Telah terbit buku kumpulan cerita anak terbaru “Seuntai Kalung Emas” karya Sardono Syarief, Ketua Umum Agupena Kabupaten Pekalongan yang sehari-hari aktif sebagai pengajar, pendidik, serta menulis cerita anak-anak untuk anak didiknya di sekolah.
Buku setebal 100 halaman yang berisi kisah teladan mengenai sikap, budi pekerti positip, serta berkarakter terpuji oleh para tokoh ceritanya ini sangat cocok dimiliki dan dibaca oleh setiap siswa SD/MI atau orang-orang tua dan guru sebagai pelengkap cerita pengantar tidur atau berkisah di depan kelas.
Buku terbitan akhir tahun 2011 yang dihiasi dengan 14 illustrasi menarik ini dibandrol dengan harga Rp 25.000,-. Bagi peminat bisa pesan langsung ke penerbitnya, CV. Cipta Prima Nusantara Semarang, dengan alamat Sukorejo RT 03/RW 01 Gunungpati, Semarang, atau via e-mail: ciptaprimanusantara@gmail.com, Hp 081326393554. Berminat? Silakan kontak alamat tersebut di atas!
BAJU PRAMUKA
Oleh Sardono Syarief
“Kloneng, kloneng, kloneng….!”lonceng yang tergantung di dekat pintu kantor guru memanggil anak-anak yang sedang istirakhat untuk kembali masuk ke ruang kelas masing-masing.
Sabtu siang itu pelajaran di kelas 6 SDN 02 Lumeneng adalah Seni Budaya dan Keterampilan (SBK). Bu Isti, guru kelasnya mengisi mata pelajaran tersebut dengan berbagai tanya jawab sehubungan dengan akan diberangkatkannya regu pramuka ke bumi perkemahan bulan Agustus mendatang.
“Selamat siang, Anak-anak!”demikian ujar Bu Isti ketika tiba di kelas. “Siapa di antara kalian yang masih ingat, tanggal berapa diperingatinya hari pramuka, Anak-anak?”
“Tanggal 14 Agustus, Bu!”jawab semua anak serempak.
“Bagus! Bagus! Kalian masih ingat betul, rupanya!”kata Bu Guru Isti memuji.
“Memangnya ada apa, Bu?”tanya Rijo sambil berdiri dari tempat duduknya, ingin tahu.
Sembari tersenyum simpul, Bu Is menjawab,“Untuk memperingati hari lahirnya pramuka tersebut, kita akan mengadakan kemah.”
“Kita akan berkemah, Bu?”tanya Mulyo dengan nada gembira.
“Ya, kita akan berkemah selama tiga hari, Anak-anak,”sahut Bu Guru Is dengan mantap.
“Di mana itu, Bu?”sela Reni.
“Di lapangan Siwedus-Desa Paninggaran.”
“Oh, desa di sebelah utara desa kita ini bukan , Bu?”potong Imah dengan kening berkerut-kerut. Ia membayangkan, betapa jauhnya jarak desa tersebut dari desa tempat tinggalnya.
Bu Guru Isti cuma mengangguk, mengiyakan.
“Kapan kiranya kita akan berangkat ke bumi perkemahan, Bu?”Leni ikut bertanya.
“Hari Jumat, bulan Agustus, minggu kedua.”
“Kalau Jumat berangkat, lantas hari apa kita pulang, Bu?”Ifiharti menyela.
“Senin pagi.”
“Jadi berapa hari kita ada di bumi perkemahan, Bu?”masih tanya Ifiharti.
“Sekitar tiga hari.”
Suasana kelas hening sejenak. Anak-anak tampak larut dalam pikirannya masing-masing.
“Kira-kira berapa anak dari sekolah kita yang akan diberangkatkan, Bu?”tanya Aryo memecah keheningan.
“Dari kelas 4, lima anak. Kelas 5, lima anak. Selainnya dari kelas 6, yaitu 20 anak. Jadi, ada berapa anak jumlah semuanya, Anak-anak?”
“Tiga puluh anak, Bu!”seru Sri dengan segera.
“Ya. tiga puluh anak,”ujar Bu Isti mengulang kalimat Sri.
“Lantas, akan dijadikan berapa tenda dan berapa regu, Bu?”masih tanya Sri.
Bu Isti tidak segera menjawab. Sejenak beliau mengolah pikir. Selang dua detik kemudian,”Kita jadikan tiga tenda, dan kita bagi menjadi enam regu.”
“Baik, Bu,”sela Aryo. “Apakah anak kelas 6 dari SD sini harus ikut semua, Bu?”lanjut si ketua kelas tadi meminta kejelasan.
“Ya. Semua harus ikut. Kecuali yang sakit!”jawab Bu Guru Is tegas.
Usai berkata demikian, diamlah Bu Is untuk menunggu pertanyaan teman Aryo yang lain. Suasana tanya jawab tampaknya berlangsung lama hingga siang.
***
Matahari tepat di atas kepala, ketika anak-anak pulang dari sekolah. Siang itu cuaca panas sekali. Udara terasa amat gerah. Gersang! Tenggorokan kering karena haus, sempat memaksa empat anak lelaki mampir ke gubug Ratman untuk meminta air putih. Keempat anak itu antara lain; Aryo, Rijo, Mulyo, dan Rudin.
“Permisi, Mbok! Ratman ada di rumah, Mbok?”salam Aryo dengan sopan.
Nenek tua yang di tangannya sedang menjahit baju pramuka usang itu, segera menjawab.
“Oh, ada, Nak, ada…! Mari silakan masuk!”dengan tergopoh-gopoh nenek tua yang ternyata ibu Ratman menyilakan Aryo dan kawan-kawan masuk.
Aryo dan ketiga temannya menurut. Mereka duduk di lincak bambu di sudut gubug tua warisan almarhum ayah Ratman.
Sementara itu, ibu Ratman segera menuju ke ruang tengah untuk mendapatkan Ratman, anak tunggalnya.
“Man! Itu ada kawan-kawanmu datang. Cepat temui mereka!”kata-kata ibu Ratman.
Ratman menurut. Anak lelaki yang murah senyum itu keluar menemui tamunya.
“Hai, Man! Kenapa empat hari ini engkau tak pernah masuk sekolah? Sakitkah engkau?”demikian Aryo bertanya panjang.
“Ya! Kenapa, Man?”tambah Rudin.
Ratman diam membisu.
“Sebenarnya sakit sih tidak, Nak,”jawab Mbok Ratman menerangkan. “Ratman cuma bingung. Sehari-hari ia hanya menangis saja. Gelisah dan tak mau makan.”
“Lho! Memangnya kenapa, Mbok?”dengan nada cukup kaget Rijo menyahuti.
“Ratman takut dimarahi gurunya, Nak. Sebab lusa ia tidak bakal bisa mengikuti kemah.”
