Standar

DOMPET SAKTI PAPA
Oleh Kak Sardono Syarief

Setiap kali bepergian, Papa selalu membawa dompet. Kadang dompet itu dimasukkan ke dalam saku celana bagian belakang.Kadang disimpan di balik jok sepeda motor. Entah Rani tak tahu apa alasan Papa membawa dompet kulit bila setiap pergi. Yang Rani tahu, dompet Papa selalu berisi uang cukup banyak.
“Sudah siap, Rani?”tanya Papa. Pagi yang cerah itu, Papa hendak mengajak Rani membeli peralatan sekolah ke kota.
“Sudah, Pa,”jawab Rani singkat. “Kita berangkat sekarang, Pa?”
“Mau tunggu siapa lagi, Rani?”balas Papa. “Kan tadi Mamamu bilang, tidak akan ikut?”
“Kenapa Mama, Pa?”
“Mama tak mau boncengan bertiga. Mama khawatir jok motor Papa tak muat.”
“Ha,ha,ha,ha…! Mama, Mama…! Mama maunya berduaan dengan Papa saja,ya?”ledek Rani.
“Siapa bilang?”sahut Mama seraya menata piring untuk sarapan pagi di meja.
“Rani, Ma.”
“Nah, Rani sendiri kan yang bilang? Bukan Mama?”kilah Mama tak mau kalah.
“Sudah, sudah…!”potong Papa. “Ayo, kita sarapan dulu! Baru nanti kita berangkat, Rani.”
Papa segera menyendok nasi ke piring. Mama juga. Demikian pula Rani. Rani mengambil sepucuk centong nasi dan seiris tempe goreng.
“Kok sedikit amat makanmu kali ini, Rani?”tegur Mama. “Kenapa?”
“Tak apa-apa,Ma. Rani sudah kenyang, kok!”
“Mau diajak ke kota. Jadi tak doyan makan, ya..?”ledek Papa seraya tersenyum.
“Memang begitu, Pa,”timpal Rani jujur.
Papa maupun Mama tertawa.
“Nah, ketahuan,kan?”sahut Mama.“Gara-gara mau diajak ke kota, kau tak doyan makan.”
“Ah, Mama..!”Rani tersipu.
Usai sarapan, Papa segera menghidupkan sepeda motornya.
“Rani! Ayo, berangkat!”panggil Papa dari halaman depan.
“Sebentar, Pa!”seru Rani seraya lari mendekat Papa.
“Rani dan Papa pergi dulu ya, Ma!”pamit Rani pada Mama
“Berangkatlah hati-hati,Rani,”balas Mama yang ikut mengantar Rani sampai di teras depan.
Pelan-pelan Papa melarikan sepeda motornya menyusuri jalan raya ke arah timur. Tak begitu cepat memang. Papa tak biasa ngebut seperti anak muda.
Di kejauhan mata memandang, tampak matahari mengintai lari Papa dan Rani. Ia timbul tenggelam dari balik dedaunan pinggir jalan.
Kurang lebih baru setengah perjalanan, di depan tampak ramai orang berkumpul.
“Ada apa, Pa?”tanya Rani ingin tahu.
“Ada tilang,”jawab Papa.
“Apa tilang itu , Pa?”tanya Rani masih dari boncengan Papa.
“Pengecekan bukti pelanggaran kendaraan bermotor oleh Polisi Lalulintas.”
“Oh…,”Rani paham.
“Kiri,Pak!”perintah Pak Polisi Lalulintas pada Papa sambil memberikan isyarat agar Papa menghentikan sepeda motornya ke pinggir jalan.
Papa menurut.
“Maaf. Selamat pagi, Pak!”salam Pak Polisi kepada Papa.
“Selamat pagi kembali, Pak,”balas Papa tenang.
“Mana surat-surat motornya, Pak?”pinta Pak Polisi selanjutnya.
Papa segera merogoh kantong saku celana bagian belakang. Tak ada surat-surat yang ditemukan. Kemudian berpindah ke balik jok sepeda motor, juga tak ada.
“Aduh! Maaf, Pak! Dompet saya tertinggal di rumah,”ujar Papa setelah tak berhasil menemukan semua surat yang ditanyakan Pak Polisi.
“Kalau begitu, silakan Bapak pulang untuk mengambilnya! Sementara, sepeda motor Bapak tinggal di sini dulu!”
“Lho, rumah saya ini jauh, Pak! Mana mungkin saya harus pulang dengan jalan kaki?”ujar Papa beralasan.
Tapi rupanya Pak Polisi tak mau tahu.
“Pa, Rani punya dompet,”bisik Rani ke telinga Papa.
“Dompetmu tak berisi surat-surat sebagaimana yang dimaksudkan Pak Polisi, Rani,”jawab Papa lirih.
“Sebenarnya Pak Polisi meminta surat-surat apaan sih, Pa?”
“SIM dan STNK”
“SIM dan STNK itu apa, Pa?”
“Surat Izin Mengemudi dan Surat Tanda Nomor Kendaraan.”
“Oh!”mulut Rani setengah menganga. “Apakah tanpa kedua macam surat itu, motor Papa akan tetap ditahan Polisi, Pa?”
Papa mengangguk, mengiyakan.
“Kalau begitu, mari kita pulang dulu untuk mengambil dompet Papa!”
“Apakah dompetmu isi uang untuk ongkos naik angkot, Rani?”
Rani mengangguk, “Isi, Pa.”
Akhirnya Papa dan Rani pulang.
“Lho! Kok sudah pulang? Di mana sepeda motor Papa?”sambut Mama kaget bercampur banyak tanda tanya.
“Ditilang Polisi,Ma,”adu Rani begitu tiba di dekat Mama.
“Memangnya Papa tak membawa dompet?”
“Tidak. Papa lupa membawanya,”jawab Papa. “Tadi pagi ketika Papa ganti celana,”sambung Papa. “Dompet itu tidak Papa pindahkan sekalian ke celana yang Papa kenakan sekarang. Jadi, dompet tersebut tertinggal,Ma.”
“Kalau begitu, dompet Papa sakti sekali ya, Ma?”sela Rani ingin keyakinan.
“Maksud Rani?”tanya Mama.
“Dengan dompet itu, sepeda Papa akan terbebas dari tilang Pak Polisi.”
Mendengar ucapan Rani tadi, membuat Papa dan Mama jadi tertawa geli.
“Bukan! Bukan dompet Papa yang sakti, Rani! Melainkan surat-suratnya,”kata Papa meluruskan pendapat Rani.
Dari penjelasan Papa tadi, Rani jadi mengerti.
Maka,”Ayo, sekarang kita pergi lagi untuk mengambil sepeda motor, Rani!”ajak Papa kemudian.
“Sekaligus jalan-jalan ke kota ya, Pa?”pinta Rani mengingatkan Papa.
“Jangan khawatir!”kata Papa mantap.
“Ah! Gara-gara dompet sakti Papa tertinggal, acara ke kota jadi tertunda ya, Pa?”sindir Mama untuk Rani.
Papa mengangguk sembari tersenyum. Demikian pula Mama. ***

