CERMIN DI TENGAH BATANG (Bagian IX)

Standar

9. MULAI MENGUKIR PRESTASI

Oleh Sardono Syarief

“Kiranya rintangan apa yang Pak Gito alami selama duduk di bangku PGAM 4 Tahun, Pak?”demikian Teten melanjutkan wawancara.
“Pada awalnya, Pak Gito mengalami kesulitan dalam membagi waktu antara sekolah dan bekerja. Lama kelamaan, tidak.”
“Tidak ada kesulitan bergaul dengan teman-teman 5-6 tahun lebih muda dari usia Pak Gito?”masih tanya Teten.
“Tidak juga,”jawab Pak Gito. “Kesulitan bergaul dengan teman-teman lebih muda 5-6 tahun sebagaimana yang Pak Gito bayangkan, ternyata tidak benar.”
“Ternyata bagaimana, Pak?”kali ini aku ikut menyahut.
“Bergaul dengan mereka ternyata sangat menguntungkan bagi diri Pak Gito.”
“Keuntungan apa yang Pak Gito petik?”
“Di antara kami bisa saling melengkapi kekurangan,”jawab Pak Gito. “Di sekolah yang baru itu, kegelapan dunia persekolahan Pak Gito yang sudah lama tertutup, akhirnya bisa menyala lagi. Pak Gito benar-benar memiliki semangat baru sebagai anak sekolah yang sebenarnya. Pak Gito jadi penuh percaya diri. Ini semua berkat hasil pergaulan Pak Gito dengan mereka yang lebih muda di sekolah.”
“Lantas, kegiatan apa saja yang Pak Gito ikuti selama menjadi murid PGAM 4 Tahun tersebut, Pak?”Melati ingin mengerti. Read the rest of this entry

CERMIN DI TENGAH BATANG (Bagian VIII)

Standar

8. MELAWAN BADAI UJIAN
Oleh Sardono Syarief

“Maaf, Pak!”ujar Gadis seraya menggeser letak duduknya.
“Iya?”
“Tahun berapa dulu Pak Gito bisa meneruskan sekolah lagi, Pak?”
Pak Gito menelan ludah pahit.
“Sampai awal tahun 1975, Pak Gito belum bisa masuk sekolah lagi, Nak. Ini berarti tahun ketiga bagi Pak Gito menjadi pengangguran total. Bekerja, tidak. Sekolah pun apalagi?”
“Terus, apa yang diperbuat Pak Gito selanjutnya?”pancing Gadis.
“Demi bisa mewujudkan keinginan untuk bisa bersekolah lagi,”demikian tutur Pak Gito. “Dengan berbekal ijazah STN, Pak Gito mencoba melamar pekerjaan di pabrik textile PT. Primatexo Indonesia.”
“Apakah lamaran Pak Gito bisa diterima?”masih tanya Gadis.
“Setelah melewati masa-masa seleksi yang amat ketat,”jawab Pak Gito. “Setelah melewati penyaringan data dari sekian ratus pelamar,”sambungnya. “Alhamdulillah! Pada tanggal 13 Oktober 1975, dengan Surat Keputusan Direktur PT Primatexo Indonesia, Tamim Basuni, SE, Pak Gito diterima sebagai karyawan baru di PT tersebut. Pak Gito diterima di bagian Weaving Preparations (WP) sebagai Pembantu Operator.”
“Dengan demikian,”kataku. “Karena bisa memperoleh uang sendiri,”sambungku lagi. “Apakah masih ada keinginan bagi Pak Gito untuk bersekolah kembali,Pak?”
“Iya, masih!”sahut Pak Gito mantap. “Lebih-lebih bila melihat banyak anak sedang berangkat atau pulang sekolah. Keinginan Pak Gito untuk kembali ke bangku sekolah,
sungguh tak terbendungkan! Namun, ah….!”Pak Gito tidak melanjutkan kalimatnya.
“Namun, kenapa, Pak?”sahut Gadis cepat.
“Ada dua pilihan berat yang berkecamuk di dalam pikiran Pak Gito.”
“Maksud, Pak Gito?”kening Gadis berkerut.
“Pak Gito dihadapkan pada dua pilihan, yaitu antara tetap bekerja dan bersekolah lagi.”
“Kalau memilih bersekolah lagi, apa yang menjadi batu sandungan bagi Pak Gito?”tanyaku ingin tahu.
“Yang menjadi batu sandungan bagi saya,”demikian Pak Gito berujar.”Mampukah saya mengikuti pelajaran, karena sudah tiga tahun berlalu tidak bersekolah? Adakah sekolahan yang mau menerima seorang buruh pabrik seperti saya ini? Andaikan ada, bagaimana cara saya membagi waktu, antara sekolah dan bekerja?”
“Terus kenyataannya bisa ‘kan, Pak?”
Pak Gito mengangguk. Read the rest of this entry