“Kenapa memangnya, Mbok?”Mulyo ikut bertanya.
“Sebab Ratman tidak punya seragam pramuka yang pantas pakai, Nak. Lagipula ia tidak punya uang saku untuk bayar iurannya. Untuk itu Ratman pilih mogok sekolah.”
Mendengar penuturan tersebut, keempat kawan Ratman kaget seketika. Ada rasa haru bercampur iba di hati mereka. Oleh sebab itu untuk sesaat suasana jadi hening.
“Maaf, Mbok,”ujar Aryo memecah keheningan. “Untuk urusan seragam maupun uang saku, tak usah Embok maupun Ratman pikirkan,”sambung si anak orang kaya di desanya itu penuh janji. “Kami semua nanti yang akan mencarikan jalan keluar bagi kesulitan Ratman, Mbok.”
” Betul, Mbok! Kami semua nanti yang akan mencarikan jalan keluar! Yang penting kau bersiap diri, Man. Besok lusa kau akan kami jemput untuk ikut kemah. Bagaimana?”tambah Rudin meyakinkan.
“Tapi….!”sambil tengadah memandang Rudin, Ratman membuka mulut.
“Tapi apa…?”
“Baju seragam dan uang saku, begitu?”sahut Aryo cepat.
Ratman mengangguk.
“Kau tak usah khawatir, Man! Tinggal berangkat! Semua urusan kami. Bagaimana?”
Ratman mengangguk lagi.
“Sudah. Kalau begitu, kami pulang dulu. Lusa kau kami jemput,”demikian Aryo berkata mantap.
***
Angin dingin masih terasa menggigil mengusap kulit. Kabut putih masih terlihat menyelimuti puncak gunung Slamet. Burung prenjak masih terdengar ramai kicaunya di dedahan cengkeh.
Pagi itu anak-anak SDN 02 Lumeneng berbondong-bondong berangkat ke bumi perkemahan dengan berjalan kaki. Mereka berjalan di sepanjang pematang sawah sambil bernyanyi-nyanyi riang. Hingga tak terasa jalan turun-naik mendaki perbukitan telah jauh ditempuhnya.
“Ayo, kita nyanyi terus! Ayo, Man, kita nyanyi terus untuk menghibur kesedihan hati! Kita semua pramuka, harus senantiasa gembira! Pantang sedih, pantang menyerah!”demikian seru Aryo di tengah-tengah anak lainnya.
Mereka terus melangkah ke arah utara sambil terus bertepuk tangan. Lagu ‘Di Sini Senang di Sana Senang’ terus mereka dendangkan. Hingga tak terasa mereka tiba di tempat tujuan. Aryo dan kawan-kawan merasa senang. Demikian pula Ratman.***
Sardono Syarief
Jl. Raya Domiyang No.116
Paninggaran-Pekalongan 51164
Puisi “PEKALONGAN, KOTA SANTRIKU”
Nek, dulu kau berkata
Pekalongan bakal menggema ke mana-mana lewat kota santrinya,
Pekalongan bakal terkenal di jagad internasional
Eriyah, sang primadona desa kaliboja,
Ari Yustisia Akbar, sang jawara olimpiade kimia tingkat dunia,
Siapa yang tak kenal?
Nek, kini terbukti sudah
Pekalongan telah banyak berubah
Sinar kotanya menerangi kegelapan berjuta jiwa rakyat yang ada
Cahyanya menghangatkan suasana kehidupan umat beragama
Apalagi kini, Pekalongan di bawah pimpinan ibu Bupati
Kemajuan pembangunan muncul di sana-sini
Pekalongan makin maju oleh banyak dosen dan guru
Yang siap mengatasi ketertinggalan pengetahuan dan ilmu
Nek,aku yakin, bila besok kau telah pulang dari Jedah
Tentu Nenek akan betah tinggal bersama Ibu Qomariyah
Bupati Pekalongan yang telah banyak membawa berkah
Nek, sungguh aku sangat senang
Tinggal di pekalongan, kota santriku yang amat tenang…..
Paninggaran, 20 Agustus 2008
Oleh : VIRDHA ANGGYTA
Kelas VI SDN 01 Paninggaran
Pekalongan 51164
DI BAWAH JEMARI HUJAN
Oleh Sardono Syarief
Hujan masih saja turun dengan deras. Di mana-mana tampak basah. Semua orang gelisah menanti hujan reda. Sejauh itu, beberapa anak lelaki belasan tahun saling lari menyerbu calon penumpang bus yang basah diguyur hujan.
“Ngojek payung, Pak?”tawar Nano kepada seorang Bapak berkumis tipis yang sedang berteduh di sudut terminal.
Bapak yang ditawari mengangguk.
“Berapa, Dik?”tanyanya ramah.
“Murah, Pak. Cuma seribu rupiah,”jawab Nano sopan.
“Oh, ya? Sini, Dik!”
“Ke mana, Pak?”Nano mendekat. Tubuh anak itu tampak menggigil kedinginan.
“Ke jalur bus jurusan Bandung,”Bapak yang berkemeja putih tadi menjawab sembari tersenyum.
“Oh,ya! Mari, Pak!” Nano mengulurkan setangkai payungnya kepada Bapak tadi.
“Terima kasih, Dik,”sahut Bapak setengah baya tadi sambil menerima payung dari tangan Nano.
Selang sesaat, dengan berpayung milik Nano, Bapak yang bertubuh agak gendut tadi melangkah menuju bus jurusan Bandung. Sementara itu Nano jalan mengiringi Bapak tadi dengan berhujan-hujanan.
Siapa sih Nano itu?
Nano adalah salah seorang anak lelaki di antara sekian anak pengojek payung di terminal bus induk Cirebon. Ia bertubuh sedang, berkulit sawo matang, dan berambut lurus. Nano merupakan anak tunggal Mak Darniyah yang kini sudah lama hidup menjanda. Adapun Pak Surip, ayah Nano, sudah meninggal sejak anak itu baru berumur dua tahun.
“Ini payungnya, Dik!” begitu tiba di salah satu bus jurusan Bandung, Bapak yang diantar tadi mengulurkan payungnya kepada Nano. “Ini uang sewanya!” selembar uang lima ribuan berpindah ke tangan Nano.
“Terima kasih, Pak,”Nano menerima uang tersebut dengan senang hati. “Ini kembaliannya,Pak!”anak itu mengulurkan kelebihan uang kepada Bapak yang berpenampilan rapi tadi.
“Tak usah! Untuk kamu saja!”kata Bapak tadi dengan tulus.
“Pak……..!”seru Nano tak habis mengerti. Mulut anak itu sedikit menganga.
“Sudah ambil saja untuk kamu! Bapak ikhlas kok,”kata Bapak tadi seraya tersenyum.
“Tapi, Pak….?”
“Sudah ambil saja!”potong Bapak tadi mantap.
