Standar

“ TERSINGKIRNYA KESOMBONGAN ”
Oleh Sardono Syarief

Malam masih tampak gelap. Fajar belum juga tiba. Meski demikian, dengan sikap congkak, si Jago telah berteriak-teriak memberisiki lelap tidur binatang hutan lainnya.
“Bak,bak,bak, kukuruyuuuuuuuukkkk….! Hai, semua binatang penghuni hutan! Bangunlah kalian! Ingat, hari sudah siang! Cepat kumpul ke mari ! Ada hal yang perlu segera kita bicarakan!”
Mendengar titah Rajanya, semua binatang yang ada di dalam hutan itu cepat-cepat bangun. Dengan langkah tebirit-birit dan mata terkantuk-kantuk, mereka segera mendapatkan si Jago, raja mereka. Tampak dengan sikap angkuh, si Jago berdiri pada pokok beringin yang belum lama tumbang diterjang angin ribut.
“Daulat, Gusti. Ada apa malam-malam Gusti mengumpulkan kami?”sembah Harimau begitu tiba di hadapan Jago. Binatang besar lagi bertaring tajam itu menggerak-gerakkan kepalanya sebagai tanda hormat pada sang Raja.
“Ayo, yang lain tirukan!” perintah si Jago dengan suara keras lagi menggelegar.
Dengan gerakan cepat Kerbau, Sapi, Banteng, Gajah, Singa, Kambing, Kijang, Kancil, Burung Hantu, Rajawali, dan masih banyak binatang lainnya segera menirukan sikap Harimau.
“Nah, begitu! Bagus….! Bagus…..!”ujar si Jago. “Mana si Prenjak? Mengapa ia tak tampak di sini? Ayo, siapa yang tahu? Di mana si Kerdil itu berada?”mata si Jago melotot mencari-cari keberadaan Burung Prenjak.
Para binatang yang ditanya tak ada yang berani menjawab. Mereka juga tak ada yang berani berbisik walau lirih sekali pun. Di hati mereka khawatir, salah jawaban bisa jadi sasaran kemarahan rajanya.
“Tahukah kau Kutilang? Di mana si Kerdil, temanmu itu berada?”
“Ti,ti,tidak, Gusti,”jawab Kutilang dengan suara gagap.
“Kau tahu, Cil?”pertanyaan sang Raja beralih kepada si Kancil.
“Saya juga tidak tahu, Gusti,”sahut si Kancil apa adanya.
“Ah, benar-benar tolol kau ini,Cil ! “bentak si Jago dengan nada tinggi. “Kukira kau ini binatang yang paling cerdik di seisi hutan ini. Ternyata keliru. Ternyata bodohmu habis-habisan, Cil!”si Jago tampak marah lagi kecewa benar.
Diumpat demikian, si Kancil tak berani berkutik. Ia menunduk dalam. Tak berani menjawab, apalagi melawan. Binatang itu diam seribu bahasa.
“Ayo, siapa di antara kalian yang tahu, di mana si Prenjak congkak itu berada, rakyatku?”
Para binatang yang ditanya diam semua. Mereka tak ada yang sanggup memberikan keterangan. Mereka pilih diam, daripada menjawab, salah-salah bisa celaka sendiri.
“Hai ! Apa kalian semua ini tuli, ya? Ditanya tidak ada yang menjawab,” bentak si Jago dengan nada marah. “Apa kalian ini bisu?”sambungnya dengan mata memerah.
Bukan main rasa kesal di hati si Jago. Dia berpendapat, bahwa semua rakyatnya pagi itu mulai berani mempermainkan dirinya. Membangkang titahnya. Menyepelekan perintahnya.
“Hai! Apakah kalian ini sudah tidak tunduk kepadaku lagi? Hah….!”binatang berbulu emas yang selama ini bangga menjadi raja itu berulangkali menggeleng-gelengkan kepala. Sikapnya yang sombong kian tampak ketika memperhatikan sikap semua rakyatnya dengan cibiran sinis. “Apakah kalian sudah tidak mau mengakuiku lagi sebagai Raja seperti si Prenjak keparat itu?”tambahnya. “Apakah kalian tak melek? Kalau hidup dan mati si Prenjak sial itu nasibnya berada di kedua kakiku? Kalian tahu tidak?”si Jago membentak-bentak.
Para binatang yang ditanya diam terpekur. Tak ada yang berani angkat bicara.
“Jangan mentang-mentang pandai berkicau merdu, lalu si Kerdil itu tidak mau tunduk kepadaku. Bahkan sebaliknya, sebagai rakyat, justru dialah yang harus senantiasa tunduk dan menaruh hormat kepadaku. Bukankah aku sebagai Rajanya? Bukankah aku sebagai Raja kalian semua?”
Sikap si Jago kian angkuh. Dia mengibas-ngibaskan ekor panjangnya menyapu tanah hingga menimbulkan lautan debu. Karena debu tadi, jadi sesaklah seluruh pernapasan dan paru-paru rakyatnya. Demikian pula kedua sayapnya yang berlapiskan emas. Olehnya juga sengaja dikepak-kepakkan dengan keras, agar menimbulkan gema yang cukup memekikkan telinga rakyatnya. Begitu pula kepalanya yang bermahkota intan permata. Dengan sikap yang amat congkak si Jago juga menggeleng-gelengkannya berulangkali, hingga menimbulkan suara gaduh bagaikan guruh.
