PELAJARAN BAGI SI KIKIR

Standar

Oleh Sardono Syarief

Sejak kecil Kartono dikenal teman-teman sebagai anak yang amat kikir. Ia tak pernah suka memberi sesuatu kepada teman sepermainannya. Sebaliknya, anak itu hanya mau lagi suka menerima apa pun yang teman-teman berikan kepadanya.
Seperti peristiwa sore kemarin. Saat itu, Kartono sedang menyantap bakso di kedai Pak Amat. Datanglah teman sekelasnya, Harun, menghampiri anak itu. Kedatangan Harun adalah untuk menyampaikan pesan Pak Arif, guru kelasnya. Pak Arif berpesan, sambil berangkat sekolah besok, Kartono supaya mau mampir ke rumah Pak Arif. Beliau mau titip sesuatu untuk dibawakan ke sekolah.
Namun kedatangan Harun sore itu ditanggapi Kartono dengan wajah cemberut. Dia tampak tak suka kalau Harun turut duduk di sisi kirinya. Hati kecil Kartono mengatakan, kedatangan Harun cuma akan mengurangi kenikmatannya dalam merasakan bakso yang dia pesan dari Pak Amat. Karena itu Kartono bersikap tak acuh kepada Harun. Merasa tidak diabaikan, Harun jadi tak enak hati. Itu sebabnya Harun mencoba berbasa-basi.
”Wah ! Enak sekali baksonya ya, Ton? Lezat sekali rasanya!”Harun tersenyum.
Kartono tidak menyahut. Bahkan melirik ke arah Harun sedikit pun tidak. Sehingga Harun benar-benar merasa tersinggung.
“Berlagak amat ini anak?”hati Harun kecewa. “Sampai tega benar mempermalukanku di kedai yang cukup ramai orang ini? Awas kau, Ton! Tahu rasa pembalasanku besok di kantin sekolah,”ancam Harun dengan hati masgul.
Harun pergi meninggalkan Kartono tanpa pamit. Anak itu benar-benar malu oleh perlakuan dan sikap tak acuh Kartono. Sampai akhirnya Harun menilai kalau kepribadian Kartono benar-benar sebagai teman yang amat kikir.
Sore itu hati Harun sungguh kecewa terhadap Kartono. Oleh karena itu, sambil berjalan kaki pulang, ia merencanakan pembalasan apa yang sekiranya setimpal buat Kartono untuk besok pagi di sekolah.
“Oh, ya! Beres, beres…..!”demikian pikir Harun begitu menemukan cara. “Di sekolah, pada jam istirakhat pertama tiba,”sambung Harun dalam hati. “Anak itu akan kuajak ke kantin Bu Mira. Di sana aku berpura-pura yang akan membayarkan semua jajan yang ia makan. Setelah Kartono kenyang, setidaknya setelah bel pertanda istirakhat usai, akan kutinggal Kartono di kantin Bu Mira. Terserah habis makan jajan apa saja, takkan peduli aku! Mau bayar berapa rupiah, tak mau tahu aku! Karena cuma dengan cara seperti inilah tampaknya langkah yang paling tepat untuk membalas sikap Kartono teman kikirku yang satu itu!”
Benar apa yang direncanakan Harun. Keesokan harinya, begitu jam istirakhat pertama tiba, Kartono dipermainkan Harun.
“Ayo, Ton! Kita ke kantin Bu Mira sekarang!”
“Wah, aku tak punya uang, Run,”jawab Kartono sembari menggeleng.
“Tak usah khawatir! Aku punya banyak uang.”
“Malas, ah…!”Kartono tidak mau bangkit dari tempat duduknya, di dalam kelas.
“Jangan begitu! Cepat, mumpung istirakhat belum berakhir.”
Atas bujukan Harun, akhirnya mau jugalah Kartono ke kantin Bu Mira. Berdua mereka menuju kantin yang terletak di sudut pekarangan sekolah. Tiba di sana ternyata masih banyak kawan yang sedang menikmati jajan. Hampir tak ada bangku kosong untuk Harun maupun Kartono. Sehingga keduanya mengambil duduk terpisah agak berjauhan.
Dalam sekejap keduanya telah memungut dan memakan jajan yang mereka suka. Harun menghabiskan 2 potong tempe goreng ditambah semangkok bakso. Sedangkan Kartono, semangkok bakso, 2 kerupuk udang, dan 2 potong tempe goreng.
“Wah, nikmatnya bakso Bu Mira ini ya, Ton?”seraya menepuk punggung Kartono, Harun berujar.
“I, iya, Run…..?”dengan suara gugup, Kartono menyahut sambil berpaling ke arah Harun.
Harun tersenyum.
“Selamat menikmati!”ujar Harun sembari berlalu meninggalkan Kartono di kantin Bu Mira.
“Lho! Kau mau ke mana, Run?”tanya Kartono kaget.
Seraya melangkah pergi, Harun menjawab, “Ke kelas!”
“Bagaimana dengan bakso yang aku makan ini?”Kartono bangkit dari tempat duduknya. Lalu mengejar Harun.
“Ya habiskan saja!”sahut Harun sambil terus berlalu.
“Bukan begitu maksudku, Run!”
“Maksudmu?”tanya Harun setelah menghentikan langkah. Ditatapnya Kartono lurus-lurus.
“Siapa yang mau membayarkan bakso aku?”
“Lha yang menyantap siapa?”
“Aku!”
“Orang yang menyantap itulah yang harus membayar, Ton!”
“Kok bisa begitu?”dahi Kartono berkerut-kerut.
“Ya bisa saja! Mana ada orang yang tidak makan, disuruh membayar?”
“Bagaimana dengan janjimu di kelas tadi, Ton?”
“Aku janji apa?”
“Kau janji akan membayarkan, bukan?”
“Aku tidak pernah janji semacam itu!”tangkis Harun. “Aku hanya bilang, bahwa kau tak usah khawatir. Aku banyak uang!”
“Tapi, tapi, semula aku kan tidak punya niat untuk ke kantin Bu Mira, Run? Karena aku tidak punya uang sepeser pun?”
“Mengapa akhirnya kau mau kuajak juga?”balas Harun membela diri
“Karena kupikir, kau yang akan menjajakan aku , Run.”
“Huuuhhh..! Kartono……! Kartono!”seru Harun sembari menggeleng-gelengkan kepala.
Kartono bingung melihat sikap Harun.
“Jadi orang maunya kok cuma menerima pemberian temannya terus,”lanjut Harun apa adanya. “Mbok sekali-kali aku yang kautraktir, Ton…!”
Kartono diam seribu bahasa. Anak lelaki itu tidak banyak protes. Tampaknya ia ingat betul akan perlakuannya kemarin sore terhadap Harun di kedai Pak Amat.
“Ton!”ujar Harun sembari memegang pundak kanan Kartono.
Kartono menatap Harun.
“Maaf, jika atas sikapku ini kau jadi kecewa hati, Ton!”lanjut Harun. “Kau pasti malu bercampur marah kepadaku. Ini pasti! Sebab, perasaan semacam itu pun pernah aku alami sendiri. Semua itu atas sikapmu kemarin sore ketika tak acuh kepadaku di kedai Pak Amat. Masih ingat peristiwa itukah kau, Ton? Sore itu aku benar-benar malu terhadap banyak orang. Aku benar-benar kecewa kepadamu!”
Kartono lama tidak menyahut. Anak itu menunduk dalam-dalam. Rupanya ia sedang meresapi apa yang dikatakan Harun. Atas wejangan Harun, Kartono benar-benar merasa kapok jadi anak yang berhati kikir!***
—————————–