“Kalau begitu, terima kasih sekali, Pak.”ucap Nano dengan hati berbunga-bunga.
Bapak tadi mengangguk. seraya meninggalkan Nano. Lalu masuk ke dalam bus.
Usai itu, Nano pun melangkah menuju tempat temannya berkumpul, di teras depan terminal. Namun sebelum anak itu tiba pada tempat tujuan, tiba-tiba terdengar ada suara yang memanggilnya.
“Hai, Pengojek payung!”
Nano berpaling ke arah sumber suara. Pandangan anak itu menangkap seorang Ibu muda dari sudut terminal melambai-lambaikan tangan kepadanya.
“Sini!”seru Ibu muda tadi kepada Nano.
Melihat itu, Nano segera mendekat.
“Saya,Bu?”
“Iya,”balas Ibu tadi ramah. “Tolong Ibu antarkan, ya!”pinta Ibu tadi penuh harap.
“Ke mana, Bu?”
“Ke bus jurusan Pekalongan, ”sahut Ibu muda tadi sambil tersenyum.
“Mari, Bu!”
“Berapa sewa payungnya, Dik?”tanya Ibu tadi sebelum melangkah.
“Murah, Bu. Cuma seribu rupiah saja, kok,”jawab anak kelas 5 SD tadi seraya tersenyum.
“Wah, kok mahal amat, Dik! Apa tak bisa kurang ?”
Nano menggeleng,“Ini tarif umum, Bu. Semua teman juga sekian.”
“Untuk Ibu apa tidak bisa ditawar?”
“Mau Ibu berapa?”
“Kurangi lima ratus, ya?”
Nano diam sejenak untuk mengolah pikir. Tak lebih setengah menit dari itu, dia pun berkata,”Ya sudah, Bu. Ini payungnya!”
“Bagaimana? Bisa?”tanya Ibu muda tadi seraya memperhatikan sikap Nano.
Anak yang ditanya mengangguk Setuju.
“Terima kasih! Mana payungnya?”pinta Ibu muda tadi.
“Ini, Bu!”Nano segera mengulurkan setangkai payungnya kepada Ibu muda tadi.
Tak lama dari itu, melangkahlah Ibu muda tadi dengan diiringi Nano. Seperti biasa, setiap kali mengantar penyewa payung, Nano lebih suka pilih jalan di samping orang yang diantar. Pikir anak itu, lebih baik dirinya yang basah kuyup diguyur hujan daripada orang yang menyewa payungnya ikut basah. Bukankah setangkai payung bila digunakan untuk berdua, bisa berakibat basah pada pundak masing-masing orang yang membawanya?
Sejurus kemudian, Ibu muda tadi telah sampai pada tempat tujuan. Yaitu di jalur bus jurusan Pekalongan, Jawa Tengah.
“Ini.Dik ! Terima kasih, ya…?”selembar uang lima ribuan segera berpindah ke tangan Nano.
“Terima kasih, Bu. Ini kembalinya!”sahut Nano. Anak lelaki itu segera mengulurkan uang kembaliannya.
”Tak usah. Kembaliannya untuk kamu!” seraya tersenyum, wanita berparas cantik tadi berkata.
“Lho, Bu! Sisanya kan masih banyak? ”
“Ya. Ambillah untuk kamu!”
Nano melongo. Heran bercampur senang. Sama sekali dia tak pernah menyangka kalau siang itu akan datang dua kali rezeki nomplok kepadanya.
“Bu…….!”mulut Nano menganga.
Ibu muda tadi tetap tak mau menerima uang kembaliannya. Bahkan segera berlalu dari Nano.
Dari pengalaman tersebut, Nano sangat bersyukur kepada sang Pencipta.
“Tuhan! Terima kasih atas kemurahanMu !”kedua tangan anak itu tengadah tinggi-tinggi ke langit. ***
KAWAN BARU (2)
Oleh Sardono Syarief
Kami semua diam memperhatikan anak lelaki yang berdiri di sisi kiri Bu Linda.
“Tentu kalian tahu,”lanjut Bu Guru Linda kemudian. “Kedatangan kawan baru kalian ini adalah untuk menimba ilmu di sekolah kita. Tepatnya di kelas 3A bersama kalian. Oleh sebab itu,”tambah Bu Guru. “Ibu berharap, semoga kalian bisa menerima anak ini dengan baik.”
“Oh…., jangan khawatir, Bu!”sela Bahtiar, si ketua kelas 3A, dengan tiba-tiba. “Kami semua bakal menerimanya dengan tangan terbuka, Bu. Betul tidak, Teman-teman…?”Bahtiar berdiri sambil berpaling kanan-kiri, ke arah kawan-kawan.
“Betul, Bu! Betul!”sahut teman-teman serempak.
“Lebih-lebih Andini, Bu!”sela Jayanti sambil melirikku. “Ia sudah sangat ingin kenal dengan anak yang berdiri di sisi Bu Guru,”sambung anak berhidung mancung itu bercanda.
“Hush…!”kedua mataku melotot ke arah Jayanti. Kucubit keras-keras lengan kanan anak itu sampai menjerit kesakitan.
“Aduuuuuuh….!”anak itu terlihat nyengir.
“Ada apa Jayanti?”perhatian Bu Linda beralih ke arah Jayanti.
“Tidak ada apa-apa, Bu!”sahut Jayanti gugup. “Siku saya terbentur sudut meja, Bu!”cewek berkulit sawo matang itu mencari alasan sekenanya.
“Rasakan, kau…!”ucapku lirih kepada Jayanti, anak yang duduk tepat di bangku depanku.
“Uuuhhh, kamu!”balas Jayanti seraya seketika mencubit lenganku. Namun karena cubitannya tak sekeras cubitanku, aku pun tidak mengaduh kesakitan.
“Maaf, Bu!,”sela Hendri sambil mengacungkan telunjuk kanan dari tempat duduknya.
“Ya?”pandangan Bu Guru Linda beralih kea rah Hendri, anak lelaki yang duduk sebangku dengan Bahtiar.
“Kalau kami boleh tahu,”demikian ujar Hendri. “Siapa nama kawan baru kami yang berdiri di sisi Bu Guru itu, Bu?”
Sebelum menjawab, Bu Guru tersenyum.
“Tolong, kaukenalkan dirimu, Nak!” perintah Bu Guru yang masih muda tadi kepada murid barunya.
“Terima kasih, Bu,”sahut anak lelaki berambut ikal yang sejak tadi berdiri di sisi kiri Bu Linda sambil tersenyum.
Bu Linda mengangguk, memberikan isyarat agar anak lelaki tadi segera memperkenalkan diri.
