PELAJARAN BAGI SI KIKIR

Oleh Sardono Syarief

Sejak kecil Kartono dikenal teman-teman sebagai anak yang amat kikir. Ia tak pernah suka memberi sesuatu kepada teman sepermainannya. Sebaliknya, anak itu hanya mau lagi suka menerima apa pun yang teman-teman berikan kepadanya.
Seperti peristiwa sore kemarin. Saat itu, Kartono sedang menyantap bakso di kedai Pak Amat. Datanglah teman sekelasnya, Harun, menghampiri anak itu. Kedatangan Harun adalah untuk menyampaikan pesan Pak Arif, guru kelasnya. Pak Arif berpesan, sambil berangkat sekolah besok, Kartono supaya mau mampir ke rumah Pak Arif. Beliau mau titip sesuatu untuk dibawakan ke sekolah.
Namun kedatangan Harun sore itu ditanggapi Kartono dengan wajah cemberut. Dia tampak tak suka kalau Harun turut duduk di sisi kirinya. Hati kecil Kartono mengatakan, kedatangan Harun cuma akan mengurangi kenikmatannya dalam merasakan bakso yang dia pesan dari Pak Amat. Karena itu Kartono bersikap tak acuh kepada Harun. Merasa tidak diabaikan, Harun jadi tak enak hati. Itu sebabnya Harun mencoba berbasa-basi.
”Wah ! Enak sekali baksonya ya, Ton? Lezat sekali rasanya!”Harun tersenyum.
Kartono tidak menyahut. Bahkan melirik ke arah Harun sedikit pun tidak. Sehingga Harun benar-benar merasa tersinggung.
“Berlagak amat ini anak?”hati Harun kecewa. “Sampai tega benar mempermalukanku di kedai yang cukup ramai orang ini? Awas kau, Ton! Tahu rasa pembalasanku besok di kantin sekolah,”ancam Harun dengan hati masgul.
Harun pergi meninggalkan Kartono tanpa pamit. Anak itu benar-benar malu oleh perlakuan dan sikap tak acuh Kartono. Sampai akhirnya Harun menilai kalau kepribadian Kartono benar-benar sebagai teman yang amat kikir.
Sore itu hati Harun sungguh kecewa terhadap Kartono. Oleh karena itu, sambil berjalan kaki pulang, ia merencanakan pembalasan apa yang sekiranya setimpal buat Kartono untuk besok pagi di sekolah.
“Oh, ya! Beres, beres…..!”demikian pikir Harun begitu menemukan cara. “Di sekolah, pada jam istirakhat pertama tiba,”sambung Harun dalam hati. “Anak itu akan kuajak ke kantin Bu Mira. Di sana aku berpura-pura yang akan membayarkan semua jajan yang ia makan. Setelah Kartono kenyang, setidaknya setelah bel pertanda istirakhat usai, akan kutinggal Kartono di kantin Bu Mira. Terserah habis makan jajan apa saja, takkan peduli aku! Mau bayar berapa rupiah, tak mau tahu aku! Karena cuma dengan cara seperti inilah tampaknya langkah yang paling tepat untuk membalas sikap Kartono teman kikirku yang satu itu!”
Benar apa yang direncanakan Harun. Keesokan harinya, begitu jam istirakhat pertama tiba, Kartono dipermainkan Harun.
“Ayo, Ton! Kita ke kantin Bu Mira sekarang!”
“Wah, aku tak punya uang, Run,”jawab Kartono sembari menggeleng.
“Tak usah khawatir! Aku punya banyak uang.”
“Malas, ah…!”Kartono tidak mau bangkit dari tempat duduknya, di dalam kelas.
“Jangan begitu! Cepat, mumpung istirakhat belum berakhir.”
Atas bujukan Harun, akhirnya mau jugalah Kartono ke kantin Bu Mira. Berdua mereka menuju kantin yang terletak di sudut pekarangan sekolah. Tiba di sana ternyata masih banyak kawan yang sedang menikmati jajan. Hampir tak ada bangku kosong untuk Harun maupun Kartono. Sehingga keduanya mengambil duduk terpisah agak berjauhan.
Dalam sekejap keduanya telah memungut dan memakan jajan yang mereka suka. Harun menghabiskan 2 potong tempe goreng ditambah semangkok bakso. Sedangkan Kartono, semangkok bakso, 2 kerupuk udang, dan 2 potong tempe goreng.
“Wah, nikmatnya bakso Bu Mira ini ya, Ton?”seraya menepuk punggung Kartono, Harun berujar.
“I, iya, Run…..?”dengan suara gugup, Kartono menyahut sambil berpaling ke arah Harun.
Harun tersenyum.
“Selamat menikmati!”ujar Harun sembari berlalu meninggalkan Kartono di kantin Bu Mira.
“Lho! Kau mau ke mana, Run?”tanya Kartono kaget.
Seraya melangkah pergi, Harun menjawab, “Ke kelas!”
“Bagaimana dengan bakso yang aku makan ini?”Kartono bangkit dari tempat duduknya. Lalu mengejar Harun.
“Ya habiskan saja!”sahut Harun sambil terus berlalu.
“Bukan begitu maksudku, Run!”
“Maksudmu?”tanya Harun setelah menghentikan langkah. Ditatapnya Kartono lurus-lurus.
“Siapa yang mau membayarkan bakso aku?”
“Lha yang menyantap siapa?”
“Aku!”
“Orang yang menyantap itulah yang harus membayar, Ton!”
“Kok bisa begitu?”dahi Kartono berkerut-kerut.
“Ya bisa saja! Mana ada orang yang tidak makan, disuruh membayar?”
“Bagaimana dengan janjimu di kelas tadi, Ton?”
“Aku janji apa?”
“Kau janji akan membayarkan, bukan?”
“Aku tidak pernah janji semacam itu!”tangkis Harun. “Aku hanya bilang, bahwa kau tak usah khawatir. Aku banyak uang!”
“Tapi, tapi, semula aku kan tidak punya niat untuk ke kantin Bu Mira, Run? Karena aku tidak punya uang sepeser pun?”
“Mengapa akhirnya kau mau kuajak juga?”balas Harun membela diri
“Karena kupikir, kau yang akan menjajakan aku , Run.”
“Huuuhhh..! Kartono……! Kartono!”seru Harun sembari menggeleng-gelengkan kepala.
Kartono bingung melihat sikap Harun.
“Jadi orang maunya kok cuma menerima pemberian temannya terus,”lanjut Harun apa adanya. “Mbok sekali-kali aku yang kautraktir, Ton…!”
Kartono diam seribu bahasa. Anak lelaki itu tidak banyak protes. Tampaknya ia ingat betul akan perlakuannya kemarin sore terhadap Harun di kedai Pak Amat.
“Ton!”ujar Harun sembari memegang pundak kanan Kartono.
Kartono menatap Harun.
“Maaf, jika atas sikapku ini kau jadi kecewa hati, Ton!”lanjut Harun. “Kau pasti malu bercampur marah kepadaku. Ini pasti! Sebab, perasaan semacam itu pun pernah aku alami sendiri. Semua itu atas sikapmu kemarin sore ketika tak acuh kepadaku di kedai Pak Amat. Masih ingat peristiwa itukah kau, Ton? Sore itu aku benar-benar malu terhadap banyak orang. Aku benar-benar kecewa kepadamu!”
Kartono lama tidak menyahut. Anak itu menunduk dalam-dalam. Rupanya ia sedang meresapi apa yang dikatakan Harun. Atas wejangan Harun, Kartono benar-benar merasa kapok jadi anak yang berhati kikir!***
—————————–