MANFAAT MENULIS BLOG

Standar

Tulisan sederhana ini saya tujukan untuk pembaca blog “sastra bocah”khususnya bagi anak-anak usia Sekolah Dasar di mana pun berada. Karena saya yakin, di antara sekian ratus bahkan ribu pembaca (anak-anak) yang sempat mengikuti blog ini akan bertanya-tanya, apa sih manfaat menulis di blog?
Sebagai jawabnya, banyak manfaat menulis di blog. Salah satu di antaranya adalah, bisa melatih kita menulis untuk media cetak, baik koran, majalah, maupun buku.
Seperti yang saya alami belum lama ini. “SEUNTAI KALUNG EMAS” merupakan buku cerita anak karya saya yang sebelumnya berupa tulisan cerita lepas yang saya tulis lewat blog sastra bocah ini.
Dari sekian cerita yang sempat saya tulis tadi rupanya ada salah satu penerbit dari Semarang yang tertarik dan bersedia menerbitkan sekumpulan cerita saya tersebut menjadi sebuah buku bacaan. Maka, merasalah saya bahwa salah satu manfaat menulis di blog ternyata bisa menghasilkan buku cerita anak sebagaimana yang saya idam-idamkan selama ini.
Nah, apakah adik-adik tidak tertarik untuk mencoba berlatih mengarang lewat blog yang kalian bikin sendiri di rumah?
Siapa tahu kalian bisa segera menyusul saya menerbitkan buku lewat tulisan sederhana?
Tahukah adik-adik, dengan menulis buku kita akan mendapat kebanggaan tersendiri yang terasakan di hati? Lebih bangga lagi jika kita mendapat royalti (honor) dari menulis buku.
Nah, mari kita berpacu untuk mencapai prestasi gemilang, baik di bidang akademik maupun nonakademik, terutama tentang mengarang pada mata pelajaran bahasa Indonesia yang adik-adik hadapi di bangku sekolah!
Selamat berkreatifitas dan berkarya!

CERMIN DI TENGAH BATANG (Bagian VII)