Dari melihat itu, semua rakyatnya jadi tak suka. Jadi tak simpati lagi kepada sang Raja. Tetapi apa daya? Mereka belum ada yang berani terus terang menentang sikap sang Raja. Kalaupun pagi itu mereka terlihat tunduk, hanyalah sikap berpura-pura. Karena pada dasarnya, hati mereka sudah berontak. Sudah tidak ingin lagi dipimpin oleh sang Raja yang bersikap semena-mena. Raja yang sombong dan congkak. Mereka sudah sangat merindukan datangnya sang Raja baru yang bersikap bijak lagi mulia.
“Ha,ha,ha,ha….! Mengapa kalian bisu semua? Mengapa kalian tuli semua? Apakah kalian memang sudah tidak ada yang mendengar pertanyaanku! Hah…?”suara si Jago memecah keheningan lagi.
“Ampun seribu ampun, Tuanku!” sembah Kijang Emas memberanikan diri.
“Iya, Kijang Emas. Apa yang hendak kaukatakan?”sahut si Jago seraya mengasah kedua taji yang menempel di kedua kakinya.
“Kemarin sore saya melihat si Prenjak sedang sakit panas, Tuan. Dia sedang flu dan sakit gigi. Sehingga pagi ini dia tak bisa datang memenuhi panggilan Tuan Raja ke mari,”Kijang Emas
mencari alasan untuk membela Burung Prenjak, sahabatnya.
“Ah, benarkah kata-katamu, Kijang Emas? “sahut si Jago. “Dapatkah omonganmu saya percaya?”
“Benar, Tuan Raja! Saya tidak berbohong,”sahut si Kijang Emas mencoba meyakinkan Rajanya.
“Kurasa omonganmu bohong, Kijang!”ucap si Jago dengan amat geram. “Oleh sebab itu, ini upah untukmu! Cetak…! Cetak…! Cetak….!”
“Aduuuhhh….! Ampun Tuan Rajaku, ampuuunnn….! Aduuuhhhh….!”si Kijang Emas lari kesakitan. Dari kepalanya memancar deras darah segar. Darah merah dari luka tendangan kedua taji runcing lagi tajam milik sang Raja yang sombong.
Kini akibat kehabisan darah, tubuh si Kijang Emas lemah. Binatang pembela kebenaran itu lunglai tak berdaya. Hingga akhirnya matilah ia di bawah rumpun bambu tengah hutan.
“Ha,ha,ha,ha…..!”tawa si Jago dengan sikap angkuh. “Ayo, siapa berani melawan saya, Raja kalian? Raja yang tak ada tandingan! Raja paling sakti di seluruh jagad binatang ini. Ayo, siapa ingin menyusul kematian si Kijang sial itu? Ha,ha,haha,ha…..!”
“Aku…! Aku yang ingin menyusul kematian si Kijang Emas itu, Raja!”tiba-tiba suara besar lagi menggema muncul dari dalam sungai.
Mendengar ada suara yang sangat mengagetkan itu, semua binatang menoleh ke arah sungai yang tak jauh dari sang Raja Jago berdiri.
“Hah….? Ha,ha,ha,ha….! Rupanya kau, Buaya Putih? Berani benar kau menantangku,ya, Buaya sial? Apakah kau tak takut mati? Ha,ha,ha,ha…..!”ujar si Jago dengan suara lantang.
“Apa yang harus saya takutkan dari kamu, hai Raja sombong!”balas Buaya Putih tak gentar.
“Apa? Lancang sekali kau melawan Rajamu, Buaya tolol?”mata si Jago melotot merah. Darahnya makin berdesir memenuhi kepala. Marah.
“Diam kau, Raja terkutuk! Kau bukan rajaku! Kau adalah binatang biasa. Tak lebih dari kami semua!”tantang Buaya sengit.
“Apa?”mulut Jago menganga. Ia tidak menyangka kalau pagi itu ada rakyatnya yang terus terang berani menyatakan melawan dirinya. “Kau nekad untuk mati benar rupanya, Buaya! Sebenarnya apa yang kau inginkan dariku, hah…?”
“Aku ingin menyingkirkan kesombonganmu dari muka bumi ini, hai si Jago keparat.”
“E,e,e….! Apa kau takkan menyesal melawanku?”
“Untuk membela dan menegakkan suatu kebenaran, tak ada yang perlu aku sesalkan, Jago!”
“Sungguh kau ingin mati di kedua ujung kakiku?”
“Cobalah kalau kau memang Raja sakti mandraguna!”tantang Buaya Putih tak gentar sedikitpun.
Dengan disaksikan oleh semua binatang yang berkumpul di situ, tiba-tiba si Jago menumpahkan kemarahannya kepada sang Buaya Putih.
“Iyaaaaattt….! Cetak…! Cetak…! Cetak….!”berulangkali taji si jago menghantam kepala sang Buaya Putih. Namun taji Jago yang tampaknya tajam mengkilat itu tak mampu sedikit pun menembus kulit kepala Buaya. Sebaliknya, kedua senjata ampuh sang Raja jadi melengkung tak berarti apa-apa.
“Ha,ha,ha,ha….!”sang Buaya Putih tertawa mengejek kesombongan si Jago. “Kalau tajimu ternyata tak mampu menembus kulitku, mau berbuat apa lagi kau, si Jago? Ha,ha,ha…..!”
Mendapat tantangan sang Buaya, si Jago tak mampu berbuat apa-apa. Mukanya pucat pasi.Wajahnya menunduk dalam. Karena rasa malu pada rakyatnya yang tak terhingga, maka larilah ia ke dalam hutan sendirian. Si Raja Jago yang sombong tadi kini lari tanpa dikawal oleh Patih dan Pembesar negeri lagi.