Kabar Buku

Oleh Sardono Syarief

1. Ari Yustisia Akbar, demikian nama anak laki-laki kelahiran 6 September 1985 di Kajen, Kabupaten Pekalongan, Provinsi Jawa Tengah. Dia adalah salah seorang siswa SMAN 1 Kajen, Pekalongan yang telah sempat membawa nama harum sekolah, diri, dan keluarganya ke kancah Indonesia, bahkan hingga seantero dunia.
Lewat keberhasilannya di dalam mengukirkan tinta emas pada Kompetisi Olimpiade Kimia Tingkat Dunia Tahun 2003 lalu, dia sempat menerima banyak hadiah uang, medali, serta piagam penghargaan yang di antaranya “CERTIFICATE OF PARTICIPATION” dari 35th INTERNATIONAL CHEMISTRY OLYMPIAD (IChO) pada tanggal 5 – 14 Juli 2003 di Athena, Yunani.
Siapakah Ari Yustisia Akbar? Bagaimana sepak terjangnya, sehingga dia sanggup mencuatkan prestasinya yang luar biasa tersebut?
Cerita gamblangnya dapat dibaca pada buku karya saya yang berjudul “ARI YUSTISIA AKBAR, SANG JAWARA OLIMPIADE KIMIA TINGKAT DUNIA”.
Buku Pemenang Sayembara Penulisan Naskah Buku Bacaan Tingkat Nasional Tahun 2004 ini bisa dipesan langsung ke Penerbit MEDIA PUSTAKA, Jakarta, atau kontak ke Departemen Pendidikan Nasional, Pusat Perbukuan (Devisi Penerbitan), Jl. Gunung Sahari Raya (Eks. Kompleks Siliwangi) Jakarta Pusat 10002.

2. Desa Kaliboja, Kecamatan Paninggaran, Kabupaten Pekalongan, Provinsi Jawa Tengah yang berpenduduk lebih dari 1.750 jiwa dan terhampar di lereng bukit, ternyata menyimpan mutiara terpendam. Mutiara itu adalah Ibu Eriyah. Lewat tangan dingin wanita setengah baya itu, nama Desa Kaliboja mencuat ke tingkat nasional.
Pada tahun 1984, Bu Eriyah mengukir nama desanya melalui prestasi di bidang lingkungan hidup, setelah sukses menangani lahan gersang, kritis, lagi tandus, yang menimpa desanya. Lahan di Desa Kaliboja memang banyak yang kritis disebabkan oleh penebangan pohon secara liar. Akibatnya, sering terjadi tanah longsor.
Dari prestasi tersebut, Ibu Eriyah mendapatkan penghargaan dari pemerintah Indonesia berupa anugerah Kalpataru lewat Menteri Negara Kependudukan dan Lingkungan Hidup.
Pada tahun 1987, kembali Ibu Eriyah mengukirkan nama harum bangsa Indonesia di tingkat dunia. Kali ini beliau berhasil meraih juara dalam lomba pemberantasan buta huruf tingkat dunia. Atas keberhasilannya ini, Bu Eriyah mendapatkan penghargaan “The Nadezdha K. Krupskaya Prize dari UNESCO”, sekaligus mendapat predikat “Tutor Teladan Tingkat Internasional”.
Sangat luar biasa? Ingin lebih komplit kisahnya mengenai Bu Eriyah?
Buku Pemenang Sayembara Penulisan Naskah Buku Bacaan Tahun 2003 yang saya tulis dengan judul “ERIYAH, SANG PRIMADONA DESA KALIBOJA” ini bisa dipesan pada penerbit Rineka Cipta, Jakarta, dengan alamat: Jl. Jend. Sudirman Kav.36-A, Blok-B No.5 Jakarta 10210, atau ke Departemen Pendidikan Nasional, Pusat Perbukuan (Devisi Penerbitan), Jl. Jl. Gunung Sahari Raya (Eks. Kompleks Siliwangi) Jakarta Pusat 10002.

