DEMI SESAMA

Standar

Oleh Sardono Syarief

Hari sudah siang. Misa di gereja sudah selesai. Oleh Mama dan Papa, aku diminta pulang ke rumah sendiri.
“Christin! Mumpung berada di sini. Mama dan Papa akan menjenguk Om Petrus di rumah sakit. Engkau pulang sendiri ya?”demikian kata Mama begitu kami keluar dari gereja.
“Iya, Ma. Christin tak apa-apa,”jawabku seraya tersenyum.
“Jangan lupa berdoa! Agar kau selamat sampai di rumah Christin!”tambah Papa mengingatkan.
“Baik, Pa! Christin akan senantiasa berdoa,”
Papa maupun Mama tersenyum lega. Setelah mencium kedua pipiku secara bergantian, mereka pun berlalu meninggalkanku sendirian di depan gereja.
Tak berapa lama dari itu, meluncur mikrolet dari arah utara. Mobil omprengan itu melintas di jalan raya depan gereja.
“Kota, kota, kota…..!”teriak-teriak kernet menawarkan kepada setiap orang yang berdiri di pinggir jalan.
“Kota, Om!”panggilku seraya melambaikan tangan.
Mobil berhenti. Aku segera melompat ke dalam mikrolet. Tak lebih dari satu menit kemudian, mobil pun bergerak meneruskan perjalanan.
Selang setengah jam dari itu, mobil tiba di kota.
“Kota habis, kota habis….!”Om Kernet memberitahukan kepada penumpang yang ada di dalam mobil.
“Kiri, Om!”pintaku pada Om Kernet.
“Ya, kiri, Pir…….!”Om Kernet meminta Pak Sopir agar menghentikan laju mobilnya ke tepi jalan.
Mobil berhenti. Aku segera turun. Demikian pula penumpang lain. Tampaknya banyak pula yang turun mengikutiku.
“Cristin! Sebelum tiba di rumah, dengan uang Mama, jangan lupa kaubeli buah pir dan apel merah ya! Masing-masing 2 kg,”kubaca pesan singkat Mama yang tertulis di Hpku.
“Ya, Ma!”sambil melangkah menuju penjual buah, kujawab SMS Mama tadi dengan singkat.
Setiba di penjual buah langganan Mama, aku tidak banyak menawar. Seperti biasa, sang penjual memilih kemudian membungkuskan buah pesananku.
“Mau pesan apa lagi, Nak Christin?”tanya Ibu penjual buah langganan Mama tadi dengan ramah.
“Untuk sementara, ini dulu, Bu. Gampang lain waktu Christin ke sini lagi,”jawabku seraya tersenyum ramah pula.