Standar

7. IMPIAN DI TENGAH GULITA
Oleh Sardono Syarief

Kami masih duduk-duduk di hadapan Pak Sugito. Seraya menikmati kue klepon yang dihidangkan Bu Rindiyani tadi, sekali-sekali kami mengajukan pertanyaan demikian.
“Tahun berapa Pak Gito tamat STN 2 Batang, Pak?”tanyaku.
“Akhir tahun 1972.”
“Setamat dari STN, ke mana lagi Pak Gito meneruskan sekolah, Pak?”masih aku,Virdha, yang bertanya.
Pak Gito menggeleng lemah.
“Kenapa, Pak?”
“Pak Wa’as, Kakek yang mengasuh Pak Gito, tak sanggup lagi membiayai sekolah Bapak.”
“Apa alasan Pak Wa’as, Pak?”kali ini Melati yang bertanya.
“Sebagai petugas jaga malam di pabrik textile PT Primatexo Indonesia,”ujar Pak Gito panjang. “Penghasilan Pak Wa’as tak cukup untuk biaya sekolah Pak Gito.”
“Lalu?”selidik Gadis.
“Pak Gito jadi pengangguran total,”jawab Pak Gito tak semangat seperti teringat masa kecilnya. “Tidak sekolah, juga tidak bekerja.”sambung Bapak dari ketiga anak itu menandaskan. “Kerja Pak Gito cuma membantu Nenek Siti Dasti berjualan beras dan minyak di rumah.”
“Bagaimana dengan Ujang Wahadi, Pak?”potong Bahtiar ingin mengerti.
“Ujang Wahadi melanjutkan ke Sekolah Teknik Menengah (STM) Perkapalan Baita Cipta, Pekalongan,menyusul Rokhmat.”
“Terus, bagaimana dengan Rokhmat, Pak?”sela Ardhana.
“Rokhmat telah naik kelas 2 di STM Perkapalan Baita Cipta, Pekalongan.”
“Lalu, Pak?”selidik Jaka.
“Dengan adanya Rokhmat dan Ujang Wahadi bersekolah di STM tersebut,”Pak Gito menjawab. “Berarti keduanya merupakan warga Dukuh Kebrok, Desa Sambong, Kecamatan Batang, Kabupaten Batang yang pertama kali mengenyam pendidikan di bangku sekolah lanjutan atas.”
“Wah! Hebat sekali keduanya ya, Pak? Luar biasa, mereka!”aku terkagum-kagum.
“Iya. Memang luar biasa, mereka!”puji Pak Gito ikut merasa salut.
“Inginkah saat itu Pak Gito bersekolah seperti Ujang Wahadi dan Rokhmat, Pak?”masih aku yang mengajukan pertanyaan.
“Keinginan untuk bisa sekolah seperti keduanya, tentu saja ada. Namun apa daya, biaya Kakek Wa’as tak mencukupi?”
“Selama tidak sekolah,”sela Melati. “ Selain membantu Nenek berjualan beras dan minyak di rumah,”sambung Melati lagi. “Kegiatan apa saja yang Pak Gito kerjakan?”
“Seperti hari-hari biasa,”sahut Pak Gito. “Setiap lepas maghrib, Pak Gito selalu rajin belajar mengaji mengeja huruf Al-Quran dan pesolatan pada Ustad Masdar,”ujar Pak Gito menjelaskan. “Di rumah Ustad yang satu ini,”demikian lanjut Pak Gito. “Pak Gito bisa bertemu dengan Ujang Wahadi, Rokhmat, maupun teman-teman lain dari Dukuh Kebrok.”
“Terus, selain belajar mengeja huruf Al-Quran dan pesolatan,”timpal Dhestya.”Pelajaran apa lagi yang diperoleh dari Ustad Masdar, Pak?”
“Pelajaran tentang landasan keimanan, Anak-anak.”
“Lantas, bagaimana dengan kegiatan mengarang Pak Gito? Apakah tetap dilakukan sebagaimana ketika duduk di STN 2 Batang, Pak?”sela Teten.
“Meskipun tidak sekolah,”jawab Pak Gito seraya tersenyum. “Selain rajin mengaji
dan membaca buku-buku cerita kelasik,”lanjutnya. “Di rumah, Pak Gito juga masih suka mengarang cerita pendek maupun puisi.”
“Kiranya buku kelasik karya siapa saja yang pernah Pak Gito baca?”tambah Bahtiar.
“Buku-buku karya SH. Mintarja dan RA. Kosasih.”
“Apa saja contoh judulnya, Pak?”masih tanya Bahtiar.
“Naga Sasra, Sabuk Inten, dan Api di Bukit Menoreh, karya SH. Mintarja. Sedangkan karya RA. Kosasih, contohnya; serial wayang Mahabrata, dan Bhratayuda.”
“Terus, mengenai kegiatan mengarang,”aku menyela. “Apakah Pak Gito pernah mencoba mengirimkan hasil tulisan Bapak ke majalah atau surat kabar?”
“Pernah,”sahut Pak Gito. “Namun, tulisan Pak Gito tak pernah ada yang dimuat.”
“Lantas, apa yang kemudian Pak Gito lakukan?”Melati ikut bertanya.
“Pak Gito tak pernah bosan untuk terus mengarang cerita pendek maupun puisi.”
“Lalu?”masih tanya Melati.
“Cerita maupun puisi tadi Pak Gito bukukan. Namun sayang…….”
“Sayang kenapa, Pak?”Melati sedikit kaget.
“Semua cerita maupun puisi karya Bapak hilang bersama bukunya.”
“Hilang ke mana, Pak?”tanya Gadis ingin mengerti lebih jauh.
“Hilang dipinjam teman.”
“Sayang sekali ya, Pak?”Ardhana ikut menyayangkan hilangnya buku kumpulan cerita maupun puisi milik Pak Gito tadi.
Pak Gito mengangguk, mengiyakan.