BUNGA-BUNGA DI HALAMAN RUMAH

Oleh Sardono Syarief

“Mira………! Bangun, Mira! Hari sudah sore!”ujar ibu menggugahku.
“E….!”aku menggeliat sambil menguap. “Masih ngantuk, Bu,”ujarku lesu.
“Hus! Sudah sore. Sebentar lagi petang tiba,”dengan suara lirih ibu mengingatkanku.
“Sudah sore. Jam berapa, Bu?”tanyaku seraya membuka kedua kelopak matakku.
“Jam 15.00.”
“Baik, Bu.”
Aku menurut. Aku segera bangkit dari ambin. Kemudian keluar dari kamar, membuntuti ibu.
Seperti biasa, kutuju teras belakang. Kupungut sapu lidi yang berdiri berdampingan dengan kandang kelinci. Kemudian kupenuhi kegiatan rutinku setiap sore, yaitu menyapu halaman depan.
“Srek, srek, srek, srek……!”suara alunan sapu lidi yang bersentuhan dengan daun-daun mangga. Banyak memang daun mangga yang berguguran di depan rumahku sore itu. Rupanya karena tiupan angin kemarau yang cukup kencang, sehingga banyak daun yang tak tahan berpegangan pada rerantingnya. Mereka banyak yang kalah bergelut dengan angin. Mereka patah. Lalu mereka jatuh terkulai di atas halaman berpaving abu-abu.
“Kak!”seru Rita, adikku, yang telah menyusulku dari arah samping rumah. Di tangan kanannya terjinjing sebuah ember plastik kecil berisi air.
52
“Boleh aku menyiram bunga yang Kak Mira tanam?”demikian tanyanya penuh keingainan.
“Oh…..! Kau mau membantu Kakak?”jawabku seraya memperhatikannya.
Rita mengangguk seraya tersenyum.
“Boleh,”ujarku kemudian. “Silakan engkau sirami bunga-bunga itu, Dik. Agar mereka tak layu.”
“Terima kasih, Kak. Semuanya akan aku sirami dengan adil dan merata,”ujar Rita dengan nada gembira.
Aku mengangguk.
“Iya. Tapi hati-hati, ya? Jangan sampai bunganya ada yang berguguran!”
“Baik, Kak,”Rita segera berlalu meninggalkanku. Dengan ember yang telah berisi air tadi, ia mulai menghampiri tanaman bunga yang tumbuh teratur di dalam pot. Di teras depan.
Kini kembali kuteruskan kegiatan menyapuku. Di sela-sela kesibukan menyapu, kulirik Dik Rita mondar-mandir mengambil untuk seterusnya dikucurkan ke dalam pot dengan hati-hati.
“Kak! Lihat, Kak…..!”serunya di sisi bunga dahlia.
Aku berpaling ke arah suara Dik Rita.
“Ada apa, Dik?”tanyaku sambil mendapatkan Dik Rita.
“Ini Kak. Betapa indahnya bunga dahlia merah ini, Kak?”ujarnya dengan nada gembira. Tampaknya Dik Rita senang sekali melihat bunga dahlia yang berseri indah.
“Iya. Indah sekali ya, Dik?”ujarku seraya tersenyum. “ Daun dan bunga-bunga di taman kita ini terlihat segar setelah kausirami tadi, Dik.”
“Maksud, Kak Mira?”
“Seandainya daun dan bunga-bunga itu pandai bicara,”kataku. “Mereka tentu akan mengucapkan banyak terima kasih kepadamu, Dik. Mereka akan berterima kasih kepada seorang anak kecil yang telah mau memberinya minum. Oleh perbuatanmu, kini mereka merasa segar. Mereka merasa lega setelah seharian tadi dahaga menahan panas.”
“Apakah daun dan bunga merasakan haus juga seperti kita, Kak?”tanya adikku yang baru duduk di kelas 2 SD itu polos.
Aku mengangguk,mengiyakan.
“Walaupun cuma daun dan bunga,”demikian kataku. “ Mereka sama seperti kita, Dik. Mereka butuh minum. Mereka butuh air seperti manusia.”
“Apakah benar begitu, Kak?”
“Benar, Dik!”sahutku meyakinkan. “Walaupun mereka cuma tumbuhan,”kataku lebih lanjut. “Mereka juga butuh perawatan, perlindungan, pemeliharaan, juga perhatian dari kita, manusia.”
“Oh…….Jadi, begitu, ya, Kak?”
“Iya!”
Setelah agak lama kami berbincang tentang bunga, dengan segera kami selesaikan lagi tugas menyapu halaman hingga selesai.
Memang demikianlah cara kerja pada keluarga kami. Dalam menyelesaikan suatu pekerjaan, senantiasa ditanggung bersama. Hal ini kami lakukan, supaya pekerjaan tadi bisa cepat selesai. Sehingga beban berat menjadi terasa ringan. Beban lama, terasa menjadi singkat.
Sekarang, tugas menyapu dan menyiram bunga selesai sudah. Kami pun telah selesai mandi. Berdua aku dan Dik Rita duduk-duduk di teras depan seraya menikmati indahnya bunga-bunga di taman.
“Mira, Rita………! Kemari, Nak………!”terdengar ibu memanggil kami dari arah dapur.
“Iya, Bu…!”sahutku mewakili Dik Rita.
Berdua kami segera lari memenuhi panggilan ibu.
“Ada apa, Bu?”tanyaku ingin tahu.
“Ini, kolak bikinan Ibu. Makanlah….!”ibu telah menghidangkan dua mangkok kolak pisang raja untuk kami berdua.
“Wah……….! Terima kasih, Bu,”aku menerimanya dengan senang hati.
Ibu tersenyum senang.
Maka, bersama Dik Rita kolak dari ibu tadi pun segera kami santap dengan lahap.
“Sungguh, betapa sangat nikmat dan segarnya karunia Tuhan bagi umat-Nya,”bisikku di dalam hati***

Puisi-puisi: Sardono Syarief

NENEK TUA KETIKA HUJAN LEBAT

Nenek tua ketika hujan lebat
Gontai sendirian mencari lindungan
Sementara kota tak mau iba
Nenek tua diterkamnya dengan kejam
Baju yang membalut badan dilumatnya sampai kuyup
Badan dingin menggigilkan harapan
Tongkat serta kaleng usangnya hanyut
Oleh derasnya arus hujan

Nenek tua ketika hujan lebat
Melayang jiwanya bersama impian hidup kaya
Yang belum pernah tergapai di kehidupan nyata

Nenek tua ketika hujan lebat
Akhiri hayat menghadap Malaikat.

PAGI-PAGI MENUNGGU PENJUAL NASI

Mbok tua penjual nasi
Datanglah segera engkau ke mari
Apakah mbok tua tak mengerti
Di langit timur mentari kian merambat tinggi?

Mbok tua penjual nasi
Tak sabar kiranya kumenunggumu di sini
Jangan lama-lama kaulayani pembeli di sana
Bisa terlambat nanti sekolahku tiba

Mbok tua penjual nasi
Datanglah besok lebih awal lagi
Agar secepatnya perutku terisi
Tidak seperti pagi ini
Kosong melompong
Lapar menemaniku seharian belajar.

HARAPANKU

Mentari terbitlah cepat
Sinari bumimu agar tak tampak pekat
Singkirkan kabut mendung di gunung
Singkirkan awan hitam di kejauhan
Agar dunia tak gelap
Agar dunia tak hitam
Agar dunia tak jadi basah
Oleh hujan yang kan tercurah

Mentari temani aku ke sekolah
Dengan sinar pagimu yang amat cerah.

L U K A

Semburat merah kakiku berdarah
Luka tersandung batu
Tadi pagi ketika hendak mandi di kali

Semburat merah lukaku kian parah
Luka,
Duh………….!!!!
Kapan kiranya kan sembuh?

Paninggaran-Pekalongan, 2009

MENGARANG, YOK!