“Teman-teman,”ucap kawan baru kami tadi agak malu-malu. “Kenalkan, nama saya, S. Ardhana,”lanjutnya. “Teman-teman boleh memanggil saya ‘Ardhana’. Asal saya dari Pekalongan kota, teman-teman. Bersekolah di sini karena mengikuti Ayah yang
bertugas sebagai Camat di kota kecamatan ini. Untuk itu saya sangat berharap, semoga teman semua bisa menerima saya sebagai kawan baru di kelas 3A ini.”
“Maaf, Sobat!”potong Bahtiar menyela dari tempat duduknya.
Ardhana berpaling ke arah Bahtiar.
“Ya?”sahut Ardhana memberi kesempatan.
“Pada bagian depan namamu,”ujar Bahtiar. “Tertulis huruf S. Kiranya singkatan dari kata apakah huruf S tersebut, Ar?”rupanya Bahtiar ingin tahu lebih jauh.
“Ooooh, itu?”Ardhana tersenyum. Kali ini suaranya terdengar mantap penuh percaya diri. “Huruf S yang terdapat di depan nama saya,”ucap Ardhana. “Adalah kependekan dari kata Syaiful. Jadi, nama lengkap saya, Syaiful Ardhana.”
“Oooohhh…!”semua teman berseru, paham.
“Bagus benar nama anak tersebut. Sebagus anaknya,”pujiku dalam hati. “Senang kurasa bila bisa berkenalan dengan dengan anak ini.”
“Maaf, Ardhana!”tiba-tiba Melati angkat bicara.
Pandangan anak berhidung mancung dan bermata belalak itu lurus-lurus ke arah Melati.
“Ada apa, Kawan?”tanya Ardhana ramah.
“Kiranya apa hobimu, Ar?”tanya Melati singkat.
“Hobiku?”Ardhana tersenyum. “Apa ya….?”anak itu menoleh ke kanan-kiri, Pandangannya merayap ke seisi kelas. “Wah, banyak sekali, Kawan,”demikian ucap Ardhana.
“Apa saja, misalnya, Kawan?”desak Melati ingin tahu.
“Misalnya,”jawab Ardhana. “Baca puisi, menulis cerita maupun berita sekolah, main drama, main gitar dan musik, dan lain-lain seperti yang Kawan-kawan sukai.”
“Wah, kalau begitu sama dong dengan hobi rekan di sebelahku ini! Betul tidak, Kawan-kawan?”pandangan Melati menyapu seisi ruang kelas.
“Betul, betul….!”sahut semua rekan ramai seraya mengeroyokku dengan tatapan
mata mereka.
“Cocok sekali hobimu dengan hobi Andini, Ar!”sela Jayanti berkomentar. “Maka, dengan adanya pasangan sejoli ini,”tambah Jayanti lagi. “Saya yakin,”lanjutnya. “Majalah sekolah kita bakal semakin maju.”
“Apa alasanmu, Jayanti?”tanyaku, Andini, penuh rasa penasaran.
“Karena ditangani oleh dua rekan yang berhobi sama, maka akan maju pesatlah majalah sekolah kita. Ya tidak, Teman-teman?”
“Ya…! Kami sependapat denganmu, Jayanti…..!”sahut kawan lainnya ramai.
“Untuk itulah,”potong Hendri. “Kita bakal bisa mewujudkan impian dalam memajukan majalah sekolah,”ujar anak lelaki itu lebih lanjut. “Setujukah kalian bila kita sambut dan kita dukung pasangan Ardhana dan Andini ini , Kawan-kawan?”
“Setuju……..! Setuju………!”sahut semua rekan ramai, hingga terdengar gaduhlah suasana di dalam kelas.
Sementara, setelah suasana kembali reda, Bu Linda pun meneruskan komentarnya.
“Anak-anak.”
Kami semua pasang mata dan telinga, memperhatikan apa yang akan diutarakan Bu Guru.
“Seperti Andini, Jayanti, Melati, Bahtiar, dan masih banyak yang lainnya lagi,”lanjut Bu Linda. “Di sekolah yang ditinggalkan, peranan Ardhana ini hampir sama seperti kalian. Yaitu, kecuali rutin menulis puisi dan cerita, Ardhana juga menulis berita sekolah untuk majalah dinding maupun majalah sekolahnya, Anak-anak. Betul tidak, Ardhana?”Bu Linda berpaling ke arah Ardhana.
“Ya, betul,Bu!” sambil tersenyum, Ardhana mengangguk.
“Nah, oleh sebab itu, “tambah Bu Guru yang berpenampilan lincah itu. “Kami dari pihak sekolah menyatakan senang atas kedatanganmu ke sekolah ini, Ardhana. Sebab dengan adanya kamu bersekolah di sini,”lanjut Bu Guru. “Berarti jumlah penulis dan wartawan sekolah kita jadi bertambah banyak. Benar tidak, Anak-anak?”
“Ya, benar, Bu…….!”sahut kami serempak.
“Nah, sekarang,”ucap Ibu Wali Kelas 3A tadi. “Silakan kamu duduk di bangku paling belakang bersama, Syarief, Ar!”
“Baik, terima kasih, Bu,”Ardhana menurut. Dia segera mengambil duduk tak jauh dari tempat dudukku.
Usai itu, Bu Linda ke luar kelas, meninggalkan kami.
(bersambung)
KAWAN BARU
Oleh Sardono Syarief
Jam 06.30, aku, Jayanti, Melati, Bahtiar, dan Romi tiba di kelas 3A. Kelas tempat kami menuntut ilmu dari bapak-ibu guru. Kelas tempat berkumpulnya para penulis dan wartawan majalah sekolah “AKSI”. Majalah bulanan yang diterbitkan oleh SMPN 1 Paninggaran, tempat sekolah kami.
Meski hari masih pagi, ternyata banyak sudah rekanku yang datang lebih awal. Entah apa yang diperbincangkan, mereka ada yang terlihat asyik ngobrol di bangku dekat taman. Ada pula yang ramai bercanda di teras depan kelas. Pemandangan seperti itu terlihat pula pada rekan-rekan di kelas lain.
“Hai, Andini!” sapa Melati, teman sebangkuku menyambutku datang.
“Haaaaiiii…!”balasku seraya menaruh tas di bangku. “Apa kabar, Kawan?”sembari tersenyum kuulurkan tangan kepada Melati.
“Kabar baik, Sobat.”
“Baik untuk semua, apa hanya untukku?”
“Untuk semua baik. Untukmu, bahkan sangat baik!”
“Maksudmu?”tanyaku penasaran.
“Kita bakal punya kawan baru. Dia pindahan dari Pekalongan kota,”ujar Melati penuh semangat.
“Siapa dia, Mel?”sambil mengambil duduk di sisi kiri gadis hitam manis itu, aku bertanya.
“Entahlah,”jawabnya. “Yang jelas, dia seorang cowok ganteng,” sambungnya. “Kata Bu Guru Linda, anak itu sangat cocok buat pasangan kamu, An!”
