GARA-GARA SINETRON

Standar

Oleh: Kak Sardono Syarief

Seminggu menjelang ulangan umum semester genap tiba, Bu Nur mengingatkan Laila, anaknya.
“Laila, akhir-akhir ini Ibu lihat kau jarang sekali belajar. Bukankah tes ulangan umum semester sudah hampir tiba?”
“Benar, Bu. Kenapa?”sahut Laila seenaknya. Anak perempuan kelas 5 SD itu tampak tak begitu acuh terhadap teguran ibunya. Perhatiannya tetap tertuju ke layar TV.
“Tentunya kau harus rajin belajar, Laila. Semua ini agar nilai rapotmu memuaskan.”
“Ala, Ibu!”sahut Laila merajuk. Mukanya bersungut. “ Bukankah sudah dari kelas satu dulu Laila selalu dapat ranking pertama?”timpal anak perempuan itu menyepelekan ibunya. “Mengapa Ibu mesti mengejar-ngejar Laila untuk belajar, sih?”
Bu Nur, ibu Laila, tampak kecewa. Ibu setengah baya tadi menarik nafas dalam-dalam. Sesaat dari itu, dengan sabar Bu Nur berkata lagi.
“Ibu hanya mengingatkanmu saja, Laila. Siapa tahu, akibat kau malas belajar, nilai rapotmu merosot?”
“Ibu tak usah khawatir!” tangkis anak yang berambut pendek itu menepis kata-kata ibunya. “Laila pasti akan dapat ranking pertama. Nilai Laila pasti akan memuaskan, Bu,”sanggahnya lagi sembari tak sedikit pun melepaskan perhatiannya ke acara sinetron. Sebuah acara yang menjadi kesukaan anak itu sejak pertengahan bulan lalu.
“Kalau Ibu peringatkan tidak mau, ya sudah. Toh hasilnya kau sendiri yang akan menanggung akibatnya, Laila……..”
“Tenang, Bu! Tenang…!”
Bu Nur diam. Ditinggalkannya Laila sendiri di hadapan TV, di ruang tengah. Kembali ibu setengah baya itu ke dapur untuk meneruskan masaknya sebagai buka puasa petang nanti.

Sejauh itu, Laila semakin larut dalam acara sinetron bersambung yang diikutinya. Anak perempuan itu tampak kian tak mempedulikan peringatan ibunya. Hingga tak disadari, kalau ternyata sehari lagi tes semester genap sudah segera tiba.
“Laila,”kata ibunya.
“Ya, bu?”sahut Laila tak acuh.
Petang itu ibu dan anak tadi berada di ruang tengah, di depan layer TV.
“Besok tes semester bakal kauhadapi. Ibu minta tinggalkan dulu acara sinetron yang kauikuti tiap petang itu, Laila!”
“Maksud, Ibu?”
“Belajarlah! Agar kau dapat naik kelas dengan prestasi memuaskan.”
“Ala,Ibu! Peduli amat sih pada Laila!”rajuk Laila dengan nada tinggi.
Bu Nur diam. Dibiarkannya saja apa yang dikehendaki Laila. Ibu separoh baya itu merasakan kalau anaknya benar-benar kian bandel.
Sementara, tes ulangan umum semester genap pun telah berlalu. Sebelum tiba liburan panjang, anak-anakmenerima rapot. Begitu pula Laila.
“Laila. Ibu lihat wajahmu begitu murung. Apakah kau tidak naik kelas? Atau nilai rapotmu ada merahnya?”seusai makan siang Bu Nur bertanya.
Ditanya demikian, Laila tak menjawab. Hanya air matanya saja yang mulai merebak di kedua bola matanya yang kian memerah.
“Kenapa? Kau tidak naik kelas, ya?”desak ibunya ingin tahu.
Laila menggeleng lesu.
“Mana rapotmu? Coba,Ibu lihat!”desak Bu Nur sekali lagi.
Dengan gerakan tak semangat, Laila mengulurkan buku rapot yang ia ambil dari dalam tas sekolahnya.
“Ini,Bu….”
Bu Nur sangat terkejut begitu melihat nilai yang tertera pada rapot Laila. Di dalam rapot tersebut ternyata terdapat dua nilai merah. Nilai yang belum pernah sekali pun diraih oleh Laila sejak kelas satu dulu. Dengan demikian, bukankah perolehan ranking satu beralih ke teman Laila?

“Nah, sekarang baru kaurasakan, Laila!”komentar Bu Nur di hadapan anaknya. “Kini nilai rapotmu sangat turun. Rankingmu pun sangat merosot. Dengan perolehan ranking tujuh, apakah kau tidak malu terhadap teman-temanmu,Laila? Untung kau masih bisa naik ke kelas 6. Kalau tidak, apa jadinya? Apa komentar teman-temanmu?”
Laila tertunduk diam. Air matanya benar-benar telah meleleh, mengalir lewat kedua pipinya yang montok.
“Maafkan Laila, Bu,”ujar Laila di tengah isaknya. “Laila yang bersalah. Selama ini Laila memang tak mau mempedulikan nasihat baik Ibu. Laila menyesal. Laila tidak akan tenggelam ke dalam acara sinetron lagi, Bu. Laila kapok. Laila akan rajin belajr kembali, Bu.”
Sembari berujar demikian, Laila merebahkan kepalanya ke pangkuan Bu Nur, ibunya.
Mendengar kata penyesalan anaknya, hati Bu Nur pun merasa terharu. Dielus-elusnya dengan lembut rambut di kepala Laila. Bagi Laila tak ada yang bisa diperbutnya lagi, kecuali janji untuk tidak mengulangi kesalahannya yang lalu.
Mulai saat itu, hanya sesekali Laila menyaksikan acara sinetron di layar televisi. Ia mulai giat belajar lagi. Karena tahun depan ia tidak ingin mengalami kesulitan dalam menghadapi ujian akhir semester berstandar nasional (UAS-BN).

Iklan

About sastrabocah

Sardono Syarief Lahir di Pekalongan, Jawa Tengah, Indonesia. Pendidikan: SD, SMP, SPG ditempuh di kota kelahiran, Pekalongan. Melanjutkan ke D-II dan S1 PGSD di UPBJJ Semarang dan Purwokerto, Jateng. Hobi menulis sejak di bangku kelas 6 SD lewat majalah dinding. Berlanjut di SMP hingga SPG Negeri Pekalongan (SMA 3) pada majalah dinding dan majalah sekolah "ASASSI" sebagai kontributor tulisan+anggota Redaksi bagian fiksi dan berita sekolah (1980-1982). Tahun 1983 mulai serius menulis puisi dan cerpen anak di media massa lokal maupun nasional hingga sekarang. Lebih dari 10 buku cerita anak-anak yang telah diterbitkan antara lain; Masih Ada Hari Esok, Anak-anak Kreatif, Roda-roda di Atas Jalan, Kerlip Lentera di Sudut Desa, Taman Mungil di Depan Istana, dll. Pernah juara dalam mengikuti sayembara mengarang naskah buku bacaan tingkat nasional yang diselenggarakan oleh Pusat Perbukuan,Departemen Pendidikan Nasional, Jakarta tahun 2003 dan 2004 sebagai juara II dan III. Mulai Juni 2009 ikut bergabung sebagai anggota Asosiasi Guru Penulis Seluruh Indonesia (Agupena) Jawa Tengah yang berpusat di Semarang.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s