“Lalu, apa lagi kegiatan Pak Gito yang lain?”tanya Jaka.
“Hampir setiap sore tiba,”jawab Pak Gito. “Bersama Ujang Wahadi, Amat Danusari,dan Suroso, Pak Gito mencari kayu bakar di pinggir hutan sebelah desa.”
“Untuk apa, Pak?”sela Gadis.
“Untuk bahan bakar memasak dan menanak nasi di tungku.”
“Apakah tak ada kompor gas,Pak?”tambah Teten.
“Jangankan kompor gas,”sahut Pak Gito. “Kompor minyak tanah saja pun saat itu warga Dukuh Kebrok belum ada yang punya, Anak-anak.”
“Mengapa sebabnya, Pak?”dengan sedikit penasaran, Dhestya bertanya.
“Sebab warga Dukuh Kebrok saat itu lebih baik pilih memasak dengan tungku. Memasak yang tak harus mengeluarkan banyak biaya.”
“Terus, untuk membuang kejenuhan,”selaku. “Apakah Pak Gito juga suka menonton hiburan, Pak?”
“Ya, suka juga,”ujar Pak Gito sambil tersenyum.
“Tontonan apa yang Pak Gito sukai?”
“Pemutaran film misbar .”
“Apa maksud film misbar itu, Pak?”potong Dhestya.
“Film yang diputar oleh sponsor di tengah tanah lapang. Film itu akan bubar bila turun hujan atau gerimis. Sehingga sering diistilahkan sebagai film misbar. Bila gerimis, bubar. Karena di tengah lapang tak ada atap yang dipasang.”
“Apa tidak lebih baik nonton TV di rumah saja, Pak?” tanya Melati.
“Saat itu di Dukuh Kebrok belum ada orang yang punya TV.”
“Walau TV hitam putih sekali pun, Pak?”potongkku.
“Iya. TV baru bisa dimiliki oleh orang-orang kota. Itu pun orang-orang yang kaya. Orang kampung seperti di desa Bapak, belum ada yang mampu membeli.”
Mendengar itu, kami mengangguk-angguk, mengerti.
“Berarti, waktu itu di Dukuh Kebrok tidak seramai sekarang, Pak?”ujar Bahtiar ingin keyakinan.
“Betul! Sungguh amat berbeda dari yang sekarang ada, Nak!”sahut Pak Gito mantap.
“Apa misalnya, Pak?”
“Misalnya,”sahut Pak Gito.
“Kalau dulu bila turun hujan di dukuh ini jalanan dan gang-gang amat becek, sekarang tidak. Kalau dulu, di dukuh dan desa ini gelap gulita, sekarang terang-benderang oleh lampu listrik Negara. Kalau dulu di desa ini belum ada yang punya TV, sekarang hampir setiap rumah orang memiliki TV. Kalau dulu anak yang sekolah ke lanjutan masih bisa dihitung dengan jari tangan, sekarang hampir setiap orang tua di dukuh Pak Gito menyekolahkan anaknya. Dan masih banyak perbedaan menonjol yang lainnya lagi.”
“Berarti banyak kemajuan dan perubahan ya, Pak?”masih tanya Bahtiar.
“Sungguh luar biasa kemajuan dan perubahannya, Nak!”sahut Pak Gito seraya mengangguk. “Dulu dukuh dan desa Pak Gito sepi, sekarang ramai sepanjang malam dan hari,”tambahnya.
“Maaf, Pak!”potong Gadis.
Pak Gito segera berpaling ke arah Gadis.
“Setelah setahun Pak Gito tak sekolah,”ujar Gadis. “Apakah masih ada keinginan di hati Pak Gito untuk bersekolah lagi, Pak?”
“O, jelas masih ada!”sahut Pak Gito cepat. “Bahkan demi bisa mewujudkan impian tersebut,”tambahnya. “Pada awal tahun 1974 Pak Gito mencoba berkirim surat kepada si Ratu Dangdut Indonesia, Elvy Sukaesih, di Jakarta.”
“Apa yang diharapkan Pak Gito dari Elvy Sukaesih tadi, Pak?”potongku.
“Pak Gito berharap,”ujarnya. “si Ratu Dangdut tadi berkenan untuk memberi bantuan dana bagi anak putus sekolah seperti Pak Gito ini.”
“Bagaimana kenyataannya, Pak?”masih tanyaku.
“Semua cuma harapan hampa,”jawab Suami Ibu Rindiyani tadi lemah. “Pak Gito tidak pernah mendapatkan balasan apa pun dari si Artis kesayangan Bapak tadi.”
“Lantas, akhirnya bagaimana, Pak?”Melati menambahi.
“Akhirnya,”sahut Pak Gito. “Pupuslah sudah harapan Pak Gito untuk bisa masuk sekolah lagi di tahun 1974.”
“Ini berarti untuk tahun ke berapa Pak Gito tidak jadi anak sekolah?”tanya Dhestya.
“Tahun yang kedua.”
“Sejauh itu, bagaimana kabar sekolah Rokhmat maupun Ujang Wahadi, Pak?”
“Rokhmat, naik kelas 3, sedangkan Ujang Wahadi, naik kelas 2 STM Perkapalan Baita Cipta Pekalongan.”
“Karena gagal bersekolah lagi,”ujarku, Virdha. “Lantas, kegiatan apa yang kemudian Pak Gito lakukan setiap hari?”
“Oleh Om Amat, Pak Gito diajak magang kerja di bengkel mobil terkenal di kota Batang,”jawab Pak Gito. “Namun, karena di hati Pak Gito senantiasa dihantui keinginan untuk bisa bersekolah lagi,”sambungnya. “Maka, baru bekerja selama 5 bulan, Pak Gito memilih keluar dari bengkel tersebut.”