Oleh Sardono Syarief

Saya ingin bisa mengarang. Saya juga ingin bisa terkenal seperti Bapak Ahmad Tohari, pengarang asal Banyumas, Jateng itu. Namun saya belum sempat mulai mengarang sekarang. Saya belum ada waktu untuk mengarang sekarang. Gampang besok atau lusa saya akan memulainya. Tepatnya bila telah ada waktu yang pas bagi saya.
Sepenggal kalimat di atas saya dengar langsung dari mulut teman dekat saya. Mendengar itu, aku senang sekali. Karena dengan demikian, berarti dia punya keinginan untuk bisa berbuat mengarang. Lebih-lebih ingin terkenal seperti Pak Ahmad Tohari. Sungguh, saya amat mendukung cita-cita teman saya yang satu ini! Bahkan sampai-sampai saya sempat penasaran ketika pada suatu saat saya tanyakan kepadanya, apakah keinginan untuk mengarangnya telah dia laksanakan atau belum? Ternnyata jawabnya, b e l u m! Katanya belum punya waktu untuk mengarang. Katanya pula selama ini dia belum sempat untuk memulainya. Lantas, kapan engkau akan memulainya? Begitu tanya saya. Sekali lagi dia menjawab, besok atau lusa kalau sudah ada waktu!
Bukankah engkau selalu punya waktu? Bukankah engkau juga telah ada kesempatan untuk mengarang? Hal tersebut telah engkau buktikan dengan banyak ngobrol ngalor-ngidul dengan teman-teman di mana engkau berada? Bukankah jika waktu ngobrolmu tadi engkau isi dengan kegiatan mengarang, berarti engkau telah memiliki banyak waktu untuk berbuat mengarang? Begitu kata saya mengingatkan.
Ah…..! Ngobrol kan lain, jawabnya. Ngobrol kan tidak membutuhkan konsentrasi berpikir sebagaimana jika saya mengarang.
Pandai juga engkau menjawab, balas saya. Namun sekali lagi saya ingatkan, jika engkau punya keinginan untuk bisa mengarang, kok tidak pernah mau mencobanya dengan waktu yang ada padamu, jangan pernah berharap engkau akan bisa mengarang seperti Pak Ahmad Tohari. Jangan pernah bermimpi engkau akan menjadi pengarang terkenal di negeri ini.
Terus apa yang perlu saya kerjakan sekarang? Tanya teman saya tadi.
Jawab saya ringan, mengarang, mengarang, dan mengaranglah sejak sekarang! Gantikan waktu ngobrolmu dengan kegiatan mengarang. Dua jam waktu untuk ngobrol, jika engkau ganti dengan mengarang, engkau akan menghasilkan tulisan berpuluh-puluh kalimat. Bahkan mungkin telah tercipta sebuah cerita pendek atau beberapa judul puisi sebagaimana tulisan yang engkau minati. Bagaimana?
Ya, okelah….! Mulai sekarang saya akan menuruti saran kamu. Saya akan mengambil pena dan kertas untuk mulai mengarang sekarang. Karena benar apa kata kamu, kegiatan mengarang tidak akan pernah terlaksana jika saya enggan memulainya sejak sekarang. Terlebih kalau saya masih cinta pada ngobrol ngalor-ngidul. Tentu cita-cita untuk jadi pengarang terkenal akan sangat jauh dari impian saya.
Bagus! Kataku. Daripada engkau ngobrol yang tak ada manfaatnya, yok bersama-sama kita mengarang sejak sekarang!***

ULURAN TANGAN

Oleh Sardono Syarief

“Kak…..!”
Aku menoleh ke arah datangnya suara.
“Saya minta, Kak!”lelaki kecil dekil itu menadahkan tangannya kepadaku.
“Kau siapa?”seraya memperhatikan anak lelaki tadi, aku bertanya.
“Saya Ihsan, Kak,”jawabnya setengah tersendat. “Saya lapar sekali, Kak,”sambungnya memelas.
“Duduklah!”perintahku kepada anak lelaki yang berumur sekitar 10 tahunan itu dengan ramah.
Siang itu matahari sangat terik. Debu-debu kota beterbangan dihembus angin. Udara terasa gerah. Sambil menunggu datangnya bus yang menuju ke kampungku, sengaja aku memesan semangkok bakso. Di tempat aku menuggu pesanan bakso yang dijual di pinggir jalan itulah Ihsan datang menghampiriku.
“Tolong, buatkan satu mangkok lagi, Pak!”pintaku kepada Pak penjual bakso untuk Ihsan.
“Baik, Mas,”sahut Pak penjual bakso sambil memperhatikan anak yang duduk di sisiku.
“Pulangmu ke mana, San?”tanyakku berbasa-basi.
“Ke Tegal, Kak,”sahut Ihsan sambil menyeka keringat yang berleleran di kening dan kedua pipinya.
“Lho, kok jauh amat?”ujarku kaget.
“Iya, Kak,” Ihsan meyakinkan.
“Dari Tegal sampai ke Pekalongan ini dengan siapa, San?”
“Sendirian saja, Kak.”
“Kalau begitu, ada yang kautuju?”
“Ada.”
“Siapa? Saudara atau Kakekmu?”
“Bukan saudara, bukan pula Kakek, Kak.”
“Jadi?”keningku agak berkerut.
“Saya cuma pedagang asongan saja, Kak.”
“Dagang apa?”
“Kacang gurih, Kak,”Ihsan bangkit dari duduknya. Lalu sejenak dia jongkok. “Seperti ini,Kak!”Ihsan menunjukkan serenteng kacang bungkus plastik.
Aku mengangguk-angguk sembari memperhatikan barang dagangan Ihsan.
“Kok bisa kamu sampai ke kota ini, San?”
“Bisa saja, Kak,”jawabnya agak panjang. “Kan saya pedagang asongan yang menjual barang selalu di dalam bus, Kak?”
Aku mengangguk, mengiyakan.
“Nah! Ceritanya tadi, sebelum saya sempat turun dari bus di sekitar terminal Tegal, bus sudah mulai tancap gas. Hingga sampailah saya tiba di sini ini, Kak.”
“Kalau begitu, daganganmu sudah banyak yang laku terjual, bukan?”
Ihsan menggeleng. Kedua bola matanya mulai merebak.
“Belum satu bungkus pun yang terjual, Kak,”ujarnya dengan suara tersendat akibat menahan air mata yang siap meleleh di kedua pipinya. “Itu pula sebabnya, saya tidak dapat membeli nasi untuk makan siang, Kak.”lanjut Ikhasan.
Mendengar itu, aku menarik napas panjang.
“Sekarang, makanlah baksomu itu dulu!”perintahku setelah dua mangkok bakso terhidang di hadapanku.
Anak itu menurut.
Sambil menikmati bakso yang masih terasa panas itu, sesekali aku bertanya.
“Anak sekecil kamu sudah pandai berdagang, San. Apakah kau tidak sekolah?”
“Sekolah, Kak.”
“Kelas berapa?”
“Kelas 5.”
“Kelas 5 sudah pandai mencari uang sambil sekolah,”ujarku datar. “Bagaimana caramu mengatur waktu, San?”
“Caranya,”sahut anak lelaki kecil itu. “Pagi sekolah, siang sepulang sekolah, saya berdagang di terminal bus Tegal sampai sore, Kak.”
“Uang hasil dari berdagang, untuk siapa, San?”
“Sebagian saya berikan Emak. Sebagian lagi saya tabung untuk melanjutkan sekolah tahun depan, Kak.”
“Bagaimana dengan Bapakmu?”
“Bapak telah meninggal tiga tahun silam, Kak. Oleh sebab itu, Emak dan saya bekerja sendiri demi mendapatkan uang untuk makan.”
Mendengar cerita Ihsan, aku sangat terharu. Demi cita-cita untuk bisa melanjutkan sekolah di bangku SMP, anak itu mau bekerja keras. Sementara, banyak anak dari orang tua yang cukup mampu, tak mau tekun dalam menempuh belajar. Kebanyakan dari rumah berangkat, tetapi tidak sampai di sekolah. Ke mana sajakah mereka?
“Ihsan! Terimalah ini untuk menambah jumlah tabunganmu!”
Anak itu dengan malu-malu menerima uluran tanganku.
“Terima kasih, Kak,”ucapnya senang. “Tuhan, mesti dengan apakah saya dapat membalas kebaikan Kakak yang satu ini?”
“Tidak usah banyak berpikir!”ujarku. “Kakak cuma minta balasan darimu, berupa wujud nyata dari cita-citamu yang cukup gemilang itu saja, San.”
“Melanjutkan sekolah, Kak?”
“Iya!”
“Saya akan senantiasa berjuang semampu saya, Kak,”janji anak itu penuh cita-cita.
Sementara itu, bus yang menuju ke kota kecamatanku telah tiba. Ihsan kutinggal sendiri setelah sebelumnya dia mengucapkan kata terima kasih berulangakali. ***