Iklan

About sastrabocah

Sardono Syarief Lahir di Pekalongan, Jawa Tengah, Indonesia. Pendidikan: SD, SMP, SPG ditempuh di kota kelahiran, Pekalongan. Melanjutkan ke D-II dan S1 PGSD di UPBJJ Semarang dan Purwokerto, Jateng. Hobi menulis sejak di bangku kelas 6 SD lewat majalah dinding. Berlanjut di SMP hingga SPG Negeri Pekalongan (SMA 3) pada majalah dinding dan majalah sekolah "ASASSI" sebagai kontributor tulisan+anggota Redaksi bagian fiksi dan berita sekolah (1980-1982). Tahun 1983 mulai serius menulis puisi dan cerpen anak di media massa lokal maupun nasional hingga sekarang. Lebih dari 10 buku cerita anak-anak yang telah diterbitkan antara lain; Masih Ada Hari Esok, Anak-anak Kreatif, Roda-roda di Atas Jalan, Kerlip Lentera di Sudut Desa, Taman Mungil di Depan Istana, dll. Pernah juara dalam mengikuti sayembara mengarang naskah buku bacaan tingkat nasional yang diselenggarakan oleh Pusat Perbukuan,Departemen Pendidikan Nasional, Jakarta tahun 2003 dan 2004 sebagai juara II dan III. Mulai Juni 2009 ikut bergabung sebagai anggota Asosiasi Guru Penulis Seluruh Indonesia (Agupena) Jawa Tengah yang berpusat di Semarang.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s