“Hush! Jangan ngawur begitu!”ujarku kaget. “Kapan Bu Guru bilang seperti itu?”
“Kemarin siang, saat kau meliput kunjungan Pak Bupati di SMAN 1 Paninggaran.”
“Apa saja yang dibicarakan Bu Linda di depan kelas kemarin siang, Mel?”
“Bu Guru bilang,”jawab Melati seraya melirikku. “Anak itu penuh simpati seperti kamu. Warsek, lagi!”
“Maksud Bu Linda?”
“Kata Bu Linda,”ujar teman sebangkuku dengan sabar. “Cowok itu sangat pandai membawa diri,”sambungnya. “Dia pandai bergaul, ramah, supel, lagi penuh sopan santun seperti kamu, An.”
Aku mengangguk-angguk senang, karena pujian Bu Linda sebagaimana yang dikatakan Melati tadi.
“Lantas, apa itu Warsek, Mel?”tanyaku penasaran.
“Warsek?”kedua bola mata Melati melebar. “Kau tak tahu arti kata itu, An?”
Aku mengangguk lugu.
“Idiiiihhh, telmi banget sih kamu, An!”cewek genit tadi tak yakin akan pengakuanku yang polos.
“Iya,ya…? Kebangetan banget aku ya, Mel?”kataku sembari mengangguk-angguk. “Memang aku telat mikir untuk istilah yang satu ini, Mel,”layaknya anak kecil, aku mengangguk kalah. Memang saat itu sama sekali aku belum tahu akan arti kata warsek tersebut.
“Oh, begitu?”Melati tersenyum heran.
Aku diam memasang telinga.
“Warsek, ya wartawan sekolah dong…,”kata Melati menjelaskan. “Kamu wartawan sekolah bukan, An?”
“Oh…! Bodoh amat aku!”kupukul-pukulkan jari telunjuk kanan pada dahiku dua tiga kali.
Melihat sikapku yang lucu, Melati jadi tertawa geli sendiri.
“Bagaimana? Sudah tahu?”tanya Melati begitu reda dari tawanya.
“Sudah, sudah…!”jawabku datar. “Lalu, kapan kawan baru kita bakal datang, Mel?”
“Kata Bu Guru Linda,”jawab Melati sambil membetulkan ujung rambutnya yang tergerai menutup mata. “Hari ini anak tersebut bakal tiba, An. Dia bakal mulai masuk menjadi murid kelas 3A bersama kita.”
“Ya, sudah. Kalau begitu, kita tunggu sampai dia datang,”kataku sambil menyimpan rasa ingin segera tahu sosok cowok yang disebut-sebut Melati tadi.
Sementara itu, dari atas tiap-tiap pintu kelas terdengar bel listrik berdering,”Tuuuuut………Tuuuuuuuuuuutttt……! Tuuuuuuuuuutttttttttt……!”
Kami semua segera berhamburan. Saling berlari memasuki kelas masing-masing. Satu dua rekan yang sedari tadi asyik berbincang di dalam kelas, secepatnya mereka menempatkan diri di bangkunya masing-masing.
Tak lama dari itu, masuklah Bu Guru Linda, wali kelasku dengan diiringi oleh seorang anak laki-laki berseragam putih biru ke dalam kelas.
“Selamat pagi, Anak-anak…!”salam Bu Linda penuh wibawa.
“Selamat pagi, Bu…….!”jawab kami serempak.
“Anak-anak,”kata Bu Guru yang berambut pendek itu sembari berdiri di depan kelas. “Seperti yang telah Bu Guru katakan kemarin,”lanjutnya. “Hari ini kalian akan kedatangan kawan baru pindahan dari salah satu SMPN di Pekalongan. Pada pagi ini kawan baru kalian tadi Ibu ajak kemari. Inilah anaknya!”Bu Linda memperkenalkan anak itu seraya tersenyum ramah.
(Bersambung……………..)
BAPAKKU SEORANG PAHLAWAN
Oleh Sardono Syarief
Murid-murid SD Inpres yang terletak di pinggir jalan raya sedang mengadakan upacara bendera.
“Oh, sekarang tanggal 10 November! Hari Pahlawan!” bisik hati lelaki kecil penjual es lilin yang kebetulan lewat di jalan.
Melihat ada upacara peringatan Hari Pahlawan di halaman SD tersebut, Roni, nama lelaki kecil itu tertarik. Ia berhenti sejenak setelah merapat ke pagar halaman sekolah. Di hatinya terkandung maksud ingin dengan khidmat menyaksikan jalannya upacara. Entah perasaan apa yang menyelimuti hati anak itu. Yang jelas, setelah dua tahun mogok kelas 5 SD, Roni tak lagi bisa mengikuti upacara bendera. Upacara yang diselenggarakan setiap hari Senin dan hari-hari bersejarah seperti pagi itu.
“Kenapa basah matamu, Roni?”tanya Usman, teman penjual es lilin yang baru saja tiba di tempat itu. Anak itu heran melihat teman seperjuangannya matanya basah berkaca-kaca.
“Roni, kau kenapa?”desak Usman, ingin segera tahu.
Roni yang merasa berkali-kali ditepuk pundak kanannya oleh Usman, menoleh. Kemudian dengan gerakan bibirnya yang cukup terlihat berat, anak itu menjawab.
“Kau tahu?”
“Tahu apa?”balas Usman bingung.
“Pada hari bersejarah seperti sekarang ini,”lanjut Roni. “Ada suatu peristiwa yang sangat mencekam pikiranku.”
“Maksudmu?”
“Dua tahun yang lalu,”ungkap Roni. “Ketika itu aku masih duduk di kelas 5,”sambungnya dengan suara tersendat. “Persis di hari pahlawan seperti sekarang ini, Bapakku meninggal akibat terlanggar truk di jalan raya.”
“Saat itu Bapakmu dari mana?”
Roni menjawab pertanyaan Usman dengan suara makin tersendat. Gerak bibirnya kian berat. Kedua bola matanya makin basah. Entah sejauh mana peristiwa suram itu kembali terkenang di benaknya.
“Saat itu,”jawab Roni. “Bapakku baru saja pulang dari lapangan. Ia baru mengikuti upacara peringatan Hari Pahlawan seperti sekarang ini. Dengan berkendaraan sepeda genjot, mungkin Bapakku letih. Sepeda yang dikendarainya oleng kemudian roboh di tengah jalan raya.”Roni diam sejenak. “Celakanya,”lanjut Roni tak lama dari itu. “Dari arah berlawanan, ada sebuah truk melaju dengan cepat. Sehingga kecelakaan bagi Bapakku pun tak bisa dihindari.”
Usman menatap Roni dengan pandangan kosong.
“Apakah seketika itu pula Bapakmu meninggal?”tanya Usman dengan perasaan terharu.