Iklan

About sastrabocah

Sardono Syarief Lahir di Pekalongan, Jawa Tengah, Indonesia. Pendidikan: SD, SMP, SPG ditempuh di kota kelahiran, Pekalongan. Melanjutkan ke D-II dan S1 PGSD di UPBJJ Semarang dan Purwokerto, Jateng. Hobi menulis sejak di bangku kelas 6 SD lewat majalah dinding. Berlanjut di SMP hingga SPG Negeri Pekalongan (SMA 3) pada majalah dinding dan majalah sekolah "ASASSI" sebagai kontributor tulisan+anggota Redaksi bagian fiksi dan berita sekolah (1980-1982). Tahun 1983 mulai serius menulis puisi dan cerpen anak di media massa lokal maupun nasional hingga sekarang. Lebih dari 10 buku cerita anak-anak yang telah diterbitkan antara lain; Masih Ada Hari Esok, Anak-anak Kreatif, Roda-roda di Atas Jalan, Kerlip Lentera di Sudut Desa, Taman Mungil di Depan Istana, dll. Pernah juara dalam mengikuti sayembara mengarang naskah buku bacaan tingkat nasional yang diselenggarakan oleh Pusat Perbukuan,Departemen Pendidikan Nasional, Jakarta tahun 2003 dan 2004 sebagai juara II dan III. Mulai Juni 2009 ikut bergabung sebagai anggota Asosiasi Guru Penulis Seluruh Indonesia (Agupena) Jawa Tengah yang berpusat di Semarang.

4 responses »

  1. pak ceritanya bagus banget apa ini naskah yang meneng dalam lomba pengayaan. bisa kasih saya masukan saya mau lomba pengayaan nonofiksi dalam lomba pengayaan karena saya awam banget rencananya saya mau kirim cerpen kira-kira berap judul ya….ditunggu banget balasannya ke emailku

    • Terima kasih atas sanjungannya, Mbak Irma. Ini bukan termasuk naskah yang menang. Bila Mbak Irma mau ikutan lomba, secepatnya bikin tulisan. Menurut informasi, paling lambat tanggal 1 Maret 2010 yad. Naskah nonfiksi atau fiksi, minimal 60 halaman kwarto. Kira-kira 12 – 15 judul cerita, Mbak. Oke? Trims…

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s