“Terus, ke mana Pak Gito bekerja?”tanya Ardhana.
“Pak Gito menjadi pengangguran total lagi.”
“Lalu, apa yang dilakukan Pak Gito di rumah?”kembali Ardhana bertanya.
“Untuk mengisi hari-hari menjenuhkan,”ujar Pak Gito. “Pak Gito minta dibelikan seekor kambing pada Kakek Wa’as,”sambungnya “Kakek mengabulkan permintaan Pak Gito. Maka, jadilah Pak Gito sebagai seorang gembala kambing.”
“Kiranya apa saja yang biasa dilakukan oleh seorang gembala kambing, Pak?”komentar Bahtiar seraya menggantikan kaset kosongnya ke dalam tape recorder.
“Yang biasa Pak Gito kerjakan sehari-hari,”jawab Pak Gito. “Pagi, membersihkan kandang. Siang, mencari rumput. Sore, menggembala kambing di tanah lapang.”
“Sampai berapa lama Pak Gito menjadi penggembala kambing, Pak?”Jaka ikut bertanya.
“Sekitar 3 bulan.”
“Mengapa tidak bertahan lama, Pak?”masih tanya Jaka.
“Sebab,”jawab Pak Gito. “Melihat kambing makin kurus,”tambahnya. “Kakek Wa’as
langsung menjualnya ke pasar, tanpa minta pertimbangan dulu kepada Pak Gito.”
“Lalu?”selidik Melati.
“Kembali Pak Gito jadi pengangguran total lagi.”
“Sungguh kasihan sekali nasib Pak Gito saat itu ya, Bu?”ujar Melati yang ditujukan kepada Ibu Rindiyani, istri tercinta Pak Gito.
Bu Rindiyani tersenyum.
“Untung saja, Pak Gito ini orangnya tegar dan tahan uji, Anak-anak,”komentar Bu Rindiyani dengan tulus.
“Mau apa lagi kalau tidak tahan uji, Bu?”sahut Pak Gito sambil tersenyum. “Kata orang, putus asa tidak boleh?”
“Putus asa, dosa ‘kan, Pak?”timbrung Teten dengan genitnya.
“Benar! Putus asa itu dosa,”tandas Pak Gito. “Oleh sebab itu,”katanya. “Untuk mengisi hari-hari menjenuhkan itu,”sambungnya lagi. “Pak Gito mencoba mengajukan lamaran kerja ke PT. Teknik Umum yang buka praktek di Batang.”
“Apakah lamaran Pak Gito langsung bisa diterima, Pak?”sahut Ardhana.
“Alhamdulillah…..Pak Gito langsung diterima untuk bekerja di perusahaan tersebut.”
“Apa yang dikerjakan Pak Gito di perusahaan itu?”
“Memasang kabel-kabel listrik untuk mesin tenun di pabrik textil.”
“Pabrik textil mana, Pak?”sahut Bahtiar.
“PT. Primatexo Indonesia, yang berdiri di pinggir jalan raya Desa Sambong, Batang itu.”
“Sampai berapa lama Pak Gito bekerja di perusahaan itu, Pak?”masih tanya Bahtiar.
“Sekitar 3 sampai 4 bulan.”
“Mengapa sesingkat itu, Pak? Apakah Pak Gito merasa tidak betah?”agak panjang, aku menyela.
“Bukan begitu!”tangkis Pak Gito cepat. “Bekerja di perusahaan ini sebenarnya Pak
Gito betah lagi senag,”ujarnya.”Namun, sayang………”
“Sayang kenapa, Pak?”masih tanyaku.
“Perusahaan tersebut pindah ke lain kota.”
“Apa sebabnya, Pak?”aku masih merasa penasaran.
“Sebab, masa kontrak kerja dengan PT. Primatexo Indonesia, sudah habis.”
“Lalu, bagaimana nasib Pak Gito?”Gadis menyambungi aku.
“Nasib Pak Gito, kembali menjadi pengangguran lagi.”
“Selama menjadi pengangguran kali ini,”ujar Gadis. “Kegiatan apa yang Pak Gito lakukan?”
“Siang hari, Pak Gito membantu Bu Tuminah, ibu kandung Pak Gito, membuat kue bongko di rumah. Sore harinya, Pak Gito pulang ke rumah Kakek Wa’as.”
“Memangnya, di mana Bu Tuminah jualan kue bongko, Pak?”sela Bahtiar.
“Di Pasar Batang.”
“Lantas kegiatan apa lagi yang Pak Gito lakukan selama jadi pengangguran kali ini,Pak?”potongku.
“Pak Gito pergi melawat ke Masjid Agung Demak dengan berkendaraan sepeda genjot.”
“Dengan siapa Pak Gito pergi ke sana?”
“Sendirian.”
“Untuk tujuan apa Pak Gito ke sana?”
“Untuk cari pengalaman. Untuk menyaksikan dari dekat tentang megahnya masjid sejarah warisan Wali Sembilan. Di samping itu, untuk membuang rasa jenuh selama tinggal di rumah.”
“Dengan berkendaraan sepeda genjot, apakah Pak Gito tidak merasa cape?”tanya Dhestya. “Bukankah jarak Batang – Demak cukup jauh?”
“Cape sih, iya…. Cuma, karena Pak Gito ingin mendapatkan banyak pengalaman. Jarak yang jauh dan rasa cape tadi, jadi terasa.”
Mendengar penuturan Pak Gito tadi, kami jadi paham.
Sementara, di luar angin kemarau bertiup semilir. Daun-daun mangga depan rumah, satu dua berjatuhan menghiasi hijau rerumputan di halaman. Siang terus merambat menuju tengah hari.
Melihat itu, ingin kami menikmati suasana teduh di bawah pohon mangga milik Pak Gito, tokoh idola yang saat itu sedang kami wawancara.***