“Benar. Seketika itu pula Bapakku meninggal dunia.”
“Ah……..!,”Usman mendesah panjang. Sepertinya ikut hanyut ke dalam peristiwa naas yang dialami oleh Bapak Roni.
“Mungkin parah benar ya, luka yang dialami oleh almarhum Bapakmu, Roni?”
Roni mengangguk, membenarkan.
“Ketika dikuburkan saja,”ucap Roni memberikan gambaran. “Dari kepala Bapakku terus mengucur darah. Kepala Bapakku pecah menjadi empat bagian. Bola mata kanannya hilang. Kaki kirinya putus sebatas lutut. Tulang dadanya remuk menjadi beberapa bagian.”
“Ihh……! Betapa kasihan benar, nasib Bapakmu,Roni?”dengan bergidik Usman menyahuti.
“Itulah sebabnya,”sahut Roni dengan suara makin tersendat.”Bila setiap datang upacara peringatan Hari Pahlawan seperti sekarang ini,”sambungnya.”Ingatanku kembali melayang kepada waktu dua tahun yang lalu,”air mata akibat keharuan yang tiba-tiba muncul kembali di ingatan anak itu menetes deras.
“Sudahlah!”ujar Usman menghibur sahabatnya seraya mendekap pundak Roni erat-erat. “Semoga arwah Bapakmu bisa diterima di sisi Allah, Tuhan Yang Maha Pengampun! Semoga Bapakmu tergolong orang-orang yang beriman. Semoga Bapakmu termasuk mati sahid, mati sebagai pahlawan.”
Sambil melepas dekapan Usman, Roni kemudian menatap Usman dengan pandangan hampa.
“Bapakku termasuk seorang pahlawan?”
Usman mengangguk. Katanya,”Bukankah ketika meninggal dulu Bapakmu seorang HANSIP yang baru saja melaksanakan tugas demi bangsa dan Negara?”
Gantian Roni yang mengangguk.
“Bukankah seseorang yang meninggal dalam keadaan tugas demi bangsa dan negara, bisa dikatakan sebagai seorang pahlawan, Ron?”
“Pahlawan yang mana itu, Us?”sahut Roni dengan hati agak berbunga.
“Ah, aku jadi ingat sekarang!”ujar Usman menghibur Roni.
“Ingat akan apa?”
“Dulu kata Pak Guru sewaktu saya bersekolah,”sahut Usman. “Seseorang yang meninggal seperti Bapakmu,”sambung anak itu. “Orang yang nama-namanya tidak tercantum di makam-makam pahlawan, bisa dikatakan sebagai pahlawan tak dikenal.”
“Kalau begitu, Bapakku seorang pahlawan, Us?”ucap Roni gembira.
“Iya! “dengan penuh semangat Usman meyakinkan hati temannya.
Melihat mimik Usman yang amat meyakinkan itu, hati Roni jadi lega. Kesedihan hati anak itu bisa sedikit terobati.
“Syukur kepadaMu, ya Allah.!”ucapnya sambil menengadahkan kedua telapak tangannya di atas dada.***
PELAJARAN BAGI SI KIKIR
Oleh Sardono Syarief
Sejak kecil Kartono dikenal teman-teman sebagai anak yang amat kikir. Ia tak pernah suka memberi sesuatu kepada teman sepermainannya. Sebaliknya, anak itu hanya mau lagi suka menerima apa pun yang teman-teman berikan kepadanya.
Seperti peristiwa sore kemarin. Saat itu, Kartono sedang menyantap bakso di kedai Pak Amat. Datanglah teman sekelasnya, Harun, menghampiri anak itu. Kedatangan Harun adalah untuk menyampaikan pesan Pak Arif, guru kelasnya. Pak Arif berpesan, sambil berangkat sekolah besok, Kartono supaya mau mampir ke rumah Pak Arif. Beliau mau titip sesuatu untuk dibawakan ke sekolah.
Namun kedatangan Harun sore itu ditanggapi Kartono dengan wajah cemberut. Dia tampak tak suka kalau Harun turut duduk di sisi kirinya. Hati kecil Kartono mengatakan, kedatangan Harun cuma akan mengurangi kenikmatannya dalam merasakan bakso yang dia pesan dari Pak Amat. Karena itu Kartono bersikap tak acuh kepada Harun. Merasa tidak diabaikan, Harun jadi tak enak hati. Itu sebabnya Harun mencoba berbasa-basi.
”Wah ! Enak sekali baksonya ya, Ton? Lezat sekali rasanya!”Harun tersenyum.
Kartono tidak menyahut. Bahkan melirik ke arah Harun sedikit pun tidak. Sehingga Harun benar-benar merasa tersinggung.
“Berlagak amat ini anak?”hati Harun kecewa. “Sampai tega benar mempermalukanku di kedai yang cukup ramai orang ini? Awas kau, Ton! Tahu rasa pembalasanku besok di kantin sekolah,”ancam Harun dengan hati masgul.
Harun pergi meninggalkan Kartono tanpa pamit. Anak itu benar-benar malu oleh perlakuan dan sikap tak acuh Kartono. Sampai akhirnya Harun menilai kalau kepribadian Kartono benar-benar sebagai teman yang amat kikir.
Sore itu hati Harun sungguh kecewa terhadap Kartono. Oleh karena itu, sambil berjalan kaki pulang, ia merencanakan pembalasan apa yang sekiranya setimpal buat Kartono untuk besok pagi di sekolah.
“Oh, ya! Beres, beres…..!”demikian pikir Harun begitu menemukan cara. “Di sekolah, pada jam istirakhat pertama tiba,”sambung Harun dalam hati. “Anak itu akan kuajak ke kantin Bu Mira. Di sana aku berpura-pura yang akan membayarkan semua jajan yang ia makan. Setelah Kartono kenyang, setidaknya setelah bel pertanda istirakhat usai, akan kutinggal Kartono di kantin Bu Mira. Terserah habis makan jajan apa saja, takkan peduli aku! Mau bayar berapa rupiah, tak mau tahu aku! Karena cuma dengan cara seperti inilah tampaknya langkah yang paling tepat untuk membalas sikap Kartono teman kikirku yang satu itu!”
Benar apa yang direncanakan Harun. Keesokan harinya, begitu jam istirakhat pertama tiba, Kartono dipermainkan Harun.
“Ayo, Ton! Kita ke kantin Bu Mira sekarang!”
“Wah, aku tak punya uang, Run,”jawab Kartono sembari menggeleng.
“Tak usah khawatir! Aku punya banyak uang.”
“Malas, ah…!”Kartono tidak mau bangkit dari tempat duduknya, di dalam kelas.
“Jangan begitu! Cepat, mumpung istirakhat belum berakhir.”
