Oleh Sardono Syarief
Kakek Odong adalah tetangga dekat Vina. Orangnya lucu. Usianya sudah lebih dari separoh baya. Tubuhnya tegar. Gesit gerak-geriknya. Namun giginya telah ompong semua.
Kakek Odong suka main tebak-tebakan. Lelaki tua itu juga suka humor dengan anak-anak. Termasuk dengan Vina dan teman-temannya.
“Kalau memang Kakek orang pandai, coba saya tanya, Kek?”ucap Vina pada suatu sore. Saat itu Vina dan kawan-kawan ramai berkumpul di teras depan rumah Kakek Odong.
“Silakan! Mau tanya apa kamu?”tantang Kek Odong.
“Apa rahasianya agar bisa panjang umur, Kek?”
“Oh, itu? Mudah! Kecil………!”
“Kecil yang bagaimana maksud, Kakek?”
“Agar umur bisa panjang, tentu saja harus ditarik-tarik,”demikian jawab Kakek Odong seenaknya.
“Ah, Kakek ini mengada-ada saja!”kilah Vina geli.
“Sekarang saya yang tanya, Kek!”sela Dhestya. “Kakek pasti tak bisa menjawab.”
“Coba, silakan!”tantang Kakek Odong tegas.
“Apa rahasianya, agar bila berjalan, sepatu tak berbunyi?”
“Oh, itu mudah lagi!”sahut Kakek Odong sambil mencibirkan bibir tuanya.
“Coba, tebak! Apa jawabnya, Kek?”desak Dhestya.
“Kalau berjalan, sepatunya harap dilepas. Tentu tak akan berbunyi. Ya kan?”ucap Kakek Odong sekenanya. Tawa Kakek tua itu terkekeh-kekeh.
Mendengar jawaban Kakek Odong tadi, Dhestya jadi ikut tertawa geli.
“Betul tidak jawaban Kakek, Dhes?”
“Betul sekali, Kek,”sahut Dhestya mengamini pendapat Kakek Odong.
“Sekarang saya yang tanya, Kek!”usul Widi.
“Silakan, Wid!”
“Apa rahasianya,agar orang selalu punya banyak uang , Kek?”tanya anak perempuan kelas 5 SD itu seraya tersenyum.
Pipi peot Kakek Odong pun tampak ikut tersenyum.
“Itu gampang,”katanya.
“Coba tebak, Kek! Apa jawabnya?”desak Widi ingin segera tahu.
“Jawabnya,”sahut Kakek Odong. “Orang tersebut harus bisa bikin uang sendiri. Betul, tidak?”
“Salah, Kek!”masih tukas Widi.
“Terus, betulnya bagaimana?”tanya Kakek Odong ingin tahu.
“Orang tersebut harus terus tidur di kasur uang, Kek.”
“Ha,ha,ha,ha…! Mana ada kasur uang, Wid?”tawa Kakek Odong di sela gigi ompongnya.
“Ada saja, Kek,”sahut Widi tegas.
“Di mana?”Kakek Odong penasaran.
“Di bank-bank, Kek.”
“Wah, kamu ini mengada-ada saja, Wid. Tidak lucu!”tukas Kakek Odong tak mau kalah.
“Sekarang giliran saya yang bertanya, Kek,”sela Lia.
“Silakan, Lia!”jawab Kakek Odong tenang.
“Mengapa burung hantu kalau malam hari tidak pernah tidur, Kek?”
“Kau ini lucu, Lia!”ucap Kakek Odong. “Sudah tahu burung hantu, ya kalau malam tidak tidur. Kalau tidur, bukan burung hantu, namanya.”
“Lantas, apa namanya, Kek?”
“Namanya burung merpati.”
“Kok bisa, Kek?”sela Reni.
“Ya, bisa,”jawab Kakek Odong. “Burung merpati kalau malam tidur. Sebab, mencari makanannya di siang hari. Sebaliknya, burung hantu kalau malam tak pernah tidur. Ia terbang ke sana ke mari untuk mencari makan. Betul tidak, Lia?”
“Betul, Kek!”sahut Lia puas.
“Satu lagi pertanyaan dari saya, Kek!”tambah Reni bersemangat.
“Ya. Silakan, Reni!”ujar Kakek Odong sambil membawa senyum kemenangan.
“Mengapa sebabnya, udara tak kelihatan, Kek?”
“Kalau kelihatan, kamu tentu akan lari ketakutan, Reni.”
“Mengapa sebabnya, Kek?”
“Sebab, kau pasti akan takut terkena terjang udara yang menggumpal-gumpal, Reni,”jawab Kakek Odong. “Betul tidak jawaban Kakek, Reni?”
“Tidak, Kek!”sahut Reni, Lia, Dhestya, Widi, Vina, dan teman-teman lain bersamaan.
“Lalu, betulnya bagaimana, Reni?”
“Kalau udara kelihatan,”sahut Widi mewakili teman-temannya. “Bisa jadi mata kita terganggu untuk melihat gigi ompong Kakek Odong. Betul tidak, Kawan-kawan?”
“Ya, betul………!”sahut teman-teman Widi yang lain serempak. Ramai.
“Hus….! Awas, kamu! Meledek, ya?”seru Kakek Odong seraya mengacungkan kepal ke arah Widi dan teman-teman.
Melihat adegan tersebut, larilah anak-anak meninggalkan Kakek Odong di rumah sendirian.***
Paninggaran-Pekalongan, 2009