(Bersambung)—————

CERMIN DI TENGAH BATANG (Bagian VI)

Standar

6. MENGGALI TALENTA
Oleh Sardono Syarief

Pak Gito masih tersenyum. Rupanya beliau merasa geli juga akan nama aslinya yang telah hilang. Sebuah nama bersejarah pemberian kedua orangtuanya yang kini tak pernah terdengar lagi di telinga. Karena hampir semua orang yang mengenalnya pasti akan memanggilnya dengan sebutan Sugito, bukan Hadikiroto atau Dito. Nama Hadikiroto entah hilang ke mana? Pak Gito sendiri tidak tahu rimbanya.
“Emm………maaf, Pak!”ujarku memecah keheningan.
“Iya?”Pak Gito agak tersentak.
“Kalau kami boleh tahu,”lanjutku. “Tahun berapa dulu Pak Gito masuk Sekolah Dasar?”
“Oh, itu?”Pak Gito mencoba mengingat-ingat. “Kalau tak salah,”katanya lebih lanjut. “Tahun 1963 atau 1964.”
“Di SD mana, Pak?”Gadis ikut menimpali.
“Di SD Negeri Sambong, Kecamatan Batang, Kabupaten Batang.”
“Dari desa mana saja teman-teman Pak Gito dulu,Pak?”Melati ikut bertanya.
“Dari Desa Kecepak, Desa Pakis Aji, Desa Tegalsari, dan Desa Lawang Aji.” Read the rest of this entry

MAU BISNIS ONLINE?

Standar

Kepada Bapak-bapak dan Ibu-ibu di mana pun berada. Menghadapi tahun pelajaran baru 2012/2013 yang sebentar lagi bakal tiba ini, mungkin Bapak-Ibu butuh dana untuk belanja alat-alat tulis bagi putra-putri Bapak-Ibu yang lumayan banyak. Belum lagi jika Bapak-Ibu harus membayar uang kost anak yang sedang kuliah di luar daerah, tentu Bapak-Ibu akan membutuhkan dana yang tidak sedikit, bukan? Untuk itu saya punya solusinya yang amat jitu! Barangkali Bapak-Ibu penasaran dan sependapat dengan saya, silakan klik tautan di bawah ini! Namun jika Bapak-Ibu ragu-ragu, jangan mencoba-coba! Sebab, kata orang tua, menyesal kemudian tiada berguna. Oke? Selamat menentukan keputusan, Pak-Bu.
peluang usaha

CERMIN DI TENGAH BATANG (Bagian V)

