangkuku dengan sabar. “Cowok itu sangat pandai membawa diri,”sambungnya. “Dia pandai bergaul, ramah, supel, lagi penuh sopan santun seperti kamu, An.”
Aku mengangguk-angguk senang, karena pujian Bu Linda sebagaimana yang dikatakan Melati tadi.
“Lantas, apa itu Warsek, Mel?”tanyaku penasaran.
“Warsek?”kedua bola mata Melati melebar. “Kau tak tahu arti kata itu, An?”
Aku mengangguk lugu.
“Idiiiihhh, telmi banget sih kamu, An!”cewek genit tadi tak yakin akan pengakuanku yang polos.
“Iya,ya…? Kebangetan banget aku ya, Mel?”kataku sembari mengangguk-angguk. “Memang aku
telat mikir untuk istilah yang satu ini, Mel,”layaknya anak kecil, aku mengangguk kalah. Memang saat itu sama sekali aku belum tahu akan arti kata warsek tersebut.
“Oh, begitu?”Melati tersenyum heran.
Aku diam memasang telinga.
“Warsek, ya wartawan sekolah dong…,”kata Melati menjelaskan. “Kamu wartawan sekolah bukan, An?”
“Oh…! Bodoh amat aku!”kupukul-pukulkan jari telunjuk kanan pada dahiku dua tiga kali.
Melihat sikapku yang lucu, Melati jadi tertawa geli sendiri.
“Bagaimana? Sudah tahu?”tanya Melati begitu reda dari tawanya.
“Sudah, sudah…!”jawabku datar. “Lalu, kapan kawan baru kita bakal datang, Mel?”
“Kata Bu Guru Linda,”jawab Melati sambil membetulkan ujung rambutnya yang tergerai menutup mata. “Hari ini anak tersebut bakal tiba, An. Dia bakal mulai masuk menjadi murid kelas 3A bersama kita.”
“Ya, sudah. Kalau begitu, kita tunggu sampai dia datang,”kataku sambil menyimpan rasa ingin segera tahu sosok cowok yang disebut-sebut Melati tadi.
Sementara itu, dari atas tiap-tiap pintu kelas terdengar bel listrik berdering,”Tuuuuut………Tuuuuuuuuuuutttt……! Tuuuuuuuuuutttttttttt……!”
Kami semua segera berhamburan. Saling berlari memasuki kelas masing-masing. Satu dua rekan yang sedari tadi asyik berbincang di dalam kelas, secepatnya mereka menempatkan diri di bangkunya masing-masing.
Tak lama dari itu, masuklah Bu Guru Linda, wali kelasku dengan diiringi oleh seorang anak laki-laki berseragam putih biru ke dalam kelas.
“Selamat pagi, Anak-anak…!”salam Bu Linda penuh wibawa.
“Selamat pagi, Bu…….!”jawab kami serempak.
“Anak-anak,”kata Bu Guru yang berambut pendek itu sembari berdiri di depan kelas. “Seperti yang telah Bu Guru katakan kemarin,”lanjutnya. “Hari ini kalian akan kedatangan kawan baru pindahan dari salah satu SMPN di Pekalongan. Pada pagi ini kawan baru kalian tadi Ibu ajak kemari. Inilah anaknya!”Bu Linda memperkenalkan anak itu seraya tersenyum ramah.
(Bersambung……………..)