Kak Sardono Syarief
Penulis cerita dan puisi anak-anak, pengurus Agupena Kab.Pekalongan

Iklan

About sastrabocah

Sardono Syarief Lahir di Pekalongan, Jawa Tengah, Indonesia. Pendidikan: SD, SMP, SPG ditempuh di kota kelahiran, Pekalongan. Melanjutkan ke D-II dan S1 PGSD di UPBJJ Semarang dan Purwokerto, Jateng. Hobi menulis sejak di bangku kelas 6 SD lewat majalah dinding. Berlanjut di SMP hingga SPG Negeri Pekalongan (SMA 3) pada majalah dinding dan majalah sekolah "ASASSI" sebagai kontributor tulisan+anggota Redaksi bagian fiksi dan berita sekolah (1980-1982). Tahun 1983 mulai serius menulis puisi dan cerpen anak di media massa lokal maupun nasional hingga sekarang. Lebih dari 10 buku cerita anak-anak yang telah diterbitkan antara lain; Masih Ada Hari Esok, Anak-anak Kreatif, Roda-roda di Atas Jalan, Kerlip Lentera di Sudut Desa, Taman Mungil di Depan Istana, dll. Pernah juara dalam mengikuti sayembara mengarang naskah buku bacaan tingkat nasional yang diselenggarakan oleh Pusat Perbukuan,Departemen Pendidikan Nasional, Jakarta tahun 2003 dan 2004 sebagai juara II dan III. Mulai Juni 2009 ikut bergabung sebagai anggota Asosiasi Guru Penulis Seluruh Indonesia (Agupena) Jawa Tengah yang berpusat di Semarang.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s