Sardono Syarief, Ketua Agupena Kab. Pekalongan, JatengWinter

GIGI OMPONG KAKEK ODONG

Oleh Sardono Syarief

Kakek Odong adalah tetangga dekat Vina. Orangnya lucu. Usianya sudah lebih dari separoh baya. Tubuhnya tegar. Gesit gerak-geriknya. Namun giginya telah ompong semua.
Kakek Odong suka main tebak-tebakan. Lelaki tua itu juga suka humor dengan anak-anak. Termasuk dengan Vina dan teman-temannya.
“Kalau memang Kakek orang pandai, coba saya tanya, Kek?”ucap Vina pada suatu sore. Saat itu Vina dan kawan-kawan ramai berkumpul di teras depan rumah Kakek Odong.
“Silakan! Mau tanya apa kamu?”tantang Kek Odong.
“Apa rahasianya agar bisa panjang umur, Kek?”
“Oh, itu? Mudah! Kecil………!”
“Kecil yang bagaimana maksud, Kakek?”
“Agar umur bisa panjang, tentu saja harus ditarik-tarik,”demikian jawab Kakek Odong seenaknya.
“Ah, Kakek ini mengada-ada saja!”kilah Vina geli.
“Sekarang saya yang tanya, Kek!”sela Dhestya. “Kakek pasti tak bisa menjawab.”
“Coba, silakan!”tantang Kakek Odong tegas.
“Apa rahasianya, agar bila berjalan, sepatu tak berbunyi?”
“Oh, itu mudah lagi!”sahut Kakek Odong sambil mencibirkan bibir tuanya.
“Coba, tebak! Apa jawabnya, Kek?”desak Dhestya.
“Kalau berjalan, sepatunya harap dilepas. Tentu tak akan berbunyi. Ya kan?”ucap Kakek Odong sekenanya. Tawa Kakek tua itu terkekeh-kekeh.
Mendengar jawaban Kakek Odong tadi, Dhestya jadi ikut tertawa geli.
“Betul tidak jawaban Kakek, Dhes?”
“Betul sekali, Kek,”sahut Dhestya mengamini pendapat Kakek Odong.
“Sekarang saya yang tanya, Kek!”usul Widi.
“Silakan, Wid!”
“Apa rahasianya,agar orang selalu punya banyak uang , Kek?”tanya anak perempuan kelas 5 SD itu seraya tersenyum.
Pipi peot Kakek Odong pun tampak ikut tersenyum.
“Itu gampang,”katanya.
“Coba tebak, Kek! Apa jawabnya?”desak Widi ingin segera tahu.
“Jawabnya,”sahut Kakek Odong. “Orang tersebut harus bisa bikin uang sendiri. Betul, tidak?”
“Salah, Kek!”masih tukas Widi.
“Terus, betulnya bagaimana?”tanya Kakek Odong ingin tahu.
“Orang tersebut harus terus tidur di kasur uang, Kek.”
“Ha,ha,ha,ha…! Mana ada kasur uang, Wid?”tawa Kakek Odong di sela gigi ompongnya.
“Ada saja, Kek,”sahut Widi tegas.
“Di mana?”Kakek Odong penasaran.
“Di bank-bank, Kek.”
“Wah, kamu ini mengada-ada saja, Wid. Tidak lucu!”tukas Kakek Odong tak mau kalah.
“Sekarang giliran saya yang bertanya, Kek,”sela Lia.
“Silakan, Lia!”jawab Kakek Odong tenang.
“Mengapa burung hantu kalau malam hari tidak pernah tidur, Kek?”
“Kau ini lucu, Lia!”ucap Kakek Odong. “Sudah tahu burung hantu, ya kalau malam tidak tidur. Kalau tidur, bukan burung hantu, namanya.”
“Lantas, apa namanya, Kek?”
“Namanya burung merpati.”
“Kok bisa, Kek?”sela Reni.
“Ya, bisa,”jawab Kakek Odong. “Burung merpati kalau malam tidur. Sebab, mencari makanannya di siang hari. Sebaliknya, burung hantu kalau malam tak pernah tidur. Ia terbang ke sana ke mari untuk mencari makan. Betul tidak, Lia?”
“Betul, Kek!”sahut Lia puas.
“Satu lagi pertanyaan dari saya, Kek!”tambah Reni bersemangat.
“Ya. Silakan, Reni!”ujar Kakek Odong sambil membawa senyum kemenangan.
“Mengapa sebabnya, udara tak kelihatan, Kek?”
“Kalau kelihatan, kamu tentu akan lari ketakutan, Reni.”
“Mengapa sebabnya, Kek?”
“Sebab, kau pasti akan takut terkena terjang udara yang menggumpal-gumpal, Reni,”jawab Kakek Odong. “Betul tidak jawaban Kakek, Reni?”
“Tidak, Kek!”sahut Reni, Lia, Dhestya, Widi, Vina, dan teman-teman lain bersamaan.
“Lalu, betulnya bagaimana, Reni?”
“Kalau udara kelihatan,”sahut Widi mewakili teman-temannya. “Bisa jadi mata kita terganggu untuk melihat gigi ompong Kakek Odong. Betul tidak, Kawan-kawan?”
“Ya, betul………!”sahut teman-teman Widi yang lain serempak. Ramai.
“Hus….! Awas, kamu! Meledek, ya?”seru Kakek Odong seraya mengacungkan kepal ke arah Widi dan teman-teman.
Melihat adegan tersebut, larilah anak-anak meninggalkan Kakek Odong di rumah sendirian.***

