ULURAN TANGAN

Standar

Oleh Sardono Syarief

“Kak…..!”
Aku menoleh ke arah datangnya suara.
“Saya minta, Kak!”lelaki kecil dekil itu menadahkan tangannya kepadaku.
“Kau siapa?”seraya memperhatikan anak lelaki tadi, aku bertanya.
“Saya Ihsan, Kak,”jawabnya setengah tersendat. “Saya lapar sekali, Kak,”sambungnya memelas.
“Duduklah!”perintahku kepada anak lelaki yang berumur sekitar 10 tahunan itu dengan ramah.
Siang itu matahari sangat terik. Debu-debu kota beterbangan dihembus angin. Udara terasa gerah. Sambil menunggu datangnya bus yang menuju ke kampungku, sengaja aku memesan semangkok bakso. Di tempat aku menuggu pesanan bakso yang dijual di pinggir jalan itulah Ihsan datang menghampiriku.
“Tolong, buatkan satu mangkok lagi, Pak!”pintaku kepada Pak penjual bakso untuk Ihsan.
“Baik, Mas,”sahut Pak penjual bakso sambil memperhatikan anak yang duduk di sisiku.
“Pulangmu ke mana, San?”tanyakku berbasa-basi.
“Ke Tegal, Kak,”sahut Ihsan sambil menyeka keringat yang berleleran di kening dan kedua pipinya.
“Lho, kok jauh amat?”ujarku kaget.
“Iya, Kak,” Ihsan meyakinkan.
“Dari Tegal sampai ke Pekalongan ini dengan siapa, San?”
“Sendirian saja, Kak.”
“Kalau begitu, ada yang kautuju?”
“Ada.”
“Siapa? Saudara atau Kakekmu?”
“Bukan saudara, bukan pula Kakek, Kak.”
“Jadi?”keningku agak berkerut.
“Saya cuma pedagang asongan saja, Kak.”
“Dagang apa?”
“Kacang gurih, Kak,”Ihsan bangkit dari duduknya. Lalu sejenak dia jongkok. “Seperti ini,Kak!”Ihsan menunjukkan serenteng kacang bungkus plastik.
Aku mengangguk-angguk sembari memperhatikan barang dagangan Ihsan.
“Kok bisa kamu sampai ke kota ini, San?”
“Bisa saja, Kak,”jawabnya agak panjang. “Kan saya pedagang asongan yang menjual barang selalu di dalam bus, Kak?”
Aku mengangguk, mengiyakan.
“Nah! Ceritanya tadi, sebelum saya sempat turun dari bus di sekitar terminal Tegal, bus sudah mulai tancap gas. Hingga sampailah saya tiba di sini ini, Kak.”
“Kalau begitu, daganganmu sudah banyak yang laku terjual, bukan?”
Ihsan menggeleng. Kedua bola matanya mulai merebak.
“Belum satu bungkus pun yang terjual, Kak,”ujarnya dengan suara tersendat akibat menahan air mata yang siap meleleh di kedua pipinya. “Itu pula sebabnya, saya tidak dapat membeli nasi untuk makan siang, Kak.”lanjut Ikhasan.
Mendengar itu, aku menarik napas panjang.
“Sekarang, makanlah baksomu itu dulu!”perintahku setelah dua mangkok bakso terhidang di hadapanku.
Anak itu menurut.
Sambil menikmati bakso yang masih terasa panas itu, sesekali aku bertanya.
“Anak sekecil kamu sudah pandai berdagang, San. Apakah kau tidak sekolah?”
“Sekolah, Kak.”
“Kelas berapa?”
“Kelas 5.”
“Kelas 5 sudah pandai mencari uang sambil sekolah,”ujarku datar. “Bagaimana caramu mengatur waktu, San?”
“Caranya,”sahut anak lelaki kecil itu. “Pagi sekolah, siang sepulang sekolah, saya berdagang di terminal bus Tegal sampai sore, Kak.”
“Uang hasil dari berdagang, untuk siapa, San?”
“Sebagian saya berikan Emak. Sebagian lagi saya tabung untuk melanjutkan sekolah tahun depan, Kak.”
“Bagaimana dengan Bapakmu?”
“Bapak telah meninggal tiga tahun silam, Kak. Oleh sebab itu, Emak dan saya bekerja sendiri demi mendapatkan uang untuk makan.”
Mendengar cerita Ihsan, aku sangat terharu. Demi cita-cita untuk bisa melanjutkan sekolah di bangku SMP, anak itu mau bekerja keras. Sementara, banyak anak dari orang tua yang cukup mampu, tak mau tekun dalam menempuh belajar. Kebanyakan dari rumah berangkat, tetapi tidak sampai di sekolah. Ke mana sajakah mereka?
“Ihsan! Terimalah ini untuk menambah jumlah tabunganmu!”
Anak itu dengan malu-malu menerima uluran tanganku.
“Terima kasih, Kak,”ucapnya senang. “Tuhan, mesti dengan apakah saya dapat membalas kebaikan Kakak yang satu ini?”
“Tidak usah banyak berpikir!”ujarku. “Kakak cuma minta balasan darimu, berupa wujud nyata dari cita-citamu yang cukup gemilang itu saja, San.”
“Melanjutkan sekolah, Kak?”
“Iya!”
“Saya akan senantiasa berjuang semampu saya, Kak,”janji anak itu penuh cita-cita.
Sementara itu, bus yang menuju ke kota kecamatanku telah tiba. Ihsan kutinggal sendiri setelah sebelumnya dia mengucapkan kata terima kasih berulangakali. ***

Sardono Syarief, Ketua Agupena Kab. Pekalongan, JatengWinter

Iklan

About sastrabocah

Sardono Syarief Lahir di Pekalongan, Jawa Tengah, Indonesia. Pendidikan: SD, SMP, SPG ditempuh di kota kelahiran, Pekalongan. Melanjutkan ke D-II dan S1 PGSD di UPBJJ Semarang dan Purwokerto, Jateng. Hobi menulis sejak di bangku kelas 6 SD lewat majalah dinding. Berlanjut di SMP hingga SPG Negeri Pekalongan (SMA 3) pada majalah dinding dan majalah sekolah "ASASSI" sebagai kontributor tulisan+anggota Redaksi bagian fiksi dan berita sekolah (1980-1982). Tahun 1983 mulai serius menulis puisi dan cerpen anak di media massa lokal maupun nasional hingga sekarang. Lebih dari 10 buku cerita anak-anak yang telah diterbitkan antara lain; Masih Ada Hari Esok, Anak-anak Kreatif, Roda-roda di Atas Jalan, Kerlip Lentera di Sudut Desa, Taman Mungil di Depan Istana, dll. Pernah juara dalam mengikuti sayembara mengarang naskah buku bacaan tingkat nasional yang diselenggarakan oleh Pusat Perbukuan,Departemen Pendidikan Nasional, Jakarta tahun 2003 dan 2004 sebagai juara II dan III. Mulai Juni 2009 ikut bergabung sebagai anggota Asosiasi Guru Penulis Seluruh Indonesia (Agupena) Jawa Tengah yang berpusat di Semarang.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s