Atas bujukan Harun, akhirnya mau jugalah Kartono ke kantin Bu Mira. Berdua mereka menuju kantin yang terletak di sudut pekarangan sekolah. Tiba di sana ternyata masih banyak kawan yang sedang menikmati jajan. Hampir tak ada bangku kosong untuk Harun maupun Kartono. Sehingga keduanya mengambil duduk terpisah agak berjauhan.
Dalam sekejap keduanya telah memungut dan memakan jajan yang mereka suka. Harun menghabiskan 2 potong tempe goreng ditambah semangkok bakso. Sedangkan Kartono, semangkok bakso, 2 kerupuk udang, dan 2 potong tempe goreng.
“Wah, nikmatnya bakso Bu Mira ini ya, Ton?”seraya menepuk punggung Kartono, Harun berujar.
“I, iya, Run…..?”dengan suara gugup, Kartono menyahut sambil berpaling ke arah Harun.
Harun tersenyum.
“Selamat menikmati!”ujar Harun sembari berlalu meninggalkan Kartono di kantin Bu Mira.
“Lho! Kau mau ke mana, Run?”tanya Kartono kaget.
Seraya melangkah pergi, Harun menjawab, “Ke kelas!”
“Bagaimana dengan bakso yang aku makan ini?”Kartono bangkit dari tempat duduknya. Lalu mengejar Harun.
“Ya habiskan saja!”sahut Harun sambil terus berlalu.
“Bukan begitu maksudku, Run!”
“Maksudmu?”tanya Harun setelah menghentikan langkah. Ditatapnya Kartono lurus-lurus.
“Siapa yang mau membayarkan bakso aku?”
“Lha yang menyantap siapa?”
“Aku!”
“Orang yang menyantap itulah yang harus membayar, Ton!”
“Kok bisa begitu?”dahi Kartono berkerut-kerut.
“Ya bisa saja! Mana ada orang yang tidak makan, disuruh membayar?”
“Bagaimana dengan janjimu di kelas tadi, Ton?”
“Aku janji apa?”
“Kau janji akan membayarkan, bukan?”
“Aku tidak pernah janji semacam itu!”tangkis Harun. “Aku hanya bilang, bahwa kau tak usah khawatir. Aku banyak uang!”
“Tapi, tapi, semula aku kan tidak punya niat untuk ke kantin Bu Mira, Run? Karena aku tidak punya uang sepeser pun?”
“Mengapa akhirnya kau mau kuajak juga?”balas Harun membela diri
“Karena kupikir, kau yang akan menjajakan aku , Run.”
“Huuuhhh..! Kartono……! Kartono!”seru Harun sembari menggeleng-gelengkan kepala.
Kartono bingung melihat sikap Harun.
“Jadi orang maunya kok cuma menerima pemberian temannya terus,”lanjut Harun apa adanya. “Mbok sekali-kali aku yang kautraktir, Ton…!”
Kartono diam seribu bahasa. Anak lelaki itu tidak banyak protes. Tampaknya ia ingat betul akan perlakuannya kemarin sore terhadap Harun di kedai Pak Amat.
“Ton!”ujar Harun sembari memegang pundak kanan Kartono.
Kartono menatap Harun.
“Maaf, jika atas sikapku ini kau jadi kecewa hati, Ton!”lanjut Harun. “Kau pasti malu bercampur marah kepadaku. Ini pasti! Sebab, perasaan semacam itu pun pernah aku alami sendiri. Semua itu atas sikapmu kemarin sore ketika tak acuh kepadaku di kedai Pak Amat. Masih ingat peristiwa itukah kau, Ton? Sore itu aku benar-benar malu terhadap banyak orang. Aku benar-benar kecewa kepadamu!”
Kartono lama tidak menyahut. Anak itu menunduk dalam-dalam. Rupanya ia sedang meresapi apa yang dikatakan Harun. Atas wejangan Harun, Kartono benar-benar merasa kapok jadi anak yang berhati kikir!***
—————————–
Kabar Buku
Oleh Sardono Syarief
1. Ari Yustisia Akbar, demikian nama anak laki-laki kelahiran 6 September 1985 di Kajen, Kabupaten Pekalongan, Provinsi Jawa Tengah. Dia adalah salah seorang siswa SMAN 1 Kajen, Pekalongan yang telah sempat membawa nama harum sekolah, diri, dan keluarganya ke kancah Indonesia, bahkan hingga seantero dunia.
Lewat keberhasilannya di dalam mengukirkan tinta emas pada Kompetisi Olimpiade Kimia Tingkat Dunia Tahun 2003 lalu, dia sempat menerima banyak hadiah uang, medali, serta piagam penghargaan yang di antaranya “CERTIFICATE OF PARTICIPATION” dari 35th INTERNATIONAL CHEMISTRY OLYMPIAD (IChO) pada tanggal 5 – 14 Juli 2003 di Athena, Yunani.
Siapakah Ari Yustisia Akbar? Bagaimana sepak terjangnya, sehingga dia sanggup mencuatkan prestasinya yang luar biasa tersebut?
Cerita gamblangnya dapat dibaca pada buku karya saya yang berjudul “ARI YUSTISIA AKBAR, SANG JAWARA OLIMPIADE KIMIA TINGKAT DUNIA”.
Buku Pemenang Sayembara Penulisan Naskah Buku Bacaan Tingkat Nasional Tahun 2004 ini bisa dipesan langsung ke Penerbit MEDIA PUSTAKA, Jakarta, atau kontak ke Departemen Pendidikan Nasional, Pusat Perbukuan (Devisi Penerbitan), Jl. Gunung Sahari Raya (Eks. Kompleks Siliwangi) Jakarta Pusat 10002.
2. Desa Kaliboja, Kecamatan Paninggaran, Kabupaten Pekalongan, Provinsi Jawa Tengah yang berpenduduk lebih dari 1.750 jiwa dan terhampar di lereng bukit, ternyata menyimpan mutiara terpendam. Mutiara itu adalah Ibu Eriyah. Lewat tangan dingin wanita setengah baya itu, nama Desa Kaliboja mencuat ke tingkat nasional.
Pada tahun 1984, Bu Eriyah mengukir nama desanya melalui prestasi di bidang lingkungan hidup, setelah sukses menangani lahan gersang, kritis, lagi tandus, yang menimpa desanya. Lahan di Desa Kaliboja memang banyak yang kritis disebabkan oleh penebangan pohon secara liar. Akibatnya, sering terjadi tanah longsor.
Dari prestasi tersebut, Ibu Eriyah mendapatkan penghargaan dari pemerintah Indonesia berupa anugerah Kalpataru lewat Menteri Negara Kependudukan dan Lingkungan Hidup.
Pada tahun 1987, kembali Ibu Eriyah mengukirkan nama harum bangsa Indonesia di tingkat dunia. Kali ini beliau berhasil meraih juara dalam lomba pemberantasan buta huruf tingkat dunia. Atas keberhasilannya ini, Bu Eriyah mendapatkan penghargaan “The Nadezdha K. Krupskaya Prize dari UNESCO”, sekaligus mendapat predikat “Tutor Teladan Tingkat Internasional”.