Standar

5. SEBUAH NAMA YANG HILANG

Oleh Sardono Syarief

Semua peralatan telah terlihat siap. Maka, mulailah aku, Virdha, mengajukan pertanyaan kepada Pak Sugito demikian.
“Maaf, Pak. Kalau kami boleh tahu,”kataku. “Kapan dulu Pak Gito terlahir di dunia ini,Pak?”
Pak Gito menarik nafas panjang. Kemudian katanya,”Pak Gito lahir pada tanggal 21 Desember 1956.”
“Di mana dulu Bapak dilahirkan?”sela Gadis seraya menyiapkan bahan pertanyaan lain yang ada di pangkuan.
“Di Dukuh Kebrok, Desa Sambong, Kecamatan Batang, Kabupaten Batang, Jawa Tengah.”
“Dari Ibu dan Bapak siapa,Pak?”kali ini Melati yang bertanya.
“Dari Ibu Tuminah dan Bapak Sanawi.”
“Keduanya orangtua kandung Pak Sugito?”tambah Teten.
“Benar. Akan tetapi…”
“Tetapi, kenapa, Pak?”dengan kening sedikit berkerut, Dhestya ikut bertanya.
“Sejak kecil hidup Pak Gito telah tidak bersama mereka.”
“Lho! Memangnya kenapa, Pak?”masih tanya Dhestya.
“Kedua orangtua Pak Gito bercerai. Sehingga oleh Nenek Siti Dasti dan Kakek Wa’as, Pak Gito diasuh.”
“Terus dengan sebutan apa Pak Gito memanggil Kakek dan Nenek?”sahut Ardhana.
“Kepada keduanya, Pak Gito biasa memanggil dengan sebutan Bapak dan Ibu.”
“Mengapa bisa begitu,Pak?”masih tanya Ardhana.
“Iya, bisa. Karena setahu Pak Gito, Kakek Wa’as maupun Nenek Siti Dasti itu kedua orangtua kandung Bapak. Tak pernah Pak Gito sangka, kalau ternyata mereka adalah Kakek dan Nenek dari garis Tuminah, Ibu Pak Gito.”
“Lantas kapan Pak Gito tahu, kalau Kakek dan Nenek ternyata bukan Bapak dan Ibu kandung Pak Gito?”sela Bahtiar.
“Setelah agak besar. Kira-kira setelah Pak Gito duduk di kelas 2 SD.”
“Terus, kepada putra-putri Nenek, Pak Gito memanggilnya dengan sebutan apa?”potong Ardhana.
“Kepada mereka Pak Gito memanggilnya Kakak bagi yang lebih tua, dan Adik bagi yang lebih muda.”
“Padahal, seharusnya bagaimana, Pak?”masih tanya Ardhana.
“Seharusnya,”sahut Pak Gito sembari membetulkan letak duduknya. “Kepada yang putra, Pak Gito memanggilnya, Om. Sedangkan Bibi bagi yang putri.”
“Dengan sebutan tadi,”sahut Teten. “Kiranya ada pengalaman lucu tidak,Pak?”
“Ada.”
“Apa contohnya, Pak?”masih tanya Teten.
“Contohnya,”jawab Pak Gito seraya tersenyum. “Kepada orang yang biasa Pak Gito panggil Mbak Anik, ternyata ia Bibi Pak Gito. Begitu pula kepada yang biasa Pak Gito panggil dengan sebutan Dik Alin, ternyata ia Bibi Pak Gito juga.”
“Ha,ha,ha,ha…! Lucu sekali kesannya ya,Pak?”Teten tertawa geli. Demikian pula Gadis, Melati, Dhestya, Bahtiar,Jaka, Ardhana, maupun aku sendiri,Virdha.
Pak Gito tidak menyahut. Sebaliknya ikut tertawa geli pula.
“E, maaf, Pak!”ujar Gadis setelah sesaat tawa kami reda.
“Iya?”sahut Bapak Muda yang berkumis tipis itu sembari memandangi Gadis.
“Setelah Pak Gito tahu, kalau Pak Wa’as dan Bu Siti Dasti itu sebenarnya Kakek dan
Nenek Bapak,”lanjut Gadis. “Lantas, dengan sebutan apa Pak Gito memanggil keduanya?”
“Karena sejak kecil sudah terbiasa memanggil mereka dengan sebutan Ayah dan Ibu,”demikian Pak Gito berkata. “Maka, sampai sekarang pun panggilan itu tetap melekat di hati. Tidak Pak Gito ubah dengan sebutan Kakek maupun Nenek.“
Mendengar penuturan Pak Gito yang cukup menggelikan tadi, kami menjadi paham.
“Lalu, bagaimana nasib Ayah dan Ibu kandung Pak Sugito setelah mereka berpisah?”kali ini aku yang bertanya.
“Tuminah, Ibu Pak Gito, berdagang kue bongko di pasar Batang. Ia banyak dibantu Pak Darsono, ayah tiri Pak Gito.”
“Lalu, bagaimana dengan Ayah kandung Pak Gito?”lagi-lagi aku bertanya.
“Sanawi, Ayah kandung Pak Gito, jadi guru mengaji di madrasah,”jawab Pak Gito. “Pak Sanawi mendapatkan istri baru yang bernama Juwariyah. Keduanya tinggal di Desa Proyonanggan, Kecamatan Batang.”
“Dari pernikahannya dengan Ibu Juwariyah,”potong Melati. “Apakah Pak Sanawi punya keturunan, Pak?”lanjut Melati.
“Punya. Tiga anak.”
“Siapa sajakah mereka itu, Pak?”Melati terus bertanya.
“Mereka antara lain; Abdul Rokhman, Nur Khomariyah, dan Nur Samsiyah.”
“Bagaimana halnya dengan Ibu Tuminah yang berumah tangga dengan Pak Darsono, Pak? Apakah punya keturunan juga?”sahut Bahtiar.
“Punya juga. Banyak, malah!”
“Banyak berapa anak, Pak?”desak Bahtiar ingin tahu lebih jauh.
“Tujuh anak. Dua meninggal semasa kecil”.
“Siapa sajakah mereka itu, Pak?”sela Dhestya.
“Mereka yang masih hidup antara lain; Sugiyono, Mardiyono, Sriningsih, Tri Wiyanti, dan Kusdiyono.”
“Dengan demikian,”sahut Jaka. “Berapa orang semua Adik Pak Gito?”
“Delapan orang. Tiga orang, anak dari Pak Sanawi + Bu Juwariyah. Lima orang, anak dari Ibu Tuminah + Pak Darsono.”
“Kalau begitu, banyak ‘kan adik Pak Sugito?”kataku.
