BUNGA-BUNGA DI HALAMAN RUMAH

Standar

Oleh Sardono Syarief

“Mira………! Bangun, Mira! Hari sudah sore!”ujar ibu menggugahku.
“E….!”aku menggeliat sambil menguap. “Masih ngantuk, Bu,”ujarku lesu.
“Hus! Sudah sore. Sebentar lagi petang tiba,”dengan suara lirih ibu mengingatkanku.
“Sudah sore. Jam berapa, Bu?”tanyaku seraya membuka kedua kelopak matakku.
“Jam 15.00.”
“Baik, Bu.”
Aku menurut. Aku segera bangkit dari ambin. Kemudian keluar dari kamar, membuntuti ibu.
Seperti biasa, kutuju teras belakang. Kupungut sapu lidi yang berdiri berdampingan dengan kandang kelinci. Kemudian kupenuhi kegiatan rutinku setiap sore, yaitu menyapu halaman depan.
“Srek, srek, srek, srek……!”suara alunan sapu lidi yang bersentuhan dengan daun-daun mangga. Banyak memang daun mangga yang berguguran di depan rumahku sore itu. Rupanya karena tiupan angin kemarau yang cukup kencang, sehingga banyak daun yang tak tahan berpegangan pada rerantingnya. Mereka banyak yang kalah bergelut dengan angin. Mereka patah. Lalu mereka jatuh terkulai di atas halaman berpaving abu-abu.
“Kak!”seru Rita, adikku, yang telah menyusulku dari arah samping rumah. Di tangan kanannya terjinjing sebuah ember plastik kecil berisi air.
52
“Boleh aku menyiram bunga yang Kak Mira tanam?”demikian tanyanya penuh keingainan.
“Oh…..! Kau mau membantu Kakak?”jawabku seraya memperhatikannya.
Rita mengangguk seraya tersenyum.
“Boleh,”ujarku kemudian. “Silakan engkau sirami bunga-bunga itu, Dik. Agar mereka tak layu.”
“Terima kasih, Kak. Semuanya akan aku sirami dengan adil dan merata,”ujar Rita dengan nada gembira.
Aku mengangguk.
“Iya. Tapi hati-hati, ya? Jangan sampai bunganya ada yang berguguran!”
“Baik, Kak,”Rita segera berlalu meninggalkanku. Dengan ember yang telah berisi air tadi, ia mulai menghampiri tanaman bunga yang tumbuh teratur di dalam pot. Di teras depan.
Kini kembali kuteruskan kegiatan menyapuku. Di sela-sela kesibukan menyapu, kulirik Dik Rita mondar-mandir mengambil untuk seterusnya dikucurkan ke dalam pot dengan hati-hati.
“Kak! Lihat, Kak…..!”serunya di sisi bunga dahlia.
Aku berpaling ke arah suara Dik Rita.
“Ada apa, Dik?”tanyaku sambil mendapatkan Dik Rita.
“Ini Kak. Betapa indahnya bunga dahlia merah ini, Kak?”ujarnya dengan nada gembira. Tampaknya Dik Rita senang sekali melihat bunga dahlia yang berseri indah.
“Iya. Indah sekali ya, Dik?”ujarku seraya tersenyum. “ Daun dan bunga-bunga di taman kita ini terlihat segar setelah kausirami tadi, Dik.”
“Maksud, Kak Mira?”
“Seandainya daun dan bunga-bunga itu pandai bicara,”kataku. “Mereka tentu akan mengucapkan banyak terima kasih kepadamu, Dik. Mereka akan berterima kasih kepada seorang anak kecil yang telah mau memberinya minum. Oleh perbuatanmu, kini mereka merasa segar. Mereka merasa lega setelah seharian tadi dahaga menahan panas.”
“Apakah daun dan bunga merasakan haus juga seperti kita, Kak?”tanya adikku yang baru duduk di kelas 2 SD itu polos.
Aku mengangguk,mengiyakan.
“Walaupun cuma daun dan bunga,”demikian kataku. “ Mereka sama seperti kita, Dik. Mereka butuh minum. Mereka butuh air seperti manusia.”
“Apakah benar begitu, Kak?”
“Benar, Dik!”sahutku meyakinkan. “Walaupun mereka cuma tumbuhan,”kataku lebih lanjut. “Mereka juga butuh perawatan, perlindungan, pemeliharaan, juga perhatian dari kita, manusia.”
“Oh…….Jadi, begitu, ya, Kak?”
“Iya!”
Setelah agak lama kami berbincang tentang bunga, dengan segera kami selesaikan lagi tugas menyapu halaman hingga selesai.
Memang demikianlah cara kerja pada keluarga kami. Dalam menyelesaikan suatu pekerjaan, senantiasa ditanggung bersama. Hal ini kami lakukan, supaya pekerjaan tadi bisa cepat selesai. Sehingga beban berat menjadi terasa ringan. Beban lama, terasa menjadi singkat.
Sekarang, tugas menyapu dan menyiram bunga selesai sudah. Kami pun telah selesai mandi. Berdua aku dan Dik Rita duduk-duduk di teras depan seraya menikmati indahnya bunga-bunga di taman.
“Mira, Rita………! Kemari, Nak………!”terdengar ibu memanggil kami dari arah dapur.
“Iya, Bu…!”sahutku mewakili Dik Rita.
Berdua kami segera lari memenuhi panggilan ibu.
“Ada apa, Bu?”tanyaku ingin tahu.
“Ini, kolak bikinan Ibu. Makanlah….!”ibu telah menghidangkan dua mangkok kolak pisang raja untuk kami berdua.
“Wah……….! Terima kasih, Bu,”aku menerimanya dengan senang hati.
Ibu tersenyum senang.
Maka, bersama Dik Rita kolak dari ibu tadi pun segera kami santap dengan lahap.
“Sungguh, betapa sangat nikmat dan segarnya karunia Tuhan bagi umat-Nya,”bisikku di dalam hati***

Iklan

About sastrabocah

Sardono Syarief Lahir di Pekalongan, Jawa Tengah, Indonesia. Pendidikan: SD, SMP, SPG ditempuh di kota kelahiran, Pekalongan. Melanjutkan ke D-II dan S1 PGSD di UPBJJ Semarang dan Purwokerto, Jateng. Hobi menulis sejak di bangku kelas 6 SD lewat majalah dinding. Berlanjut di SMP hingga SPG Negeri Pekalongan (SMA 3) pada majalah dinding dan majalah sekolah "ASASSI" sebagai kontributor tulisan+anggota Redaksi bagian fiksi dan berita sekolah (1980-1982). Tahun 1983 mulai serius menulis puisi dan cerpen anak di media massa lokal maupun nasional hingga sekarang. Lebih dari 10 buku cerita anak-anak yang telah diterbitkan antara lain; Masih Ada Hari Esok, Anak-anak Kreatif, Roda-roda di Atas Jalan, Kerlip Lentera di Sudut Desa, Taman Mungil di Depan Istana, dll. Pernah juara dalam mengikuti sayembara mengarang naskah buku bacaan tingkat nasional yang diselenggarakan oleh Pusat Perbukuan,Departemen Pendidikan Nasional, Jakarta tahun 2003 dan 2004 sebagai juara II dan III. Mulai Juni 2009 ikut bergabung sebagai anggota Asosiasi Guru Penulis Seluruh Indonesia (Agupena) Jawa Tengah yang berpusat di Semarang.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s