Paninggaran-Pekalongan, 2009

DEMI SESAMA

Oleh Sardono Syarief

Hari sudah siang. Misa di gereja sudah selesai. Oleh Mama dan Papa, aku diminta pulang ke rumah sendiri.
“Christin! Mumpung berada di sini. Mama dan Papa akan menjenguk Om Petrus di rumah sakit. Engkau pulang sendiri ya?”demikian kata Mama begitu kami keluar dari gereja.
“Iya, Ma. Christin tak apa-apa,”jawabku seraya tersenyum.
“Jangan lupa berdoa! Agar kau selamat sampai di rumah Christin!”tambah Papa mengingatkan.
“Baik, Pa! Christin akan senantiasa berdoa,”
Papa maupun Mama tersenyum lega. Setelah mencium kedua pipiku secara bergantian, mereka pun berlalu meninggalkanku sendirian di depan gereja.
Tak berapa lama dari itu, meluncur mikrolet dari arah utara. Mobil omprengan itu melintas di jalan raya depan gereja.
“Kota, kota, kota…..!”teriak-teriak kernet menawarkan kepada setiap orang yang berdiri di pinggir jalan.
“Kota, Om!”panggilku seraya melambaikan tangan.
Mobil berhenti. Aku segera melompat ke dalam mikrolet. Tak lebih dari satu menit kemudian, mobil pun bergerak meneruskan perjalanan.
Selang setengah jam dari itu, mobil tiba di kota.
“Kota habis, kota habis….!”Om Kernet memberitahukan kepada penumpang yang ada di dalam mobil.
“Kiri, Om!”pintaku pada Om Kernet.
“Ya, kiri, Pir…….!”Om Kernet meminta Pak Sopir agar menghentikan laju mobilnya ke tepi jalan.
Mobil berhenti. Aku segera turun. Demikian pula penumpang lain. Tampaknya banyak pula yang turun mengikutiku.
“Cristin! Sebelum tiba di rumah, dengan uang Mama, jangan lupa kaubeli buah pir dan apel merah ya! Masing-masing 2 kg,”kubaca pesan singkat Mama yang tertulis di Hpku.
“Ya, Ma!”sambil melangkah menuju penjual buah, kujawab SMS Mama tadi dengan singkat.
Setiba di penjual buah langganan Mama, aku tidak banyak menawar. Seperti biasa, sang penjual memilih kemudian membungkuskan buah pesananku.
“Mau pesan apa lagi, Nak Christin?”tanya Ibu penjual buah langganan Mama tadi dengan ramah.
“Untuk sementara, ini dulu, Bu. Gampang lain waktu Christin ke sini lagi,”jawabku seraya tersenyum ramah pula.

“Oh, ya? Terima kasih ya, Nak?”
“Ya, sama-sama, Bu. Permisi….!” sahutku sambil melangkah meninggalkan Ibu penjual buah.
Sementara itu matahari tampak menggelantung di atas langit. Panasnya bagai membakar kulit. Udara seakan hilang, tak mau bertiup untuk mengurangi rasa sengat matahari. Sehingga gerah yang aku rasakan makin tak tertahankan. Terlebih keringat membanjir di sekujur tubuh. Ouw….! Sungguh bukan kepalang rasa gerah di badan ini!
“Nak, minta, Nak….! Nak, saya minta……..!”seorang perempuan renta menengadahkan tangannya ke arahku dengan tiba-tiba.
Kulirik sepintas orang tua tersebut.
“Wouw…..! Mengenaskan sekali keadannya!”kata hati kecilku. “Kulit orang tua itu penuh keriput. Rambutnya sudah banyak yang putih lagi tak terurus. Jalannya bungkuk dan agak sempoyongan. Untuk menahan keseimbangan tubuhnya, nenek renta itu berpegangan pada tongkat kayu tua. Pakaian yang dikenakan pun compang-camping lagi sudah lusuh. Rupanya perempuan tua tadi adalah seorang pengemis yang benar-benar perlu ditolong.”
“Nak. Tolong, Nak! Nenek sudah lapar sekali. Sejak kemarin Nenek belum makan. Tolong, Nenek diberi, Nak!”pinta perempuan tua itu lagi penuh memelas.
“Nek. Uang Christin sudah habis. Ada sedikit untuk ongkos pulang,”kataku. “Bagaimana kalau Nenek aku beri buah pir dan apel ini saja? Apakah Nenek mau?”
“Buah apa itu, Nak?”dengan pandangan kosong, nenek renta tadi bertanya.
“Buah pir dan apel, Nek.”
“Buah pir dan apel?”
“Ya, Nek. Apakah Nenek mau?”
Sambil mengangguk senang, perempuan renta itu menjawab,”Ya. Nenek mau saja, Cah ayu…”
“Baik, Nek. Ini separo untuk Nenek! Separonya lagi untuk Christin bawa pulang ya?”ujarku seraya mengulurkan kedua macam buah yang masih asing bagi nenek renta tadi.
“Ya. Terima kasih, Nak ! Terima kasih,”nenek tadi amat senang rupanya. Rahut mukanya terlihat ceria. Buah dariku tadi segera ia kantongi ke dalam plastik hitam. Kemudian dibawanya berteduh di bawah pohon beringin yang tumbuh rindang di halaman kantor sebuah bank swasta. Untuk seterusnya ia nikmati buah pir dan apel tersebut dengan lahap.
Sementara itu, dengan menumpang mobil angkota, aku pun segera pulang. Setiba di rumah, sambil menunggu Mama dan Papa pulang dari rumah sakit, kukerjakan pekerjaan rumah yang ringan-ringan. Misal mengiris bawang merah, menggoreng tempe, dan mencuci piring.
Belum lama pekerjaan ringan kuselesaikan, Mama dan Papa pun pulang. Aku menyambutnya dengan senang hati.
“Selamat siang, Mama….Papa …!”
“Siang, Nak….!”sahut Mama dan Papa bersamaan.
“Sudah pulang Ma, Pa?”
“Sudah, Tin,”jawab Mama.
“Bagaimana kabar Om Petrus, Ma, Pa?”
“Oleh dokter, Om Petrus dinyatakan sudah sembuh. Besok boleh pulang,”Papa menjelaskan.
“Oh! Syukurlah kalau begitu, Pa!”ujarku turut senang.
“Kau jadi beli buah pir dan apel tidak, Tin?”tanya Mama begitu menikmati istirahat siangnya.
“Jadi, Ma,”sahutku seraya menghampiri Mama yang duduk-duduk santai di ruang tengah bersama Papa. “Tapi, Christin mohon maaf, Ma,”lanjutku.
“Lho! Memangnya kau kenapa?”dengan nada setengah kaget, Mama bertanya sambil memandangku lurus-lurus.
“Buah pir maupun apel Mama tinggal sedikit, Ma,”sahutku agak cemas. Jangan-jangan Mama marah.
“Memangnya, kau kemanakan?”Papa ikut menyahut.
“Christin berikan kepada Nenek tua peminta-minta, Pa. Nenek tua yang sangat butuh uluran tangan dari kami.”
Mendengar penjelasanku, Papa mengangguk-angguk, mengerti.
“Bagaimana, Mama?”tanyaku.
Mama tersenyum.
“Untuk sesama, “ujar Mama lembut. “Demi kebahagiaan bersama, “lanjutnya. “Mama sangat senang buah pir maupun apel Mama engkau berikan kepada Pengemis tua itu, Christin, Bahkan Mama dan Papa merasa bangga punya anak penderma seperti kamu. Mama senang. Mama rela, seandainya semua buah Mama itu engkau berikan kepada Nenek tua tadi, Chris.”
“Betul, Ma? Mama tidak mengapa pada Christin?”
“Mama bangga punya anak sepertimu, Christin! Mama rela membagikan yang Mama punya kepada sesama,”ujar Mama sekali lagi sambil memeluk erat pundakku.***
.