“Ya, lumayanlah….! Cukup banyak saudara.”
“Pak!”lanjutku.
“Iya?”Pak Gito lurus-lurus memperhatikan aku.
“Kalau tak salah, Kakek Wa’as dan Nenek Siti Dasti adalah nama kakek dan nenek Pak Gito dari garis Bu Tuminah, bukan?”
“Iya, betul!”
“Lalu, siapa nama Kakek dan Nenek Pak Gito dari garis Ayah Sanawi, Pak?”
“Oh, itu….?”
“Iya, Pak,”sahutku hampir bersamaan dengan Gadis maupun Dhestya.
“Kakek dan Nenek Pak Gito dari garis Ayah Sanawi, bernama Kakek Dasman dan Nenek Aminah.”
“Apakah keduanya juga turut mengasuh Pak Gito semasa kecil?”masih tanyaku.
“Tidak,”jawab Pak Gito. “Hanya sekali-sekali saja mereka menengok Pak Gito di rumah Kakek Wa’as dan Nenek Siti Dasti.”
“Oh,ya, Pak!”Ardhana menyela begitu saja.
“Iya?”pandangan Pak Gito berpindah ke arah Ardhana.
“Sebenarnya, siapa nama lengkap Pak Gito?”
Sebelum menjawab, Pak Gito tersenyum. Lalu katanya,”Nama Bapak sewaktu kecil, Hadikiroto. Dalam sehari-hari biasa dipanggil Dito. Namun nama resmi pemberian Ayah Sanawi dan Ibu Tuminah itu hilang, pada saat Pak Gito masuk kelas 1 SD dulu.”
“Lho! Kok bisa begitu, Pak?”seruku kaget.
“Iya, bisa!”sahut Pak Gito mantap. Hilangnya nama Hadikiroto atau Dito milik Bapak,”demikian sambung Pak Gito menjelaskan. “Lebih banyak disebabkan oleh sikap Bibi Anik.”
“Memangnya apa yang dilakukan Bibi Anik,Pak?”sahut Jaka ingin tahu.
“Mulanya Bibi Anik tidak tahu, siapa nama lengkap Pak Gito,”jawab Pak Gito. “Beliau cuma menyebutkan Dito, untuk nama Bapak, pada saat Beliau mendaftarkan sekolah Pak Gito di SD dulu.”
“Terus?”kening Jaka makin berkerut ingin tahu lebih jauh.
“Karena baik Bibi Anik maupun Pak Kepala Sekolah merasa ragu dengan nama yang sesingkat itu,”jawab Pak Gito. “Maka oleh keduanya, nama Bapak diberi tambahan Su di depan kata Dito. Sehingga seharusnya menjadi Sudito, bukan Sugito seperti yang dikenal orang sampai sekarang.”
“Wah! Kok berbeda jauh dari nama aslinya ya, Pak?”potong Bahtiar.
Pak Gito mengangguk.
“Justru yang mengherankan,”ujar Pak Gito. “Sebutan Hadikiroto untuk nama Bapak, entah ke mana perginya sampai sekarang?”
“Oh, iya,ya, Pak?”kepala Bahtiar mengangguk-angguk, turut heran juga.
“Maaf, Pak!”aku menyela.
Pak Gito berpaling kepadaku.
“Pada saat pendaftaran di SD dulu,”kataku lebih lanjut. “Apakah Bibi Anik tidak membawa Akte Kalahiran atau Surat Kenal Lahir dari desa, Pak?”
“Maksudmu?”tanya Pak Gito ingin penjelasan.
“Dalam Akte Kelahiran atau Surat Kenal Lahir,”Jawabku. “Biasanya ‘kan tertera nama dan tanggal lahir seseorang bukan, Pak?”
“Iya.”
“Bibi Anik membawa surat tersebut tidak, Pak?”
Pak Gito tersenyum. “Pada saat itu,”katanya lebih lanjut. “Kebanyakan orang tua di kampung Bapak,”sambung Pak Gito. “Belum ada yang berpikir membuatkan Akte Kelahiran atau Surat Kenal Lahir untuk anak-anak mereka.”
“Terus, Pak?”sahut Melati.
“Hal seperti itu dialami pula oleh orangtua Pak Gito. Sehingga, Pak Gito pun tidak memiliki Akte Kelahiran.”
“Apakah Bapak tidak merasa keberatan dipanggil dengan nama Sugito sebagaimana yang dikenal banyak orang sampai sekarang?”
“Sama sekali tidak,”jawab Pak Gito. “Apalagi setahu Bapak, Sugito itu merupakan nama asli pemberian kedua orangtua sejak Pak Gito lahir.”
“Lantas, kapan Pak Gito tahu, kalau nama asli Bapak adalah Hadikiroto?”tanya Dhestya.
“Setelah Pak Gito besar. Kira-kira setelah duduk di kelas 3 SD. Tepatnya setelah anggota keluarga dan famili banyak yang cerita tentang asal-usul nama Bapak.”
“Tapi, kami yakin, Pak!”ujarku mantap. “Justru dengan nama baru tadi,”demikian aku menambahkan. “Banyak hikmah dan keberuntungan yang melimpah bagi Pak Gito,bukan?”
“Apa buktinya?”
“Buktinya, banyak, Pak,”sahutku. “Misalnya,”lanjutku. “Sebagai guru, Pak Gito banyak memiliki prestasi dari tingkat kabupaten, hingga luar negeri. Sebagai penulis, Pak Gito juga sering meraih kemenangan dari berbagai sayembara mengarang. Ini pun Pak Gito alami dari
tingkat kabupaten, hingga nasional. Betul tidak, Teman-teman?”
“Iya, betul……..!”sahut teman-teman serempak.
“Saya sependapat dengan Virdha, Pak!”tambah Bahtiar. “Dengan hilangnya sebuah nama Hadikiroto menjadi Sugito, justru banyak mendatangkan keberhasilan dan rezeki yang
melimpah dari Tuhan bagi Bapak. Ya tidak, Teman-teman?”
“Iya, benar!”sahut Gadis ikut menimpali. “Saya yakin, andaikata nama Bapak masih utuh Hadikiroto, mungkin lain lagi ceritanya, Pak. Setuju tidak, Teman-teman?”
“Iya, kami setuju……!”sangat serempak teman-teman menjawab.
Melihat itu, Pak Gito, Bu Rindiyani, maupun Bu Nuning, tersenyum simpul. Demikian pula aku.

——————————–