Iklan

BAPAKKU SEORANG PAHLAWAN

Standar

Oleh Sardono Syarief

Murid-murid SD Inpres yang terletak di pinggir jalan raya sedang mengadakan upacara bendera.
“Oh, sekarang tanggal 10 November! Hari Pahlawan!” bisik hati lelaki kecil penjual es lilin yang kebetulan lewat di jalan.
Melihat ada upacara peringatan Hari Pahlawan di halaman SD tersebut, Roni, nama lelaki kecil itu tertarik. Ia berhenti sejenak setelah merapat ke pagar halaman sekolah. Di hatinya terkandung maksud ingin dengan khidmat menyaksikan jalannya upacara. Entah perasaan apa yang menyelimuti hati anak itu. Yang jelas, setelah dua tahun mogok kelas 5 SD, Roni tak lagi bisa mengikuti upacara bendera. Upacara yang diselenggarakan setiap hari Senin dan hari-hari bersejarah seperti pagi itu.
“Kenapa basah matamu, Roni?”tanya Usman, teman penjual es lilin yang baru saja tiba di tempat itu. Anak itu heran melihat teman seperjuangannya matanya basah berkaca-kaca.
“Roni, kau kenapa?”desak Usman, ingin segera tahu.
Roni yang merasa berkali-kali ditepuk pundak kanannya oleh Usman, menoleh. Kemudian dengan gerakan bibirnya yang cukup terlihat berat, anak itu menjawab.
“Kau tahu?”
“Tahu apa?”balas Usman bingung.
“Pada hari bersejarah seperti sekarang ini,”lanjut Roni. “Ada suatu peristiwa yang sangat mencekam pikiranku.”
“Maksudmu?”
“Dua tahun yang lalu,”ungkap Roni. “Ketika itu aku masih duduk di kelas 5,”sambungnya dengan suara tersendat. “Persis di hari pahlawan seperti sekarang ini, Bapakku meninggal akibat terlanggar truk di jalan raya.”
“Saat itu Bapakmu dari mana?”
Roni menjawab pertanyaan Usman dengan suara makin tersendat. Gerak bibirnya kian berat. Kedua bola matanya makin basah. Entah sejauh mana peristiwa suram itu kembali terkenang di benaknya.
“Saat itu,”jawab Roni. “Bapakku baru saja pulang dari lapangan. Ia baru mengikuti upacara peringatan Hari Pahlawan seperti sekarang ini. Dengan berkendaraan sepeda genjot, mungkin Bapakku letih. Sepeda yang dikendarainya oleng kemudian roboh di tengah jalan raya.”Roni diam sejenak. “Celakanya,”lanjut Roni tak lama dari itu. “Dari arah berlawanan, ada sebuah truk melaju dengan cepat. Sehingga kecelakaan bagi Bapakku pun tak bisa dihindari.”
Usman menatap Roni dengan pandangan kosong.
“Apakah seketika itu pula Bapakmu meninggal?”tanya Usman dengan perasaan terharu.
“Benar. Seketika itu pula Bapakku meninggal dunia.”
“Ah……..!,”Usman mendesah panjang. Sepertinya ikut hanyut ke dalam peristiwa naas yang dialami oleh Bapak Roni.
“Mungkin parah benar ya, luka yang dialami oleh almarhum Bapakmu, Roni?”
Roni mengangguk, membenarkan.
“Ketika dikuburkan saja,”ucap Roni memberikan gambaran. “Dari kepala Bapakku terus mengucur darah. Kepala Bapakku pecah menjadi empat bagian. Bola mata kanannya hilang. Kaki kirinya putus sebatas lutut. Tulang dadanya remuk menjadi beberapa bagian.”
“Ihh……! Betapa kasihan benar, nasib Bapakmu,Roni?”dengan bergidik Usman menyahuti.
“Itulah sebabnya,”sahut Roni dengan suara makin tersendat.”Bila setiap datang upacara peringatan Hari Pahlawan seperti sekarang ini,”sambungnya.”Ingatanku kembali melayang kepada waktu dua tahun yang lalu,”air mata akibat keharuan yang tiba-tiba muncul kembali di ingatan anak itu menetes deras.
“Sudahlah!”ujar Usman menghibur sahabatnya seraya mendekap pundak Roni erat-erat. “Semoga arwah Bapakmu bisa diterima di sisi Allah, Tuhan Yang Maha Pengampun! Semoga Bapakmu tergolong orang-orang yang beriman. Semoga Bapakmu termasuk mati sahid, mati sebagai pahlawan.”
Sambil melepas dekapan Usman, Roni kemudian menatap Usman dengan pandangan hampa.
“Bapakku termasuk seorang pahlawan?”
Usman mengangguk. Katanya,”Bukankah ketika meninggal dulu Bapakmu seorang HANSIP yang baru saja melaksanakan tugas demi bangsa dan Negara?”
Gantian Roni yang mengangguk.
“Bukankah seseorang yang meninggal dalam keadaan tugas demi bangsa dan negara, bisa dikatakan sebagai seorang pahlawan, Ron?”
“Pahlawan yang mana itu, Us?”sahut Roni dengan hati agak berbunga.
“Ah, aku jadi ingat sekarang!”ujar Usman menghibur Roni.
“Ingat akan apa?”
“Dulu kata Pak Guru sewaktu saya bersekolah,”sahut Usman. “Seseorang yang meninggal seperti Bapakmu,”sambung anak itu. “Orang yang nama-namanya tidak tercantum di makam-makam pahlawan, bisa dikatakan sebagai pahlawan tak dikenal.”
“Kalau begitu, Bapakku seorang pahlawan, Us?”ucap Roni gembira.
“Iya! “dengan penuh semangat Usman meyakinkan hati temannya.
Melihat mimik Usman yang amat meyakinkan itu, hati Roni jadi lega. Kesedihan hati anak itu bisa sedikit terobati.
“Syukur kepadaMu, ya Allah.!”ucapnya sambil menengadahkan kedua telapak tangannya di atas dada.***