GARA-GARA SINETRON

Oleh: Kak Sardono Syarief

Seminggu menjelang ulangan umum semester genap tiba, Bu Nur mengingatkan Laila, anaknya.
“Laila, akhir-akhir ini Ibu lihat kau jarang sekali belajar. Bukankah tes ulangan umum semester sudah hampir tiba?”
“Benar, Bu. Kenapa?”sahut Laila seenaknya. Anak perempuan kelas 5 SD itu tampak tak begitu acuh terhadap teguran ibunya. Perhatiannya tetap tertuju ke layar TV.
“Tentunya kau harus rajin belajar, Laila. Semua ini agar nilai rapotmu memuaskan.”
“Ala, Ibu!”sahut Laila merajuk. Mukanya bersungut. “ Bukankah sudah dari kelas satu dulu Laila selalu dapat ranking pertama?”timpal anak perempuan itu menyepelekan ibunya. “Mengapa Ibu mesti mengejar-ngejar Laila untuk belajar, sih?”
Bu Nur, ibu Laila, tampak kecewa. Ibu setengah baya tadi menarik nafas dalam-dalam. Sesaat dari itu, dengan sabar Bu Nur berkata lagi.
“Ibu hanya mengingatkanmu saja, Laila. Siapa tahu, akibat kau malas belajar, nilai rapotmu merosot?”
“Ibu tak usah khawatir!” tangkis anak yang berambut pendek itu menepis kata-kata ibunya. “Laila pasti akan dapat ranking pertama. Nilai Laila pasti akan memuaskan, Bu,”sanggahnya lagi sembari tak sedikit pun melepaskan perhatiannya ke acara sinetron. Sebuah acara yang menjadi kesukaan anak itu sejak pertengahan bulan lalu.
“Kalau Ibu peringatkan tidak mau, ya sudah. Toh hasilnya kau sendiri yang akan menanggung akibatnya, Laila……..”
“Tenang, Bu! Tenang…!”
Bu Nur diam. Ditinggalkannya Laila sendiri di hadapan TV, di ruang tengah. Kembali ibu setengah baya itu ke dapur untuk meneruskan masaknya sebagai buka puasa petang nanti.

Sejauh itu, Laila semakin larut dalam acara sinetron bersambung yang diikutinya. Anak perempuan itu tampak kian tak mempedulikan peringatan ibunya. Hingga tak disadari, kalau ternyata sehari lagi tes semester genap sudah segera tiba.
“Laila,”kata ibunya.
“Ya, bu?”sahut Laila tak acuh.
Petang itu ibu dan anak tadi berada di ruang tengah, di depan layer TV.
“Besok tes semester bakal kauhadapi. Ibu minta tinggalkan dulu acara sinetron yang kauikuti tiap petang itu, Laila!”
“Maksud, Ibu?”
“Belajarlah! Agar kau dapat naik kelas dengan prestasi memuaskan.”
“Ala,Ibu! Peduli amat sih pada Laila!”rajuk Laila dengan nada tinggi.
Bu Nur diam. Dibiarkannya saja apa yang dikehendaki Laila. Ibu separoh baya itu merasakan kalau anaknya benar-benar kian bandel.
Sementara, tes ulangan umum semester genap pun telah berlalu. Sebelum tiba liburan panjang, anak-anakmenerima rapot. Begitu pula Laila.
“Laila. Ibu lihat wajahmu begitu murung. Apakah kau tidak naik kelas? Atau nilai rapotmu ada merahnya?”seusai makan siang Bu Nur bertanya.
Ditanya demikian, Laila tak menjawab. Hanya air matanya saja yang mulai merebak di kedua bola matanya yang kian memerah.
“Kenapa? Kau tidak naik kelas, ya?”desak ibunya ingin tahu.
Laila menggeleng lesu.
“Mana rapotmu? Coba,Ibu lihat!”desak Bu Nur sekali lagi.
Dengan gerakan tak semangat, Laila mengulurkan buku rapot yang ia ambil dari dalam tas sekolahnya.
“Ini,Bu….”
Bu Nur sangat terkejut begitu melihat nilai yang tertera pada rapot Laila. Di dalam rapot tersebut ternyata terdapat dua nilai merah. Nilai yang belum pernah sekali pun diraih oleh Laila sejak kelas satu dulu. Dengan demikian, bukankah perolehan ranking satu beralih ke teman Laila?

“Nah, sekarang baru kaurasakan, Laila!”komentar Bu Nur di hadapan anaknya. “Kini nilai rapotmu sangat turun. Rankingmu pun sangat merosot. Dengan perolehan ranking tujuh, apakah kau tidak malu terhadap teman-temanmu,Laila? Untung kau masih bisa naik ke kelas 6. Kalau tidak, apa jadinya? Apa komentar teman-temanmu?”
Laila tertunduk diam. Air matanya benar-benar telah meleleh, mengalir lewat kedua pipinya yang montok.
“Maafkan Laila, Bu,”ujar Laila di tengah isaknya. “Laila yang bersalah. Selama ini Laila memang tak mau mempedulikan nasihat baik Ibu. Laila menyesal. Laila tidak akan tenggelam ke dalam acara sinetron lagi, Bu. Laila kapok. Laila akan rajin belajr kembali, Bu.”
Sembari berujar demikian, Laila merebahkan kepalanya ke pangkuan Bu Nur, ibunya.
Mendengar kata penyesalan anaknya, hati Bu Nur pun merasa terharu. Dielus-elusnya dengan lembut rambut di kepala Laila. Bagi Laila tak ada yang bisa diperbutnya lagi, kecuali janji untuk tidak mengulangi kesalahannya yang lalu.
Mulai saat itu, hanya sesekali Laila menyaksikan acara sinetron di layar televisi. Ia mulai giat belajar lagi. Karena tahun depan ia tidak ingin mengalami kesulitan dalam menghadapi ujian akhir semester berstandar nasional (UAS-BN).