“Oh, ya? Terima kasih ya, Nak?”
“Ya, sama-sama, Bu. Permisi….!” sahutku sambil melangkah meninggalkan Ibu penjual buah.
Sementara itu matahari tampak menggelantung di atas langit. Panasnya bagai membakar kulit. Udara seakan hilang, tak mau bertiup untuk mengurangi rasa sengat matahari. Sehingga gerah yang aku rasakan makin tak tertahankan. Terlebih keringat membanjir di sekujur tubuh. Ouw….! Sungguh bukan kepalang rasa gerah di badan ini!
“Nak, minta, Nak….! Nak, saya minta……..!”seorang perempuan renta menengadahkan tangannya ke arahku dengan tiba-tiba.
Kulirik sepintas orang tua tersebut.
“Wouw…..! Mengenaskan sekali keadannya!”kata hati kecilku. “Kulit orang tua itu penuh keriput. Rambutnya sudah banyak yang putih lagi tak terurus. Jalannya bungkuk dan agak sempoyongan. Untuk menahan keseimbangan tubuhnya, nenek renta itu berpegangan pada tongkat kayu tua. Pakaian yang dikenakan pun compang-camping lagi sudah lusuh. Rupanya perempuan tua tadi adalah seorang pengemis yang benar-benar perlu ditolong.”
“Nak. Tolong, Nak! Nenek sudah lapar sekali. Sejak kemarin Nenek belum makan. Tolong, Nenek diberi, Nak!”pinta perempuan tua itu lagi penuh memelas.
“Nek. Uang Christin sudah habis. Ada sedikit untuk ongkos pulang,”kataku. “Bagaimana kalau Nenek aku beri buah pir dan apel ini saja? Apakah Nenek mau?”
“Buah apa itu, Nak?”dengan pandangan kosong, nenek renta tadi bertanya.
“Buah pir dan apel, Nek.”
“Buah pir dan apel?”
“Ya, Nek. Apakah Nenek mau?”
Sambil mengangguk senang, perempuan renta itu menjawab,”Ya. Nenek mau saja, Cah ayu…”
“Baik, Nek. Ini separo untuk Nenek! Separonya lagi untuk Christin bawa pulang ya?”ujarku seraya mengulurkan kedua macam buah yang masih asing bagi nenek renta tadi.
“Ya. Terima kasih, Nak ! Terima kasih,”nenek tadi amat senang rupanya. Rahut mukanya terlihat ceria. Buah dariku tadi segera ia kantongi ke dalam plastik hitam. Kemudian dibawanya berteduh di bawah pohon beringin yang tumbuh rindang di halaman kantor sebuah bank swasta. Untuk seterusnya ia nikmati buah pir dan apel tersebut dengan lahap.
Sementara itu, dengan menumpang mobil angkota, aku pun segera pulang. Setiba di rumah, sambil menunggu Mama dan Papa pulang dari rumah sakit, kukerjakan pekerjaan rumah yang ringan-ringan. Misal mengiris bawang merah, menggoreng tempe, dan mencuci piring.
Belum lama pekerjaan ringan kuselesaikan, Mama dan Papa pun pulang. Aku menyambutnya dengan senang hati.
“Selamat siang, Mama….Papa …!”
“Siang, Nak….!”sahut Mama dan Papa bersamaan.
“Sudah pulang Ma, Pa?”
“Sudah, Tin,”jawab Mama.
“Bagaimana kabar Om Petrus, Ma, Pa?”
“Oleh dokter, Om Petrus dinyatakan sudah sembuh. Besok boleh pulang,”Papa menjelaskan.
“Oh! Syukurlah kalau begitu, Pa!”ujarku turut senang.
“Kau jadi beli buah pir dan apel tidak, Tin?”tanya Mama begitu menikmati istirahat siangnya.
“Jadi, Ma,”sahutku seraya menghampiri Mama yang duduk-duduk santai di ruang tengah bersama Papa. “Tapi, Christin mohon maaf, Ma,”lanjutku.
“Lho! Memangnya kau kenapa?”dengan nada setengah kaget, Mama bertanya sambil memandangku lurus-lurus.
“Buah pir maupun apel Mama tinggal sedikit, Ma,”sahutku agak cemas. Jangan-jangan Mama marah.
“Memangnya, kau kemanakan?”Papa ikut menyahut.
“Christin berikan kepada Nenek tua peminta-minta, Pa. Nenek tua yang sangat butuh uluran tangan dari kami.”
Mendengar penjelasanku, Papa mengangguk-angguk, mengerti.
“Bagaimana, Mama?”tanyaku.
Mama tersenyum.
“Untuk sesama, “ujar Mama lembut. “Demi kebahagiaan bersama, “lanjutnya. “Mama sangat senang buah pir maupun apel Mama engkau berikan kepada Pengemis tua itu, Christin, Bahkan Mama dan Papa merasa bangga punya anak penderma seperti kamu. Mama senang. Mama rela, seandainya semua buah Mama itu engkau berikan kepada Nenek tua tadi, Chris.”
“Betul, Ma? Mama tidak mengapa pada Christin?”
“Mama bangga punya anak sepertimu, Christin! Mama rela membagikan yang Mama punya kepada sesama,”ujar Mama sekali lagi sambil memeluk erat pundakku.***
.

Iklan

About sastrabocah

Sardono Syarief Lahir di Pekalongan, Jawa Tengah, Indonesia. Pendidikan: SD, SMP, SPG ditempuh di kota kelahiran, Pekalongan. Melanjutkan ke D-II dan S1 PGSD di UPBJJ Semarang dan Purwokerto, Jateng. Hobi menulis sejak di bangku kelas 6 SD lewat majalah dinding. Berlanjut di SMP hingga SPG Negeri Pekalongan (SMA 3) pada majalah dinding dan majalah sekolah "ASASSI" sebagai kontributor tulisan+anggota Redaksi bagian fiksi dan berita sekolah (1980-1982). Tahun 1983 mulai serius menulis puisi dan cerpen anak di media massa lokal maupun nasional hingga sekarang. Lebih dari 10 buku cerita anak-anak yang telah diterbitkan antara lain; Masih Ada Hari Esok, Anak-anak Kreatif, Roda-roda di Atas Jalan, Kerlip Lentera di Sudut Desa, Taman Mungil di Depan Istana, dll. Pernah juara dalam mengikuti sayembara mengarang naskah buku bacaan tingkat nasional yang diselenggarakan oleh Pusat Perbukuan,Departemen Pendidikan Nasional, Jakarta tahun 2003 dan 2004 sebagai juara II dan III. Mulai Juni 2009 ikut bergabung sebagai anggota Asosiasi Guru Penulis Seluruh Indonesia (Agupena) Jawa Tengah yang berpusat di Semarang.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s