Sangat luar biasa? Ingin lebih komplit kisahnya mengenai Bu Eriyah?
Buku Pemenang Sayembara Penulisan Naskah Buku Bacaan Tahun 2003 yang saya tulis dengan judul “ERIYAH, SANG PRIMADONA DESA KALIBOJA” ini bisa dipesan pada penerbit Rineka Cipta, Jakarta, dengan alamat: Jl. Jend. Sudirman Kav.36-A, Blok-B No.5 Jakarta 10210, atau ke Departemen Pendidikan Nasional, Pusat Perbukuan (Devisi Penerbitan), Jl. Jl. Gunung Sahari Raya (Eks. Kompleks Siliwangi) Jakarta Pusat 10002.
BUNGA-BUNGA DI HALAMAN RUMAH
Oleh Sardono Syarief
“Mira………! Bangun, Mira! Hari sudah sore!”ujar ibu menggugahku.
“E….!”aku menggeliat sambil menguap. “Masih ngantuk, Bu,”ujarku lesu.
“Hus! Sudah sore. Sebentar lagi petang tiba,”dengan suara lirih ibu mengingatkanku.
“Sudah sore. Jam berapa, Bu?”tanyaku seraya membuka kedua kelopak matakku.
“Jam 15.00.”
“Baik, Bu.”
Aku menurut. Aku segera bangkit dari ambin. Kemudian keluar dari kamar, membuntuti ibu.
Seperti biasa, kutuju teras belakang. Kupungut sapu lidi yang berdiri berdampingan dengan kandang kelinci. Kemudian kupenuhi kegiatan rutinku setiap sore, yaitu menyapu halaman depan.
“Srek, srek, srek, srek……!”suara alunan sapu lidi yang bersentuhan dengan daun-daun mangga. Banyak memang daun mangga yang berguguran di depan rumahku sore itu. Rupanya karena tiupan angin kemarau yang cukup kencang, sehingga banyak daun yang tak tahan berpegangan pada rerantingnya. Mereka banyak yang kalah bergelut dengan angin. Mereka patah. Lalu mereka jatuh terkulai di atas halaman berpaving abu-abu.
“Kak!”seru Rita, adikku, yang telah menyusulku dari arah samping rumah. Di tangan kanannya terjinjing sebuah ember plastik kecil berisi air.
52
“Boleh aku menyiram bunga yang Kak Mira tanam?”demikian tanyanya penuh keingainan.
“Oh…..! Kau mau membantu Kakak?”jawabku seraya memperhatikannya.
Rita mengangguk seraya tersenyum.
“Boleh,”ujarku kemudian. “Silakan engkau sirami bunga-bunga itu, Dik. Agar mereka tak layu.”
“Terima kasih, Kak. Semuanya akan aku sirami dengan adil dan merata,”ujar Rita dengan nada gembira.
Aku mengangguk.
“Iya. Tapi hati-hati, ya? Jangan sampai bunganya ada yang berguguran!”
“Baik, Kak,”Rita segera berlalu meninggalkanku. Dengan ember yang telah berisi air tadi, ia mulai menghampiri tanaman bunga yang tumbuh teratur di dalam pot. Di teras depan.
Kini kembali kuteruskan kegiatan menyapuku. Di sela-sela kesibukan menyapu, kulirik Dik Rita mondar-mandir mengambil untuk seterusnya dikucurkan ke dalam pot dengan hati-hati.
“Kak! Lihat, Kak…..!”serunya di sisi bunga dahlia.
Aku berpaling ke arah suara Dik Rita.
“Ada apa, Dik?”tanyaku sambil mendapatkan Dik Rita.
“Ini Kak. Betapa indahnya bunga dahlia merah ini, Kak?”ujarnya dengan nada gembira. Tampaknya Dik Rita senang sekali melihat bunga dahlia yang berseri indah.
“Iya. Indah sekali ya, Dik?”ujarku seraya tersenyum. “ Daun dan bunga-bunga di taman kita ini terlihat segar setelah kausirami tadi, Dik.”
“Maksud, Kak Mira?”
“Seandainya daun dan bunga-bunga itu pandai bicara,”kataku. “Mereka tentu akan mengucapkan banyak terima kasih kepadamu, Dik. Mereka akan berterima kasih kepada seorang anak kecil yang telah mau memberinya minum. Oleh perbuatanmu, kini mereka merasa segar. Mereka merasa lega setelah seharian tadi dahaga menahan panas.”
“Apakah daun dan bunga merasakan haus juga seperti kita, Kak?”tanya adikku yang baru duduk di kelas 2 SD itu polos.
Aku mengangguk,mengiyakan.
“Walaupun cuma daun dan bunga,”demikian kataku. “ Mereka sama seperti kita, Dik. Mereka butuh minum. Mereka butuh air seperti manusia.”
“Apakah benar begitu, Kak?”
“Benar, Dik!”sahutku meyakinkan. “Walaupun mereka cuma tumbuhan,”kataku lebih lanjut. “Mereka juga butuh perawatan, perlindungan, pemeliharaan, juga perhatian dari kita, manusia.”
“Oh…….Jadi, begitu, ya, Kak?”
“Iya!”
Setelah agak lama kami berbincang tentang bunga, dengan segera kami selesaikan lagi tugas menyapu halaman hingga selesai.
Memang demikianlah cara kerja pada keluarga kami. Dalam menyelesaikan suatu pekerjaan, senantiasa ditanggung bersama. Hal ini kami lakukan, supaya pekerjaan tadi bisa cepat selesai. Sehingga beban berat menjadi terasa ringan. Beban lama, terasa menjadi singkat.
Sekarang, tugas menyapu dan menyiram bunga selesai sudah. Kami pun telah selesai mandi. Berdua aku dan Dik Rita duduk-duduk di teras depan seraya menikmati indahnya bunga-bunga di taman.
“Mira, Rita………! Kemari, Nak………!”terdengar ibu memanggil kami dari arah dapur.
“Iya, Bu…!”sahutku mewakili Dik Rita.
Berdua kami segera lari memenuhi panggilan ibu.
“Ada apa, Bu?”tanyaku ingin tahu.
“Ini, kolak bikinan Ibu. Makanlah….!”ibu telah menghidangkan dua mangkok kolak pisang raja untuk kami berdua.
“Wah……….! Terima kasih, Bu,”aku menerimanya dengan senang hati.
Ibu tersenyum senang.
Maka, bersama Dik Rita kolak dari ibu tadi pun segera kami santap dengan lahap.
“Sungguh, betapa sangat nikmat dan segarnya karunia Tuhan bagi umat-Nya,”bisikku di dalam hati***