DOMPET SAKTI PAPA
Oleh Kak Sardono Syarief

Setiap kali bepergian, Papa selalu membawa dompet. Kadang dompet itu dimasukkan ke dalam saku celana bagian belakang.Kadang disimpan di balik jok sepeda motor. Entah Rani tak tahu apa alasan Papa membawa dompet kulit bila setiap pergi. Yang Rani tahu, dompet Papa selalu berisi uang cukup banyak.
“Sudah siap, Rani?”tanya Papa. Pagi yang cerah itu, Papa hendak mengajak Rani membeli peralatan sekolah ke kota.
“Sudah, Pa,”jawab Rani singkat. “Kita berangkat sekarang, Pa?”
“Mau tunggu siapa lagi, Rani?”balas Papa. “Kan tadi Mamamu bilang, tidak akan ikut?”
“Kenapa Mama, Pa?”
“Mama tak mau boncengan bertiga. Mama khawatir jok motor Papa tak muat.”
“Ha,ha,ha,ha…! Mama, Mama…! Mama maunya berduaan dengan Papa saja,ya?”ledek Rani.
“Siapa bilang?”sahut Mama seraya menata piring untuk sarapan pagi di meja.
“Rani, Ma.”
“Nah, Rani sendiri kan yang bilang? Bukan Mama?”kilah Mama tak mau kalah.
“Sudah, sudah…!”potong Papa. “Ayo, kita sarapan dulu! Baru nanti kita berangkat, Rani.”
Papa segera menyendok nasi ke piring. Mama juga. Demikian pula Rani. Rani mengambil sepucuk centong nasi dan seiris tempe goreng.
“Kok sedikit amat makanmu kali ini, Rani?”tegur Mama. “Kenapa?”
“Tak apa-apa,Ma. Rani sudah kenyang, kok!”
“Mau diajak ke kota. Jadi tak doyan makan, ya..?”ledek Papa seraya tersenyum.
“Memang begitu, Pa,”timpal Rani jujur.
Papa maupun Mama tertawa.
“Nah, ketahuan,kan?”sahut Mama.“Gara-gara mau diajak ke kota, kau tak doyan makan.”
“Ah, Mama..!”Rani tersipu.
Usai sarapan, Papa segera menghidupkan sepeda motornya.
“Rani! Ayo, berangkat!”panggil Papa dari halaman depan.
“Sebentar, Pa!”seru Rani seraya lari mendekat Papa.
“Rani dan Papa pergi dulu ya, Ma!”pamit Rani pada Mama
“Berangkatlah hati-hati,Rani,”balas Mama yang ikut mengantar Rani sampai di teras depan.
Pelan-pelan Papa melarikan sepeda motornya menyusuri jalan raya ke arah timur. Tak begitu cepat memang. Papa tak biasa ngebut seperti anak muda.
Di kejauhan mata memandang, tampak matahari mengintai lari Papa dan Rani. Ia timbul tenggelam dari balik dedaunan pinggir jalan.
Kurang lebih baru setengah perjalanan, di depan tampak ramai orang berkumpul.
“Ada apa, Pa?”tanya Rani ingin tahu.
“Ada tilang,”jawab Papa.
“Apa tilang itu , Pa?”tanya Rani masih dari boncengan Papa.
“Pengecekan bukti pelanggaran kendaraan bermotor oleh Polisi Lalulintas.”
“Oh…,”Rani paham.
“Kiri,Pak!”perintah Pak Polisi Lalulintas pada Papa sambil memberikan isyarat agar Papa menghentikan sepeda motornya ke pinggir jalan.
Papa menurut.
“Maaf. Selamat pagi, Pak!”salam Pak Polisi kepada Papa.
“Selamat pagi kembali, Pak,”balas Papa tenang.
“Mana surat-surat motornya, Pak?”pinta Pak Polisi selanjutnya.
Papa segera merogoh kantong saku celana bagian belakang. Tak ada surat-surat yang ditemukan. Kemudian berpindah ke balik jok sepeda motor, juga tak ada.
“Aduh! Maaf, Pak! Dompet saya tertinggal di rumah,”ujar Papa setelah tak berhasil menemukan semua surat yang ditanyakan Pak Polisi.
“Kalau begitu, silakan Bapak pulang untuk mengambilnya! Sementara, sepeda motor Bapak tinggal di sini dulu!”
“Lho, rumah saya ini jauh, Pak! Mana mungkin saya harus pulang dengan jalan kaki?”ujar Papa beralasan.
Tapi rupanya Pak Polisi tak mau tahu.
“Pa, Rani punya dompet,”bisik Rani ke telinga Papa.
“Dompetmu tak berisi surat-surat sebagaimana yang dimaksudkan Pak Polisi, Rani,”jawab Papa lirih.
“Sebenarnya Pak Polisi meminta surat-surat apaan sih, Pa?”
“SIM dan STNK”
“SIM dan STNK itu apa, Pa?”
“Surat Izin Mengemudi dan Surat Tanda Nomor Kendaraan.”
“Oh!”mulut Rani setengah menganga. “Apakah tanpa kedua macam surat itu, motor Papa akan tetap ditahan Polisi, Pa?”
Papa mengangguk, mengiyakan.
“Kalau begitu, mari kita pulang dulu untuk mengambil dompet Papa!”
“Apakah dompetmu isi uang untuk ongkos naik angkot, Rani?”
Rani mengangguk, “Isi, Pa.”
Akhirnya Papa dan Rani pulang.
“Lho! Kok sudah pulang? Di mana sepeda motor Papa?”sambut Mama kaget bercampur banyak tanda tanya.
“Ditilang Polisi,Ma,”adu Rani begitu tiba di dekat Mama.
“Memangnya Papa tak membawa dompet?”
“Tidak. Papa lupa membawanya,”jawab Papa. “Tadi pagi ketika Papa ganti celana,”sambung Papa. “Dompet itu tidak Papa pindahkan sekalian ke celana yang Papa kenakan sekarang. Jadi, dompet tersebut tertinggal,Ma.”
“Kalau begitu, dompet Papa sakti sekali ya, Ma?”sela Rani ingin keyakinan.
“Maksud Rani?”tanya Mama.
“Dengan dompet itu, sepeda Papa akan terbebas dari tilang Pak Polisi.”
Mendengar ucapan Rani tadi, membuat Papa dan Mama jadi tertawa geli.
“Bukan! Bukan dompet Papa yang sakti, Rani! Melainkan surat-suratnya,”kata Papa meluruskan pendapat Rani.
Dari penjelasan Papa tadi, Rani jadi mengerti.
Maka,”Ayo, sekarang kita pergi lagi untuk mengambil sepeda motor, Rani!”ajak Papa kemudian.
“Sekaligus jalan-jalan ke kota ya, Pa?”pinta Rani mengingatkan Papa.
“Jangan khawatir!”kata Papa mantap.
“Ah! Gara-gara dompet sakti Papa tertinggal, acara ke kota jadi tertunda ya, Pa?”sindir Mama untuk Rani.
Papa mengangguk sembari tersenyum. Demikian pula Mama. ***

Kak Sardono Syarief
Penulis cerita dan puisi anak-anak, pengurus Agupena Kab.Pekalongan